BERITAFAJAR.co - Unjuk rasa (unras) untuk mempertanyakan kinerja penegak hukum yang melibatkan Puluhan pelajar di depan Pengadilan Neger...
BERITAFAJAR.co - Unjuk rasa (unras) untuk mempertanyakan kinerja penegak hukum yang melibatkan Puluhan pelajar di depan Pengadilan Negeri (PN) Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, diiringi dengan goyang dangdut koplo, lalu peserta diberi uang saku sebesar Rp 50 ribu per orang.
Pantauan Beritafajar.co, Rabu (7/12/2016) puluhan pelajar asyik bergoyang koplo itu masih lengkap dengan seragamnya. Mereka begitu menikmati serasa berada di konser dangdutan. Bahkan, mereka terlihat lenggak lenggok mengikuti alunan musik.
Menariknya, sehabis goyang dangdut para pelajar tersebut, menerima upah uang sebesar Rp 50ribu persiswa. Uang itu, terlihat dibagi-bagi kepada anggota unras. Uang itu, diberikan kepada masing-masing demonstran. Tidak diketahui uang itu dari mana.
Salah satu pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA) NU Sumenep, yang tidak mau menyebutkan namanya menjelaskan, dirinya mengaku diajak menggelar unras ke PN Sumenep.
"Saya dan teman-teman ikut aja, dan saya tidak tahu namanya mas, siapa yang mengajak. Dia itu yang ngajak kami," jelasnya, sambil menunjuk ke arah pria yang berada di kerumunan unras yang sambil menikmati musik koplo.
Dirinya mengaku senang karena bisa belajar unras, disinggung soal ada pembagian uang, pelajar tersebut malah cuma melirik temannya yang berada disampinya dan mengaku tidak tahu.
"Hems, saya belum menerima uang mas" kelitnya dengan wajah seolah serba salah.
Kordinator Unras Edi Kuncir menjelaskan, kedatangan ke PN untuk mempertanyakan kinerja PN selama ini. Pihaknya menilai bahwa kinerja PN ada interprensi terhadap tersangka, sehingga terkesan ada permainan.
"Saya datang kesini untuk mempertanyakan kinerja polres" jelasnya.
Ketika disinggung soal keterlibatan puluhan pelajar pada unras, Edi menjelaskan, keberadaan pelajar itu dalam rangka belajar cerdas.
"Kedatangan pelajar itu, untuk belajar cerdas" tukasnya saat ditemui awak media.
Sementara, ketika ditanya soal pembagian uang kepada peserta aksi demonstrasi sebesar Rp 50 ribu, pihaknya terlihat kaget.
”Apa salahnya jika hanya memberikan uang jajan,” terangnya mengakui.
Dijelaskan, dia melakukan aksi demonstrasi agar hakim atau penegak hukum di PN Sumenep, tidak tebang pilih dan professional dalam penegakan hukum di Sumenep. (*)
Pewarta : Ahmadi
Editor : Ibnu Toha
Pantauan Beritafajar.co, Rabu (7/12/2016) puluhan pelajar asyik bergoyang koplo itu masih lengkap dengan seragamnya. Mereka begitu menikmati serasa berada di konser dangdutan. Bahkan, mereka terlihat lenggak lenggok mengikuti alunan musik.
Menariknya, sehabis goyang dangdut para pelajar tersebut, menerima upah uang sebesar Rp 50ribu persiswa. Uang itu, terlihat dibagi-bagi kepada anggota unras. Uang itu, diberikan kepada masing-masing demonstran. Tidak diketahui uang itu dari mana.
Salah satu pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA) NU Sumenep, yang tidak mau menyebutkan namanya menjelaskan, dirinya mengaku diajak menggelar unras ke PN Sumenep.
"Saya dan teman-teman ikut aja, dan saya tidak tahu namanya mas, siapa yang mengajak. Dia itu yang ngajak kami," jelasnya, sambil menunjuk ke arah pria yang berada di kerumunan unras yang sambil menikmati musik koplo.
Dirinya mengaku senang karena bisa belajar unras, disinggung soal ada pembagian uang, pelajar tersebut malah cuma melirik temannya yang berada disampinya dan mengaku tidak tahu.
"Hems, saya belum menerima uang mas" kelitnya dengan wajah seolah serba salah.
Kordinator Unras Edi Kuncir menjelaskan, kedatangan ke PN untuk mempertanyakan kinerja PN selama ini. Pihaknya menilai bahwa kinerja PN ada interprensi terhadap tersangka, sehingga terkesan ada permainan.
"Saya datang kesini untuk mempertanyakan kinerja polres" jelasnya.
Ketika disinggung soal keterlibatan puluhan pelajar pada unras, Edi menjelaskan, keberadaan pelajar itu dalam rangka belajar cerdas.
"Kedatangan pelajar itu, untuk belajar cerdas" tukasnya saat ditemui awak media.
Sementara, ketika ditanya soal pembagian uang kepada peserta aksi demonstrasi sebesar Rp 50 ribu, pihaknya terlihat kaget.
”Apa salahnya jika hanya memberikan uang jajan,” terangnya mengakui.
Dijelaskan, dia melakukan aksi demonstrasi agar hakim atau penegak hukum di PN Sumenep, tidak tebang pilih dan professional dalam penegakan hukum di Sumenep. (*)
Pewarta : Ahmadi
Editor : Ibnu Toha
KOMENTAR