BERITAFAJAR.co - Carakan atau aksara Madura pernah diajarkan di sekolah sekitar sampai dekade akhir 80-an, setelah itu pelajaran tersebut t...
BERITAFAJAR.co - Carakan atau aksara Madura pernah diajarkan di sekolah sekitar sampai dekade akhir 80-an, setelah itu pelajaran tersebut tidak lagi diajarkan, namun akhir-akhir tampaknya mulai diperkenalkan kembali oleh sebagian kecil sekolah dasar.
Carakan Madura pada dasarnya mengadopsi dari carakan atau aksara Jawa (aksara Jhaban) yang juga dikenal aksara Nglegena, terdiri dari 20 huruf yaitu ha na ca ra ka da ta sa wa la pa dha ja ya nya ma ga ba ta nga.
Penulisan carakan ini memang amat sulit dipahami, bahkan hanya beberapa gelintir orang saja yang bisa menulis dan memahaminya. Dengan kata lain ejaan, aksara atau carakan ini sudah tidak populer dan tidak banyak dikenal.
Namun demikian, untuk masyarakat etnis Jawa, seperti Jogyakarta, Solo, dan masyarakat Jawa Mataraman masih berusaha memperkenalkan lewat papan-papan nama jalan dan bentuk lainnya. Meski demikian, masyarakatnya tidak seluruhnya bisa membaca dan memahaminya.
Ironisnya, bila masyarakat Jawa saja kurang banyak memahami, apalagi masyarakat Madura. Namun tampaknya pemerintah ingin “memaksakan diri” menampilkan carakan tersebut sebagaimana terpampang pada papan nama jalan di ruas jalan-jalan raya Kota Sumenep.
Saya sempat bertanya pada sejumlah orang (baik pendudukan lokal maupun pendatang Jawa) sekitar tulisan atau aksara yang tertera dibawah nama jalan itu, ternyata tidak satupun yang bisa membaca, jangankan membaca mengenal hurufpun mereka tidak paham, kecuali orang pernah diajarkan di sekolah. (lihat gambar)
Dalam benak saya, apakah huruf Jawa itu relevan dengan prinsip hidup orang Madura. Apa korelasinya dengan budaya Madura? Apakah ini sekedar untuk memperkuat posisi kekuatan kraton Sumenep dalam mempertahankan feodalisme masa lalu?, atau bentuk “jajahan baru” dalam bentuk formulasi aksara
Madura dikenal sebagai masyarakat religius Islami dan dibuktikan maraknya pondok pesantren dan sejumlah peninggalan sejarah keislaman. Dibanding aksara (budaya) Jawa, huruf arab pegon justru lebih membumi. Paling tidak hampir seluruh masyarakat Sumenep mengenal huruf Arab.
Kita tahu, aksara Jawa merupakan salah satu peninggalan budaya Jawa, namun kini sudah mulai ditinggalkan masyarakatnya, bahkan oleh suku Jawa sendiri. Apalagi dikembangkan melalui perangkat teknologi seperti sekarang ini, pastinya tidak bisa dipola seperti menjadi seperti aksara tersebut, kecuali melalui media image.
Entah mau dikemanakan Sumenep ini. “Mikiiir … “ kata Cak Lontong.
