BERITAFAJAR.co - Perbedaan itu indah. Literatur Arab menyebut, al-ikhtilafu ummati rahmatun (perbedaan itu adalah rahmat). Perbedaan dalam ...
BERITAFAJAR.co - Perbedaan itu indah. Literatur Arab menyebut, al-ikhtilafu ummati rahmatun (perbedaan itu adalah rahmat). Perbedaan dalam konteks nusantara, Bhinneka Tunggal Ika (berbeda-beda itu satu). Substansi perbedaan dalam kehidupan ini saling mengisi kekurangan, menyempurnakan kekosongan satu dari yang lain, mengisi ketika ada yang masih kurang sempurna.
Konsep berbeda di tengah-tengah kemajemukan menjadi realitas yang saat ini dijalani masyarakat di dunia. Wajah satu individu dengan lainnya dicipta Tuhan tidak sama, demikian miniatur body yang lain, ada malam ada siang, ada panas ada dingin, dan segala hukum alam lainnya. Semua terlihat berbeda, namun menjadi sangat indah dihayati.
Novel berjudul My Grandmother Asked Me to Tell You She's Sorry ini menjadi belati terhunus yang mengingatkan umat manusia tentang perbedaan sebagai realitas yang nyata. Ajaran kesadaran memahami yang lain mulai rapuh saat ini. Wujud sakral kebersamaan dalam menerima perbedaan hidup, terasa mulai hancur.
Di negeri ini, gesekan sosial dengan mudah memercik menjadi virus kebencian. Menjalar kemana-mana menjadi pertikaian. Lalu, menjadi gengsi komunitas yang turun temurun. Akar masalahnya simpel, rasa menerima perbedaan mulai memumi. Fredrik Backman lewat Grandmother Asked Me to Tell You She's Sorry mengabar kebersahajaan, kedamaian hati menerima kekurangan yang lain, untuk kesempurnaan hidup.
BACA JUGA :
Om Sukses Om
Sumber Kebenaran di Era Modern
Meneguhkan Kembali Tradisi Menulis Ala Ulama Salaf
Membela Pancasila Lahir Batin
Fredrik Backman melalui tokoh Elisa di dalam alur kisah ini mengilustrasikan kepongahan hidup zaman modern. Masyarakat menganggap (meski tak semua), keakraban hanya bisa direngkuh dengan uang. Modal besar materi mulai menjadi gengsi maha tinggi mencapai kenikmatan kehidupan yang diinginkan.
Tanpa mau peduliydengan kegitiran, perasaan, harapan orang lain, masyrakat di era modern ini menjadi Pemeran utama pada setiap lakon kehidupannya. Elisa tak habis pikir, dia mencoba mencari tahu penyebab kegaduhan moral sejumlah manusia di sekitarnya (hlm. 12-20).
Dia berlari ke sejumlah tempat, memaksakan diri mencari tahu penasaran hatinya; mengapa ada orang mudah tersulut emosinya? Ada teman menjadi lawan? Ada keluarga penuh nestapa, karena tak ada cinta dalam menata kebersamaan? Apa yang Elsa cari tidak berhasip ia temukan.
Gadis yang baru beranjak dewasa ini baru mengerti, hidup itu seperti warna pelangi. Berbeda, penuh aneka cerita, sejuta rasa, tapi satu selera. Yaitu, semua yang hidup sama-sama menginginkan kedamaian sejati. Ingin dimengerti, difahami, disantuni, dan diajak berdampingan. Sayangnya, tidak semua orang bisa menjadi pribadi yang bisa memahami satu sama lainnya. Kecuali, hanya nenek Elsa yang hadir mengurai persoalan yang dihadapi Elsa. Perempuan paruh baya itu yang menjadi pioner dan motivator dalam petualangan hidup Elsa.
Membaca karya ini, Penulis sengaja mengayun imajinasi para pembacanya. Kisah Elsa bersama sang nenek menjangkau semua sudut hidup seperti dirasakan banyak orang. Usia sepuh ternyata menjadi kristalisasi pengalaman hidup seseorang.
