BERITAFAJAR.co – Sejumlah petugas dari Dinas Kesehatan Sumenep, Jawa Timur, menggelar melakukan pengasapan (fogging) di Desa Kalianget Bar...
BERITAFAJAR.co – Sejumlah petugas dari Dinas Kesehatan Sumenep, Jawa Timur, menggelar melakukan pengasapan (fogging) di Desa Kalianget Barat Kecamatan Kalianget. Pengasapan itu, dilakukan guna mengantisipasi penularan penyakit mematikan itu.
Berdasarkan pantauan, dalam pengasapan ini dilaksanakan dengan memulai dari rumah korban meninggal akibat penyakit DBD, Mirza Afifafah (4), putri pasangan Yanto dan Ririn, warga asal Desa Kalianget Barat.
Iibu kandung korban, Ririn mengatakan, anaknya meninggal hari kelima setelah empat hari sebelumnya mengalami tekanan panas. Awalnya dia mengaku tidak menyangka anaknya akan meninggal. Sebab hari kedua sejak menderita sakit, diambil tes sampel darah hasilnya negatif.
BACA JUGA :
Miris, Hanya Lima Puskesmas di Sumenep Baru Terakreditasi
Waspada, Hepatitis Lebih Berbahaya daru HIV/AIDS
Gunakan Bahasa Korea, Petugas Temukan Mamin Mengandung Enzim Babi
”Hanya saja kondisi panasnya masih tetap. Namun karena tidak ada perkembangan pada hari keempat diambil tes sampel darah lagi tetapi tetap saja hasilnya bukan DBD,” terangnya.
Setelah memasuki hari kelima, kondisi korban lemah maka dilakukan dites sampel darah. Pada pelaksanaan tes ke lima itu, dinyatakan positif DBD. Maka, dirawat inap di Rumah Sakit Islam (RSI) Kalianget. Namun, nyawanya tidak tertolong dan meninggal dunia pada 15 Februari 2017.
Sementara itu, petugas fogging dari Dinas Kesehatan Sumenep, Mulyadi mengatakan, pengasapan dilakukan mulai dari titik lokasi rumah korban hingga dua ratus meter di rumah penduduk sekitarnya.
”Pengasapan ini dilakukan untuk mencegah penularan penyakit DBD. Sebab penyakit ini tergolong ganas dan mematikan serta cepat menular,” katanya.
Terpisah, Kabid Pengendalian Masalah Dinas Kesehatan Sumenep, Dwi Regnani menjelaskan, jumlah penderita DBD sejak bulan Januari hingga Februari di Kabupaten Sumenep sebanyak 50 penderita dan satu orang penderita meninggal dunia. (*)
Pewarta : Ahmadi
Editor : Ibnu Toha
Berdasarkan pantauan, dalam pengasapan ini dilaksanakan dengan memulai dari rumah korban meninggal akibat penyakit DBD, Mirza Afifafah (4), putri pasangan Yanto dan Ririn, warga asal Desa Kalianget Barat.
Iibu kandung korban, Ririn mengatakan, anaknya meninggal hari kelima setelah empat hari sebelumnya mengalami tekanan panas. Awalnya dia mengaku tidak menyangka anaknya akan meninggal. Sebab hari kedua sejak menderita sakit, diambil tes sampel darah hasilnya negatif.
BACA JUGA :
Miris, Hanya Lima Puskesmas di Sumenep Baru Terakreditasi
Waspada, Hepatitis Lebih Berbahaya daru HIV/AIDS
Gunakan Bahasa Korea, Petugas Temukan Mamin Mengandung Enzim Babi
”Hanya saja kondisi panasnya masih tetap. Namun karena tidak ada perkembangan pada hari keempat diambil tes sampel darah lagi tetapi tetap saja hasilnya bukan DBD,” terangnya.
Setelah memasuki hari kelima, kondisi korban lemah maka dilakukan dites sampel darah. Pada pelaksanaan tes ke lima itu, dinyatakan positif DBD. Maka, dirawat inap di Rumah Sakit Islam (RSI) Kalianget. Namun, nyawanya tidak tertolong dan meninggal dunia pada 15 Februari 2017.
Sementara itu, petugas fogging dari Dinas Kesehatan Sumenep, Mulyadi mengatakan, pengasapan dilakukan mulai dari titik lokasi rumah korban hingga dua ratus meter di rumah penduduk sekitarnya.
”Pengasapan ini dilakukan untuk mencegah penularan penyakit DBD. Sebab penyakit ini tergolong ganas dan mematikan serta cepat menular,” katanya.
Terpisah, Kabid Pengendalian Masalah Dinas Kesehatan Sumenep, Dwi Regnani menjelaskan, jumlah penderita DBD sejak bulan Januari hingga Februari di Kabupaten Sumenep sebanyak 50 penderita dan satu orang penderita meninggal dunia. (*)
Pewarta : Ahmadi
Editor : Ibnu Toha
KOMENTAR