BERITAFAJAR.co - Tenaga Guru Honorer Kategori 2 (K2) di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur merasakan kecewa karena ketidak jelasan janji...
BERITAFAJAR.co - Tenaga Guru Honorer Kategori 2 (K2) di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur merasakan kecewa karena ketidak jelasan janji pemerintah setempat. Sebab, pemerintah telah berjanji untuk mencairkan intensif guru honorer tapi sampai saat ini belum ada kepastian.
Sejumlah guru menilai, sikap pemerintah dinilai hanya pemberian harapan palsu (PHP) terhadap tenaga guru honorer kategori 2. Oleh Ketua Forum Honorer K2 (FHK-2) Kabupaten Sumenep, Abd. Rahman mengatakan, pemerintah telah berjanji akan mencairkan insentif tiap bulan per awal tahun 2017 ini. Tapi hingga kini, insentif tersebut tetap tidak diterima.
“Siapa pun akan dihormati jika memenuhi janji yang diucapkan,” terangnya, Jumat (13/1/2017).
Menurutnya, penambahan jumlah insentif sebesar Rp 100 ribu, dari 250 ribu menjadi 350 ribu, sudah menjadi angin segar bagi para honorer. Setidaknya hal itu mengurangi beban ongkos menunaikan kewajiban membantu kerja pemerintah, meski kebutuhan keluarga tidak pernah terpenuhi dengan besaran insentif itu.
“Saya tidak tahu apakah ini juga imbas dari keterlambatan gaji pegawai atau bukan. Yang jelas kami ingin agar insentif tersebut segera dicairkan,” desaknya.
Senada dengan salah satu guru honorer yang bertugas di Kecamatan Dasuk, Jufriyanto, kekecewaan itu karena janji pemerintah yang tidak ditepati kepada guru honorer yang hingga saat ini belum menerima insentif tersebut.
“Kami sebenarnya tidak menggantungkan untuk mencukupi kebutuhan dengan insentif ini, karena memang tidak akan mencukupi. Yang menyakitkan adalah karena kami merasa dibohongi,” ujarnya.
Diketahui, Jumlah guru honorer K2 di Kabupaten Sumenep sebanyak 1.401 orang yang tersebar di berbagai kecamatan. Tahun lalu, mereka mendapatkan insentif sebesar Rp 250 ribu tiap bulan, tapi dicairkan per enam bulan.
Tahun ini besaran insentif tersebut dinaikkan menjadi Rp 350 tiap bulan, dan dicairkan per bulan juga.
Hingga berita ini ditulis, sayangnya Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep, A. Sadik, tidak bisa dikonfirmasi. Nomor telelpon yang biasa digunakan, hingga sekarang tidak aktif. (*)
Pewarta : Ahmadi
Editor : Ibnu Toha
Sejumlah guru menilai, sikap pemerintah dinilai hanya pemberian harapan palsu (PHP) terhadap tenaga guru honorer kategori 2. Oleh Ketua Forum Honorer K2 (FHK-2) Kabupaten Sumenep, Abd. Rahman mengatakan, pemerintah telah berjanji akan mencairkan insentif tiap bulan per awal tahun 2017 ini. Tapi hingga kini, insentif tersebut tetap tidak diterima.
“Siapa pun akan dihormati jika memenuhi janji yang diucapkan,” terangnya, Jumat (13/1/2017).
Menurutnya, penambahan jumlah insentif sebesar Rp 100 ribu, dari 250 ribu menjadi 350 ribu, sudah menjadi angin segar bagi para honorer. Setidaknya hal itu mengurangi beban ongkos menunaikan kewajiban membantu kerja pemerintah, meski kebutuhan keluarga tidak pernah terpenuhi dengan besaran insentif itu.
“Saya tidak tahu apakah ini juga imbas dari keterlambatan gaji pegawai atau bukan. Yang jelas kami ingin agar insentif tersebut segera dicairkan,” desaknya.
Senada dengan salah satu guru honorer yang bertugas di Kecamatan Dasuk, Jufriyanto, kekecewaan itu karena janji pemerintah yang tidak ditepati kepada guru honorer yang hingga saat ini belum menerima insentif tersebut.
“Kami sebenarnya tidak menggantungkan untuk mencukupi kebutuhan dengan insentif ini, karena memang tidak akan mencukupi. Yang menyakitkan adalah karena kami merasa dibohongi,” ujarnya.
Diketahui, Jumlah guru honorer K2 di Kabupaten Sumenep sebanyak 1.401 orang yang tersebar di berbagai kecamatan. Tahun lalu, mereka mendapatkan insentif sebesar Rp 250 ribu tiap bulan, tapi dicairkan per enam bulan.
Tahun ini besaran insentif tersebut dinaikkan menjadi Rp 350 tiap bulan, dan dicairkan per bulan juga.
Hingga berita ini ditulis, sayangnya Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep, A. Sadik, tidak bisa dikonfirmasi. Nomor telelpon yang biasa digunakan, hingga sekarang tidak aktif. (*)
Pewarta : Ahmadi
Editor : Ibnu Toha
KOMENTAR