Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Sumenep, R. Akh Aminullah.
BERITAFAJAR.co - Bulan suci Ramadan 1438 Hijriyah kali ini, nampaknya masih menjadi surganya para pengemis (gepeng) dalam mengais rizki.
Terbukti, dibeberapa pusat perbelanjaan dan swalayan di perkotaan Sumenep masih banyak dijumpak para gepeng yang meminta-minta.
Ironisnya lagi, sejumlah pasukan peminta-minta ini sudah masuk ke pelosok Desa. Hal itu dikeluhkan oleh salah seorang Warga Desa Lobuk, Kecamatan Bluto Maysaroh, ia menceritakan, saat ini banyak pengemis yang sudah masuk ke Desa, bahkan di bulan Ramadan ini semakin marak.
"Sejak bulan Ramadan, pengemis semakin marak pak, tiap hari silih berganti," ujarnya kepada media ini.
Bahkan menurutnya, modus para peminta-minta ini berfariatif, mulai dari sekedar bermodal gayung, mengajukan proposal, sampai yang menjual foto copi doa-doa.
"Macam-macam cara mereka dalam mengemis, dari yang menadah tangan dengan pakaian serba kusut, hingga berpakaian rapi dengan mengenakan sarung mahal, sering kesini untuk minta-minta," tuturnya.
Dikonfirmasi secara terpisah, Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, R. Akh Aminullah mengaku masih fokus menertibkan sejumlah pengemis di seputaran kota.
"Dinsos masih fokus di wilayah kota dulu, untuk gepeng yang katanya sudah masuk ke pelosok Desa belum bisa kami tertibkan," kata dia.
Kendati demikian, pihaknya berdalih belum pernah mendapatkan laporan dari masyarakat terkait maraknya peminta-minta di pelosok Desa.
"Kita belum dapat laporan kok kalau gepeng marak ke Desa-Desa, kalau di kota iya," kilahnya singkat. (di/ji/ibn ).
Terbukti, dibeberapa pusat perbelanjaan dan swalayan di perkotaan Sumenep masih banyak dijumpak para gepeng yang meminta-minta.
Ironisnya lagi, sejumlah pasukan peminta-minta ini sudah masuk ke pelosok Desa. Hal itu dikeluhkan oleh salah seorang Warga Desa Lobuk, Kecamatan Bluto Maysaroh, ia menceritakan, saat ini banyak pengemis yang sudah masuk ke Desa, bahkan di bulan Ramadan ini semakin marak.
"Sejak bulan Ramadan, pengemis semakin marak pak, tiap hari silih berganti," ujarnya kepada media ini.
Bahkan menurutnya, modus para peminta-minta ini berfariatif, mulai dari sekedar bermodal gayung, mengajukan proposal, sampai yang menjual foto copi doa-doa.
"Macam-macam cara mereka dalam mengemis, dari yang menadah tangan dengan pakaian serba kusut, hingga berpakaian rapi dengan mengenakan sarung mahal, sering kesini untuk minta-minta," tuturnya.
Dikonfirmasi secara terpisah, Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, R. Akh Aminullah mengaku masih fokus menertibkan sejumlah pengemis di seputaran kota.
"Dinsos masih fokus di wilayah kota dulu, untuk gepeng yang katanya sudah masuk ke pelosok Desa belum bisa kami tertibkan," kata dia.
Kendati demikian, pihaknya berdalih belum pernah mendapatkan laporan dari masyarakat terkait maraknya peminta-minta di pelosok Desa.
"Kita belum dapat laporan kok kalau gepeng marak ke Desa-Desa, kalau di kota iya," kilahnya singkat. (di/ji/ibn ).

KOMENTAR