BERITAFAJAR.co – Setiap usaha yang dilakukan dengan tekun, selalu membuahkan hasil. Prinsip itu, yang selalu dipegang oleh Hairul Anwar, ST...
BERITAFAJAR.co – Setiap usaha yang dilakukan dengan tekun, selalu membuahkan hasil. Prinsip itu, yang selalu dipegang oleh Hairul Anwar, ST. Pria kelahiran 18 Agustus 1980 ini, menekuni bindang kelistrikan sejak tahun 2005 silam.
Atas ketekunan itulah, mampu membawa Hairul Anwar, ST pada puncak kesuksesan, kelistrikan yang dibidanginya semenjak baru menjadi alumni Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya (ITATS), memulai karir kelistrikan di mulai didaerah Ternate, Maluku Utara.
Hairul tidak serta merta bisa meraih kesuksesan. Selain memegang prinsip ketekunan, pengalaman yang dimiliki tidak bisa disepelekan. Hairul Anwar, memulai karir di bidang kelistrikan diawali pemasangan, pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), pekerjaan tersebut dia lakukan dengan tepat waktu.
Sehingga, ia dipercaya mengelolah kelistrikan di wilayah setempat, dengan menggunakan bendera PT Madura Energi Infrastruktur. Bahkan, berkat kemampuannya yang mempuni, tahun 2015 lalu atas kemampuannya mampu memikat hati petinggi di Sumenep untuk mengelola PLTD di Pulau Masalembu, dan mambangun jaringan kelistrikan di Pulau Gili Raja.
”Keberhasilan bukan semata-mata karena bekerja keras. Tetapi, bekerja kerasa yang dilakukan dengan tekun serta mendapatkan izin dari yang Maha Kuasa, bisa merasakan hasilnya,” terang Hairul Anwar saat berbincang dengan wartawan di Sumenep.
Dia menceritakan, menjadi kontraktor kelistrikan bukan perkara mudah, membutuhkan kerja keras dan ketekunan, jatuh bangun dalam pekerjaan pasti terjadi. Sehingga, pengalaman pahit seperti mendapat penolakan dari warga setempat ketika akan memasang jaringan listrik seperti PLTS, menjadi sejarah yang sulit dilupakan.
”Ketika menghadapi persoalan demikian, maka harus menggunakan cara persuasif. Selain itu, sosialisasi secara kontinyo akan mampu diatasi,” terangnya.
Sebenarnya, kata dia, perjuangan dalam meniti karir, dijadikan sebagai pendidikan, sehingga akan menjadi ilmu untuk bisa sampai kepada puncak kesuksesan. Sebab, tidak akan kesuksesan diraih dengan instan.
Kini, dia dipercaya sebagai BPK Aksindo (Asosiasi Kontraktor Kontruksi Indonesia) Sumenep, memiliki 150 pekerja, dengan luas pekerjaan kelistrikan sudah merambah Kabupaten Pamekasan dan Sampang.
”Kami akan terus memberikan pelayanan jasa kelistrikan yang terbaik untuk Madura,” imbuhnya.
Dia berharap, masyarakat Madura secara umum akan bisa menikmati aliran listrik. ”Dengan listrik dunia akan terang, listrik akan mampu menciptakan generasi bangsa berkualitas,” katanya.
Meski dalam puncak karirnya tidak lantas membuat dirinya berhenti belajar, terbukti dia saat ini menjalani kuliah Pasca Sarjana di ITAT Surabaya. (*)
Pewarta : Ibnu Toha
Atas ketekunan itulah, mampu membawa Hairul Anwar, ST pada puncak kesuksesan, kelistrikan yang dibidanginya semenjak baru menjadi alumni Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya (ITATS), memulai karir kelistrikan di mulai didaerah Ternate, Maluku Utara.
Hairul tidak serta merta bisa meraih kesuksesan. Selain memegang prinsip ketekunan, pengalaman yang dimiliki tidak bisa disepelekan. Hairul Anwar, memulai karir di bidang kelistrikan diawali pemasangan, pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), pekerjaan tersebut dia lakukan dengan tepat waktu.
Sehingga, ia dipercaya mengelolah kelistrikan di wilayah setempat, dengan menggunakan bendera PT Madura Energi Infrastruktur. Bahkan, berkat kemampuannya yang mempuni, tahun 2015 lalu atas kemampuannya mampu memikat hati petinggi di Sumenep untuk mengelola PLTD di Pulau Masalembu, dan mambangun jaringan kelistrikan di Pulau Gili Raja.
”Keberhasilan bukan semata-mata karena bekerja keras. Tetapi, bekerja kerasa yang dilakukan dengan tekun serta mendapatkan izin dari yang Maha Kuasa, bisa merasakan hasilnya,” terang Hairul Anwar saat berbincang dengan wartawan di Sumenep.
Dia menceritakan, menjadi kontraktor kelistrikan bukan perkara mudah, membutuhkan kerja keras dan ketekunan, jatuh bangun dalam pekerjaan pasti terjadi. Sehingga, pengalaman pahit seperti mendapat penolakan dari warga setempat ketika akan memasang jaringan listrik seperti PLTS, menjadi sejarah yang sulit dilupakan.
”Ketika menghadapi persoalan demikian, maka harus menggunakan cara persuasif. Selain itu, sosialisasi secara kontinyo akan mampu diatasi,” terangnya.
Sebenarnya, kata dia, perjuangan dalam meniti karir, dijadikan sebagai pendidikan, sehingga akan menjadi ilmu untuk bisa sampai kepada puncak kesuksesan. Sebab, tidak akan kesuksesan diraih dengan instan.
Kini, dia dipercaya sebagai BPK Aksindo (Asosiasi Kontraktor Kontruksi Indonesia) Sumenep, memiliki 150 pekerja, dengan luas pekerjaan kelistrikan sudah merambah Kabupaten Pamekasan dan Sampang.
”Kami akan terus memberikan pelayanan jasa kelistrikan yang terbaik untuk Madura,” imbuhnya.
Dia berharap, masyarakat Madura secara umum akan bisa menikmati aliran listrik. ”Dengan listrik dunia akan terang, listrik akan mampu menciptakan generasi bangsa berkualitas,” katanya.
Meski dalam puncak karirnya tidak lantas membuat dirinya berhenti belajar, terbukti dia saat ini menjalani kuliah Pasca Sarjana di ITAT Surabaya. (*)
Pewarta : Ibnu Toha
KOMENTAR