BERITAFAJAR.co – Masing-masing daerah di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, memiliki potensi masing-masing yang mesti di kembangkan. Sa...
BERITAFAJAR.co – Masing-masing daerah di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, memiliki potensi masing-masing yang mesti di kembangkan. Salah satunya, di Desa Karduluk, Kecamatan Pragaan, memiliki produk lokal yang hasilnya diminati kalangan interlokal.
Desa Karduluk Kecamatan Pragaan merupakan salah satu wilayah yang berada di pesisir selatan Kabupaten Sumenep. Wilayah itu, selain dikenal dengan desa ukiran, yang hasil ukirannya dikirim ke luar daerah bahkan Jakarta, juga dikenal sebagai penghasil gula aren dengan kualitas baik.
Wilayah Karduluk sangat wajar jika kemudian bisa menghasilkan Gula Aren yang banyak diminati. Sebab, di daerah yang berdekatan dengan jalur propinsi itu, terdapat banyak pohon siwalan sebagai penghasil legen, bahan utama gula aren. Meski gula aren di daerah Karduluk hanya produksi rumahan akan tetapi sangat menunjang perekonomian warga setempat.
Bagi masyarakat Karduluk, gula aren dikenal dengan gula merah. Sebab, gula tersebut ketika sudah berwarna merah kecoklatan. Kebanyakan, warga memproduksi hasil kekayaan alam setempat secara tradisional.
Salah satu pengraji Gula Aren, Sutis menuturkan, pohon siwalan telah menjadi sumber mata pencaharian bagi sebagian besar warga Desa Karduluk. Sebab, dari pohon itu bisa menghasilkan tikar, gula aren, dan legen.
”Proses produksi gula aren cukup memakan waktu lumayan lama. Bahkan, dalam satu kali olahan membutuhkan kurang lebih 6 jam hingga siap di pasarkan,” ujar Sutis ketika berbincang dengan wartawan di Sumenep.
Bagi siapapun yang akan membuat gula aren, pertama, air legen yang diambil dari pohon siwalan disaring hingga bersih. Setelah itu, direbus hingga mendidih dan mengental. Nah, pada proses ini harus sering diaduk agar tidak gosong dibagian bawah. Lalu, dituangkan ke dalam mangkok yang telah disediakan.
Sutis mengaku tetap memproduksi gula aren sebagai bagian dari usaha dan warisan dari nenek moyangnya. Ia memproduksi gula aren di dapur kecilnya dengan cara tradisional menggunakan bahan bakar kayu. Yang penting, lanjutnya, bisa menghasilkan gula aren dengan kualitas bagus.
”Produksi gula aren sudah dilestarikan sejak dulu. Rata rata setiap bulan bisa memiliki omset sekitar 4,5 juta. Yang membeli, bukan hanya orang daerah Karduluk, banyak juga orang luar daerah membelinya,” imbuh sutis.
Hasil produksi gula Aren milik Sutis, memang banyak diminati. Misalnya, salah satu pembeli, Marwa mengaku membeli gula aren itu karena enak dan manis, tidak kalah sama gula biasa. Bahkan, dia mengaku sering membeli gula aren untuk oleh- oleh saat ke luar kota.
”Gula aren itu banyak manfaatnya karena bisa menjadi bahan olahan beragam makanan. Selain itu, yang paling penting harganya terjangkau,” tuturnya. (*)
Pewarta : Ibnu Toha
Desa Karduluk Kecamatan Pragaan merupakan salah satu wilayah yang berada di pesisir selatan Kabupaten Sumenep. Wilayah itu, selain dikenal dengan desa ukiran, yang hasil ukirannya dikirim ke luar daerah bahkan Jakarta, juga dikenal sebagai penghasil gula aren dengan kualitas baik.
Wilayah Karduluk sangat wajar jika kemudian bisa menghasilkan Gula Aren yang banyak diminati. Sebab, di daerah yang berdekatan dengan jalur propinsi itu, terdapat banyak pohon siwalan sebagai penghasil legen, bahan utama gula aren. Meski gula aren di daerah Karduluk hanya produksi rumahan akan tetapi sangat menunjang perekonomian warga setempat.
Bagi masyarakat Karduluk, gula aren dikenal dengan gula merah. Sebab, gula tersebut ketika sudah berwarna merah kecoklatan. Kebanyakan, warga memproduksi hasil kekayaan alam setempat secara tradisional.
Salah satu pengraji Gula Aren, Sutis menuturkan, pohon siwalan telah menjadi sumber mata pencaharian bagi sebagian besar warga Desa Karduluk. Sebab, dari pohon itu bisa menghasilkan tikar, gula aren, dan legen.
”Proses produksi gula aren cukup memakan waktu lumayan lama. Bahkan, dalam satu kali olahan membutuhkan kurang lebih 6 jam hingga siap di pasarkan,” ujar Sutis ketika berbincang dengan wartawan di Sumenep.
Bagi siapapun yang akan membuat gula aren, pertama, air legen yang diambil dari pohon siwalan disaring hingga bersih. Setelah itu, direbus hingga mendidih dan mengental. Nah, pada proses ini harus sering diaduk agar tidak gosong dibagian bawah. Lalu, dituangkan ke dalam mangkok yang telah disediakan.
Sutis mengaku tetap memproduksi gula aren sebagai bagian dari usaha dan warisan dari nenek moyangnya. Ia memproduksi gula aren di dapur kecilnya dengan cara tradisional menggunakan bahan bakar kayu. Yang penting, lanjutnya, bisa menghasilkan gula aren dengan kualitas bagus.
”Produksi gula aren sudah dilestarikan sejak dulu. Rata rata setiap bulan bisa memiliki omset sekitar 4,5 juta. Yang membeli, bukan hanya orang daerah Karduluk, banyak juga orang luar daerah membelinya,” imbuh sutis.
Hasil produksi gula Aren milik Sutis, memang banyak diminati. Misalnya, salah satu pembeli, Marwa mengaku membeli gula aren itu karena enak dan manis, tidak kalah sama gula biasa. Bahkan, dia mengaku sering membeli gula aren untuk oleh- oleh saat ke luar kota.
”Gula aren itu banyak manfaatnya karena bisa menjadi bahan olahan beragam makanan. Selain itu, yang paling penting harganya terjangkau,” tuturnya. (*)
Pewarta : Ibnu Toha
KOMENTAR