BERITAFAJAR.co - Dunia pesantren saat ini dipandang sebagai benteng kuat moralitas bangsa Indonesia. Keberadaan pesantren sejak masa awal b...
BERITAFAJAR.co - Dunia pesantren saat ini dipandang sebagai benteng kuat moralitas bangsa Indonesia. Keberadaan pesantren sejak masa awal banyak memberi kontribusi bagi bangsa Indonesia.
Sejumlah ulama dan alumni pesantren tampil di garda depan memberikan yang terbaik bagi tatanan sosial-relegius, demokrasi, ekonomi, dan wawasan kebangsaan. Ajaran adiluhung pesantren berupa nilai moral, patriotisme, nasionalisme terus hidup dalam jiwa santri. Kondisi ini menjadi peta bagi kalangan santri untuk terus loyal memberikan pengorbanan yang dibutuhkan oleh bangsa dan negerinya.
"Komitmen luhur dan khazanah yang dimiliki pesantren di Indonesia harus kita jaga," ungkap A. Dardiri Zubairi dalam momentum acara bedah buku "Jejak Intelektual Pendidikan Islam" Karya Zaitur Rahem, M.Pd.I.
Dalam kesempatan ini, pria mantan aktivis mahasiswa PMII ini juga menegaskan, bahwa pesantren saat ini sedang diserang oleh banyak ideologis liberalis. Aroma perang ideologis sangat kentara. Faktanya, saat ini sejumlah tradisi khas pesantren mulai hilang.
Sementara, Zaitur Rahem selaku Penulis mengiyakan tentang fakta gempuran ideologis baru di dunia pesantren. Sehingga, generasi pesantren harus segera kembali kepada khittah pesantren. Yaitu, merawat tradisi namun mengembangkannya menjadi lebih sempurna.
"Tradisi khas pesantren harus tetap ada, namun peradaban sesuai perkembangan zaman tetap menjadi perhatian kita (orang pesantren, Red.),” terangnya.
Mantan Jurnalis yang kini total menjadi Dosen tetap di Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk Sumenep menegaskan, ajaran pesantren bisa memberi warna berkeadaban bagi kehidupan jika mampu diamalkan dengan benar oleh pengikutnya.
Buku yang dia tulis dimaksudkan memotivasi para insan akademis (Mahasiswa, Red) bisa menelaah nilai-nilai moral khas pesantren lewat data historis perjuangan orang pesantren. Salah satunya, perjuangan di ranah menghidupkan kegiatan pendidikan keislaman khas pesantren.
Bedah buku ini digelar di aula mini kampus. Penggagas kegiatan ini adalah HMJ PAI Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk Sumenep. Hadir dalam kegiatan ini, ratusan mahasiswa lintas jurusan di lingkungan Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk Sumenep. Kegiatan ini dibuka langsung oleh ketua jurusan PAI, Achmad Khotib, M.Pd.I. (*)
Pewarta : Ibnu Toha
Sejumlah ulama dan alumni pesantren tampil di garda depan memberikan yang terbaik bagi tatanan sosial-relegius, demokrasi, ekonomi, dan wawasan kebangsaan. Ajaran adiluhung pesantren berupa nilai moral, patriotisme, nasionalisme terus hidup dalam jiwa santri. Kondisi ini menjadi peta bagi kalangan santri untuk terus loyal memberikan pengorbanan yang dibutuhkan oleh bangsa dan negerinya.
"Komitmen luhur dan khazanah yang dimiliki pesantren di Indonesia harus kita jaga," ungkap A. Dardiri Zubairi dalam momentum acara bedah buku "Jejak Intelektual Pendidikan Islam" Karya Zaitur Rahem, M.Pd.I.
Dalam kesempatan ini, pria mantan aktivis mahasiswa PMII ini juga menegaskan, bahwa pesantren saat ini sedang diserang oleh banyak ideologis liberalis. Aroma perang ideologis sangat kentara. Faktanya, saat ini sejumlah tradisi khas pesantren mulai hilang.
Sementara, Zaitur Rahem selaku Penulis mengiyakan tentang fakta gempuran ideologis baru di dunia pesantren. Sehingga, generasi pesantren harus segera kembali kepada khittah pesantren. Yaitu, merawat tradisi namun mengembangkannya menjadi lebih sempurna.
"Tradisi khas pesantren harus tetap ada, namun peradaban sesuai perkembangan zaman tetap menjadi perhatian kita (orang pesantren, Red.),” terangnya.
Mantan Jurnalis yang kini total menjadi Dosen tetap di Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk Sumenep menegaskan, ajaran pesantren bisa memberi warna berkeadaban bagi kehidupan jika mampu diamalkan dengan benar oleh pengikutnya.
Buku yang dia tulis dimaksudkan memotivasi para insan akademis (Mahasiswa, Red) bisa menelaah nilai-nilai moral khas pesantren lewat data historis perjuangan orang pesantren. Salah satunya, perjuangan di ranah menghidupkan kegiatan pendidikan keislaman khas pesantren.
Bedah buku ini digelar di aula mini kampus. Penggagas kegiatan ini adalah HMJ PAI Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk Sumenep. Hadir dalam kegiatan ini, ratusan mahasiswa lintas jurusan di lingkungan Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk Sumenep. Kegiatan ini dibuka langsung oleh ketua jurusan PAI, Achmad Khotib, M.Pd.I. (*)
Pewarta : Ibnu Toha
KOMENTAR