BERITAFAJAR.co - Belum ada tindakan yang jelas dari Pemerintah Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, terhadap jembatan utama Basoka yang am...
BERITAFAJAR.co - Belum ada tindakan yang jelas dari Pemerintah Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, terhadap jembatan utama Basoka yang ambruk, warga Desa Basoka, Kecamatan Rubaru, membuat jembatan alternatif.
Pembuatan jembatan alternatif sudah dua kali dilakukan oleh masyarakat. Pertama diletakkan pasisi paling selatan dengan menggunakan tanah yang diletakkan dalam karung lalu disusun rapi. Namun, jembatan alternatif pertama tidak bertahan beberapa hari saja sudah ambruk akibat terkena hujan.
Kini, yang kedua kali warga kembali membuat jembatan alternatif lagi. Jembatan alternatif kedua ini, dinilai akan lebih bertahan lama karena menggunakan bambu, dan poisisinya lebih tinggi dari jembatan alternatif sebelumnya dan diletakkan di utaranya jembatan alternatif sebelumnya.
Salah satu warga, Matlani, (34) mengakatakan, ambruknya jembatan telah menghambat terhadap semua aktivitas masyarakat. Warga tidak bisa melakukan aktivitas dengan maksimal. Bahkan, kini meski ada jembatan alternatif, tetap saja tidak bisa maksimal.
"Biasanya saya membawa barang dagangan melintasi jembatan ini, tapi karena kondisi jalan ini saya takut, kwatir jatuh karena kindisi jembatan yang ambruk dan menggunakan jembatan alternatif yang seadanya," terangnya.
Sejak ambruknya jembatan (27/9/2016) tersebut, hingga sekarang belum ada kejelasan terhadap perbaikan jembatan tersebut. Padahal pihak pemerintah daerah sudah meninjau langsung lokasi bahkan Wakil Bupati Sumenep (Wabup) Achmad Fauzi sudah datang langsung ke lokasi.
”Jembatan itu, seharusnya ada perhatian dari pemerintah, soalnya jembatan tersebut jemtan satu-satunya yang mennghubungkan dari Kecamatan Rubaru dengan Kecamatan Ganding, lewat jalur Basokam" terangnya. (*)
Pewarta : Ahmadi
Editor : Ibnu Toha
Pembuatan jembatan alternatif sudah dua kali dilakukan oleh masyarakat. Pertama diletakkan pasisi paling selatan dengan menggunakan tanah yang diletakkan dalam karung lalu disusun rapi. Namun, jembatan alternatif pertama tidak bertahan beberapa hari saja sudah ambruk akibat terkena hujan.
Kini, yang kedua kali warga kembali membuat jembatan alternatif lagi. Jembatan alternatif kedua ini, dinilai akan lebih bertahan lama karena menggunakan bambu, dan poisisinya lebih tinggi dari jembatan alternatif sebelumnya dan diletakkan di utaranya jembatan alternatif sebelumnya.
Salah satu warga, Matlani, (34) mengakatakan, ambruknya jembatan telah menghambat terhadap semua aktivitas masyarakat. Warga tidak bisa melakukan aktivitas dengan maksimal. Bahkan, kini meski ada jembatan alternatif, tetap saja tidak bisa maksimal.
"Biasanya saya membawa barang dagangan melintasi jembatan ini, tapi karena kondisi jalan ini saya takut, kwatir jatuh karena kindisi jembatan yang ambruk dan menggunakan jembatan alternatif yang seadanya," terangnya.
Sejak ambruknya jembatan (27/9/2016) tersebut, hingga sekarang belum ada kejelasan terhadap perbaikan jembatan tersebut. Padahal pihak pemerintah daerah sudah meninjau langsung lokasi bahkan Wakil Bupati Sumenep (Wabup) Achmad Fauzi sudah datang langsung ke lokasi.
”Jembatan itu, seharusnya ada perhatian dari pemerintah, soalnya jembatan tersebut jemtan satu-satunya yang mennghubungkan dari Kecamatan Rubaru dengan Kecamatan Ganding, lewat jalur Basokam" terangnya. (*)
Pewarta : Ahmadi
Editor : Ibnu Toha
KOMENTAR