BERITAFAJAR.co – Gendrang reformasi sejak 1998 sudah berlalu. Berbagai peristiwa demi peristiwa meleburkan politik aliran yang di masa la...
BERITAFAJAR.co – Gendrang reformasi sejak 1998 sudah berlalu. Berbagai peristiwa demi peristiwa meleburkan politik aliran yang di masa lalu kuat mengakar. Kemudian trikotomi politik, yaitu santri, abangan dan nasionalis, sebagaimana di urai Cliford Geertz seorang antrolog kawakan seolah mengalami antithesa.
Salah satu politisi Partai Amanat Nasional (PAN), Hosaini Adhim bermula dari mengais berkah di pesantren Annuqayah Guluk Guluk dengan menjadi guru, berbakti keyakinan bahwa menjaga tradisi dengan bertahan di dunia belajar dan mengajar di dunia pesantren, akhirnya berbuah menempanya menjadi politisi yang mampu melampaui batas-batas fanatisme aliran.
Kini, peria yang duduk di kursi DPRD Sumenep, dipercaya menjadi sekretaris partai berlambang matahari tersebut. Prestasi itu, tidak dengan mudah, karena menjadi sekretaris DPD PAN Sumenep, tidak cukup bermodal dirinya sebagai anggota DPRD Sumenep semata, melainkan melalui perhelatan yang tentu saja tidak gampang.
Sosok Hosaini sendiri muncul di tengah dinamika politik yang cukup pelik dan bukan perkara mudah untuk bisa merebut posisi sekretaris. Akan tetapi hal itu tidak membuat ia tidak bisa berdiri di tengah kepelikan tersebut. Terbukti, ia akhirnya menjadi sekretaris partai yang mempunyai jumlah kursi mumpuni di DPRD Sumenep.
Setelah menjadi sekretaris DPD PAN Sumenep, saat ini segudang pekerjaan menunggunya, mengkonsolidasi dengan tidak membiarkan partai terurai dalam konflik panjang sisa energi pertarungan dalam Musda PAN beberapa waktu lalu.
Dalam kondisi demikian pelik, dia harus mampu membuktikan pada keadaan, bahwa politik lahir sekaligus menjadi tanda jalan konsesi harus di tempuh.
Kemampuan membaca keadaan, memecah persoal, berangkat dari keadaan saat pertama reformasi ditabuh. Peleburan "madzhab politik" kaum santri yang memiliki kecendrungan kuat waktu itu, dengan memilih afiliasi partai Islam dan NU, kemudian melebur dengan partai nasionalis seiring pesatnya demokrasi politik di tanah air.
Berbagai peristiwa itu, mulai dari banyaknya kader partai politik yang lahir dari rahim Pondok Pesantren tak terhitung jumlah hanya dengan jari semata, sehingga Husaini Adhim mampu memotret realitas politik lintas golongan.
”Politisi yang berasal dari pesantren tidak hanya berada digaris partai Islam semata, tapi partai nasionalis pun juga banyak dari kalangan pesantren dan santri, dan harus mampu membaca keadaan,” ujar Husaini Adhim ketika berbincang dengan wartawan. (*)
Pewarta : Ibnu Toha
KOMENTAR