BERITAFAJAR.co - Puluhan warga Desa Bragung Kecamatan Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, mendatangi Kantor Pusat Kesehatan...
BERITAFAJAR.co - Puluhan warga Desa Bragung Kecamatan Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, mendatangi Kantor Pusat Kesehatan (Piskesmas) setempat, berkisar pukul 10.15 WIB Rabu (28/9/2016).
Kedatangan mereka menuntut pertanggungjawaban atas dugaan malapraktik yang dilakukan oleh salah satu oknum dokter yang ditugaskan di Puskesmas setempat kepada Murtani (56) warga Desa Bragung, Kecamatan Guluk-Guluk.
"Kami hanya minta kejelasan dan pertanggungkawaban saja ke sini," kata Safraji, salah satu keluarga korban.
Safraji menceritakan, senin lalu korban mencabut gigi di Puskesmas Guluk-Guluk secara gratis. Setelah selesai, dokter memberikan resep obat yang disuruh diambil di apotik setempat. Sesampainya di rumahnya, korban meminum obat sesuai anjuran yang diberikan oleh dokter.
Anehnya, keesokan harinya setelah minum obat penyakit yang diderita semakin parah, bahkan ditubuh korban menderita gatal-gatal yang kemudian disertai bisul, hingga saat ini korban tergeletak di rumahnya.
"Dugaan sementara, ini korban malapraktik. Karena informasi yang kami terima dokternya baru bertugas dua bulan di Puskesmas Guluk-Guluk," tuturnya.
Dugaan tersebut semakin nampak setelah dirinya memeriksa korban ke salah satu dokter di Kecamatan Ganding, dan salah satu dokter yang bertugas di Kecamatan Kota Sumenep. Keduanya, menyatakan gatal-gatal dan benjolan disebabkan karena salah obat.
"Berdasarkan pengakuan keluarga korban yang mengantarkan, dokter menyatakan salah obat," tegasnya.
Oleh sebab itu, dirinya meminta agar pihak terkait bertanggungjawab atas persoalan itu. "Ini persoalan jiwa. Kami minta pihak terkait bertanggungjawab," harapnya.
Sementara, Kepala Pukesmas Guluk-guluk, dr. H. Asad Zainuddin, membantah jika Puskesmas telah melakukan malapraktek, karena pelayanan yang diberikan sudah sesuai dengan standart pelayanan kesehatan.
"Itu bukan malapraktek mas, karena semua pegawai di sini sudah mendapatkan oprasional"kilahnya.
Sementara pihaknya telah mengganti obat antibiotik yang baru kepada warga tersebut.
"Sekarang telah memgganti obat anti biotik yang baru, alergi itu sembuh" ujarnya. (*)
Pewarta : Ahmadi
Editor : Ibnu Toha
Kedatangan mereka menuntut pertanggungjawaban atas dugaan malapraktik yang dilakukan oleh salah satu oknum dokter yang ditugaskan di Puskesmas setempat kepada Murtani (56) warga Desa Bragung, Kecamatan Guluk-Guluk.
"Kami hanya minta kejelasan dan pertanggungkawaban saja ke sini," kata Safraji, salah satu keluarga korban.
Safraji menceritakan, senin lalu korban mencabut gigi di Puskesmas Guluk-Guluk secara gratis. Setelah selesai, dokter memberikan resep obat yang disuruh diambil di apotik setempat. Sesampainya di rumahnya, korban meminum obat sesuai anjuran yang diberikan oleh dokter.
Anehnya, keesokan harinya setelah minum obat penyakit yang diderita semakin parah, bahkan ditubuh korban menderita gatal-gatal yang kemudian disertai bisul, hingga saat ini korban tergeletak di rumahnya.
"Dugaan sementara, ini korban malapraktik. Karena informasi yang kami terima dokternya baru bertugas dua bulan di Puskesmas Guluk-Guluk," tuturnya.
Dugaan tersebut semakin nampak setelah dirinya memeriksa korban ke salah satu dokter di Kecamatan Ganding, dan salah satu dokter yang bertugas di Kecamatan Kota Sumenep. Keduanya, menyatakan gatal-gatal dan benjolan disebabkan karena salah obat.
"Berdasarkan pengakuan keluarga korban yang mengantarkan, dokter menyatakan salah obat," tegasnya.
Oleh sebab itu, dirinya meminta agar pihak terkait bertanggungjawab atas persoalan itu. "Ini persoalan jiwa. Kami minta pihak terkait bertanggungjawab," harapnya.
Sementara, Kepala Pukesmas Guluk-guluk, dr. H. Asad Zainuddin, membantah jika Puskesmas telah melakukan malapraktek, karena pelayanan yang diberikan sudah sesuai dengan standart pelayanan kesehatan.
"Itu bukan malapraktek mas, karena semua pegawai di sini sudah mendapatkan oprasional"kilahnya.
Sementara pihaknya telah mengganti obat antibiotik yang baru kepada warga tersebut.
"Sekarang telah memgganti obat anti biotik yang baru, alergi itu sembuh" ujarnya. (*)
Pewarta : Ahmadi
Editor : Ibnu Toha
KOMENTAR