BERITAFAJAR.co – Kabupaten Sumenep, yang berada di ujung timur pulau Madura, Jawa Timur, memiliki beragam tradisi. Berbagai tradisi yang un...
BERITAFAJAR.co – Kabupaten Sumenep, yang berada di ujung timur pulau Madura, Jawa Timur, memiliki beragam tradisi. Berbagai tradisi yang unik dan menarik, selalu ada wilayah daratan maupun di kepulauan Sumenep. Sehingga, tradisi itu, menjadi kekayaan tersendiri bagi kota Sumekar.
Jika selama ini pulau Madura secara umum terkenal dengan tradisi kerapan sapi. Akan tapi berbeda dengan tradisi di Pulau Kangean Sumenep. Di wilayah pulau itu, terdapat sebuah tradisi unik yang berlangsung sejak nenek moyang, berupa kerapan kerbau.
Tradisi kerapan kerbau selain mengadu kecepatan dua pasang kerbau dengan ditunggangi seorang joki, juga menjadi hiburan bagi warga setempat. Biasanya, kerapan kerbau dilakukan ketika menyambut musim panen maupun tanam suatu tanaman pertanian.
Menurut salah seorang pemilik kerbau, Sumadi mengatakan, tradisi kerpan kerbau sudah berlangsung sejak nenek moyang. Puluhan pasang kerbau yang biasa dijadikan sebagai alat mengolah sawah untuk membajak sawah, diadu kecepatannya.
”Setiap kali pertandingan, masing-masing diambil dua pasang kerbau. Kerbau itu, ditunggangi seorang joki sambil menggebber kerbau agar lari kencang dan sampai ke garis finish libih awal agar menjadi pemenang,” tuturnya.
Setiap kali dilaksanakan kerapan kerbau, ratusan warga berdatangan memadati lokasi kerapan kerbau untuk menyaksikan traidisi itu. Sebab, tradisi itu dapat menghibur warga setempat ketika akan tanam maupun saat akan panen pertanian warga. (*)
Editor : Ibnu Toha
Jika selama ini pulau Madura secara umum terkenal dengan tradisi kerapan sapi. Akan tapi berbeda dengan tradisi di Pulau Kangean Sumenep. Di wilayah pulau itu, terdapat sebuah tradisi unik yang berlangsung sejak nenek moyang, berupa kerapan kerbau.
Tradisi kerapan kerbau selain mengadu kecepatan dua pasang kerbau dengan ditunggangi seorang joki, juga menjadi hiburan bagi warga setempat. Biasanya, kerapan kerbau dilakukan ketika menyambut musim panen maupun tanam suatu tanaman pertanian.
Menurut salah seorang pemilik kerbau, Sumadi mengatakan, tradisi kerpan kerbau sudah berlangsung sejak nenek moyang. Puluhan pasang kerbau yang biasa dijadikan sebagai alat mengolah sawah untuk membajak sawah, diadu kecepatannya.
”Setiap kali pertandingan, masing-masing diambil dua pasang kerbau. Kerbau itu, ditunggangi seorang joki sambil menggebber kerbau agar lari kencang dan sampai ke garis finish libih awal agar menjadi pemenang,” tuturnya.
Setiap kali dilaksanakan kerapan kerbau, ratusan warga berdatangan memadati lokasi kerapan kerbau untuk menyaksikan traidisi itu. Sebab, tradisi itu dapat menghibur warga setempat ketika akan tanam maupun saat akan panen pertanian warga. (*)
Editor : Ibnu Toha
KOMENTAR