Nenek Elsa, seperti sahabat paling gaul dalam dunia Elsa. Di saat Elsa galau, sang nenek hadir memberikan kejutan. Mengajak bermain, memberikan hadiah ulang tahun, mengarahkan kepada-hal positif dengan gaya trend zaman Elsa. Sehingga, perilaku nenek Elsa sering dianggap lelucon. Perbuatan sang nenek oleh orang-orang sekitar mereka dianggap 'gila'. Apakah orang sepuh tak boleh bergaya? Elsa menyadari, betapa fenomena hidup sebenarnya ada pada diri sang nenek. (*)
Judul : My Grandmother Asked Me to Tell You She's Sorry
Penulis : Fredrik Backman
Penerbit : Noura Books, Jakarta
Cetakan : I, Nopember 2016
Tebal : 489 halaman
ISBN : 978-602-385-164-5
Peresensi : Zaitur Rahem (Penulis buku Risalah Pendek Menulis Resensi Buku (2015). Email: zaitur_rahem@yahoo.co.id)
Konsep berbeda di tengah-tengah kemajemukan menjadi realitas yang saat ini dijalani masyarakat di dunia. Wajah satu individu dengan lainnya dicipta Tuhan tidak sama, demikian miniatur body yang lain, ada malam ada siang, ada panas ada dingin, dan segala hukum alam lainnya. Semua terlihat berbeda, namun menjadi sangat indah dihayati.
Novel berjudul My Grandmother Asked Me to Tell You She's Sorry ini menjadi belati terhunus yang mengingatkan umat manusia tentang perbedaan sebagai realitas yang nyata. Ajaran kesadaran memahami yang lain mulai rapuh saat ini. Wujud sakral kebersamaan dalam menerima perbedaan hidup, terasa mulai hancur.
Di negeri ini, gesekan sosial dengan mudah memercik menjadi virus kebencian. Menjalar kemana-mana menjadi pertikaian. Lalu, menjadi gengsi komunitas yang turun temurun. Akar masalahnya simpel, rasa menerima perbedaan mulai memumi. Fredrik Backman lewat Grandmother Asked Me to Tell You She's Sorry mengabar kebersahajaan, kedamaian hati menerima kekurangan yang lain, untuk kesempurnaan hidup.
BACA JUGA :
Om Sukses Om
Sumber Kebenaran di Era Modern
Meneguhkan Kembali Tradisi Menulis Ala Ulama Salaf
Membela Pancasila Lahir Batin
Fredrik Backman melalui tokoh Elisa di dalam alur kisah ini mengilustrasikan kepongahan hidup zaman modern. Masyarakat menganggap (meski tak semua), keakraban hanya bisa direngkuh dengan uang. Modal besar materi mulai menjadi gengsi maha tinggi mencapai kenikmatan kehidupan yang diinginkan.
Tanpa mau peduliydengan kegitiran, perasaan, harapan orang lain, masyrakat di era modern ini menjadi Pemeran utama pada setiap lakon kehidupannya. Elisa tak habis pikir, dia mencoba mencari tahu penyebab kegaduhan moral sejumlah manusia di sekitarnya (hlm. 12-20).
Dia berlari ke sejumlah tempat, memaksakan diri mencari tahu penasaran hatinya; mengapa ada orang mudah tersulut emosinya? Ada teman menjadi lawan? Ada keluarga penuh nestapa, karena tak ada cinta dalam menata kebersamaan? Apa yang Elsa cari tidak berhasip ia temukan.
Gadis yang baru beranjak dewasa ini baru mengerti, hidup itu seperti warna pelangi. Berbeda, penuh aneka cerita, sejuta rasa, tapi satu selera. Yaitu, semua yang hidup sama-sama menginginkan kedamaian sejati. Ingin dimengerti, difahami, disantuni, dan diajak berdampingan. Sayangnya, tidak semua orang bisa menjadi pribadi yang bisa memahami satu sama lainnya. Kecuali, hanya nenek Elsa yang hadir mengurai persoalan yang dihadapi Elsa. Perempuan paruh baya itu yang menjadi pioner dan motivator dalam petualangan hidup Elsa.
Membaca karya ini, Penulis sengaja mengayun imajinasi para pembacanya. Kisah Elsa bersama sang nenek menjangkau semua sudut hidup seperti dirasakan banyak orang. Usia sepuh ternyata menjadi kristalisasi pengalaman hidup seseorang.
Nenek Elsa, seperti sahabat paling gaul dalam dunia Elsa. Di saat Elsa galau, sang nenek hadir memberikan kejutan. Mengajak bermain, memberikan hadiah ulang tahun, mengarahkan kepada-hal positif dengan gaya trend zaman Elsa. Sehingga, perilaku nenek Elsa sering dianggap lelucon. Perbuatan sang nenek oleh orang-orang sekitar mereka dianggap 'gila'. Apakah orang sepuh tak boleh bergaya? Elsa menyadari, betapa fenomena hidup sebenarnya ada pada diri sang nenek. (*)
Judul : My Grandmother Asked Me to Tell You She's Sorry
Penulis : Fredrik Backman
Penerbit : Noura Books, Jakarta
Cetakan : I, Nopember 2016
Tebal : 489 halaman
ISBN : 978-602-385-164-5
Peresensi : Zaitur Rahem (Penulis buku Risalah Pendek Menulis Resensi Buku (2015). Email: zaitur_rahem@yahoo.co.id)
KOMENTAR