Inilah filosufi dan makna Aksara Jawa
1. HA: Hana hurip wening suci - adanya hidup adalah kehendak dari yang Maha Suci
2. NA: Nur candra, gaib candra, - pengharapan manusia hanya selalu ke sinar Illahi
3. CA: Cipta wening, cipta mandulu - arah dan tujuan pada Yang Maha Tunggal
4. RA: Rasaingsun handulusih - rasa cinta sejati muncul dari cinta kasih nurani
5. KA: Karsaningsun memayuhayuning bawana - hasrat untuk mensejahterakan dunia
6. DA: Dumadining dzat kang tanpa winangenan - menerima hidup apa adanya
7. TA: Tatas, tutus, titis - ketelitian dalam memandang hidup
8. SA: Sifat ingsun handulu sifatullah - membentuk kasih sayang seperti kasih Tuhan
9. WA: Wujud hana tan kena kinira - ilmu itu sangat terbatas tapi dampaknya bisa tanpa batas
10. LA: Lir handaya paseban jati - mengalirkan hidup semata pada tuntunan Illahi
11. PA: Papan kang tanpa kiblat - Hakekat Allah yang ada disegala arah
12. DHA: Dhuwur wekasane endek wiwitane - Untuk bisa diatas tentu dimulai dari dasar
13. JA: Jumbuhing kawula lan Gusti - Selalu berusaha menyatu memahami kehendak-Nya
14. YA: Yakin marang samubarang tumindak kang dumadi - yakin atas titah/kodrat Illahi
15. NYA: Nyata tanpa mata, ngerti tanpa diuruki - memahami kodrat kehidupan
16. MA: Madep mantep manembah mring Ilahi - yakin/mantap dalam menyembah Ilahi
17. GA: Guru sejati sing muruki - belajar pada guru nurani
18. BA: Bayu sejati kang andalani - menyelaraskan diri pada gerak alam
19. THA: Tukul saka niat - sesuatu harus dimulai dan tumbuh dari niatan
20. NGA: Ngracut busananing manungso - melepaskan egoisme pribadi manusia.
Penulis : Syaf Anton WR
Carakan Madura pada dasarnya mengadopsi dari carakan atau aksara Jawa (aksara Jhaban) yang juga dikenal aksara Nglegena, terdiri dari 20 huruf yaitu ha na ca ra ka da ta sa wa la pa dha ja ya nya ma ga ba ta nga.
Penulisan carakan ini memang amat sulit dipahami, bahkan hanya beberapa gelintir orang saja yang bisa menulis dan memahaminya. Dengan kata lain ejaan, aksara atau carakan ini sudah tidak populer dan tidak banyak dikenal.
Namun demikian, untuk masyarakat etnis Jawa, seperti Jogyakarta, Solo, dan masyarakat Jawa Mataraman masih berusaha memperkenalkan lewat papan-papan nama jalan dan bentuk lainnya. Meski demikian, masyarakatnya tidak seluruhnya bisa membaca dan memahaminya.
Ironisnya, bila masyarakat Jawa saja kurang banyak memahami, apalagi masyarakat Madura. Namun tampaknya pemerintah ingin “memaksakan diri” menampilkan carakan tersebut sebagaimana terpampang pada papan nama jalan di ruas jalan-jalan raya Kota Sumenep.
Saya sempat bertanya pada sejumlah orang (baik pendudukan lokal maupun pendatang Jawa) sekitar tulisan atau aksara yang tertera dibawah nama jalan itu, ternyata tidak satupun yang bisa membaca, jangankan membaca mengenal hurufpun mereka tidak paham, kecuali orang pernah diajarkan di sekolah. (lihat gambar)
Dalam benak saya, apakah huruf Jawa itu relevan dengan prinsip hidup orang Madura. Apa korelasinya dengan budaya Madura? Apakah ini sekedar untuk memperkuat posisi kekuatan kraton Sumenep dalam mempertahankan feodalisme masa lalu?, atau bentuk “jajahan baru” dalam bentuk formulasi aksara
Madura dikenal sebagai masyarakat religius Islami dan dibuktikan maraknya pondok pesantren dan sejumlah peninggalan sejarah keislaman. Dibanding aksara (budaya) Jawa, huruf arab pegon justru lebih membumi. Paling tidak hampir seluruh masyarakat Sumenep mengenal huruf Arab.
Kita tahu, aksara Jawa merupakan salah satu peninggalan budaya Jawa, namun kini sudah mulai ditinggalkan masyarakatnya, bahkan oleh suku Jawa sendiri. Apalagi dikembangkan melalui perangkat teknologi seperti sekarang ini, pastinya tidak bisa dipola seperti menjadi seperti aksara tersebut, kecuali melalui media image.
Entah mau dikemanakan Sumenep ini. “Mikiiir … “ kata Cak Lontong.
Inilah filosufi dan makna Aksara Jawa
1. HA: Hana hurip wening suci - adanya hidup adalah kehendak dari yang Maha Suci
2. NA: Nur candra, gaib candra, - pengharapan manusia hanya selalu ke sinar Illahi
3. CA: Cipta wening, cipta mandulu - arah dan tujuan pada Yang Maha Tunggal
4. RA: Rasaingsun handulusih - rasa cinta sejati muncul dari cinta kasih nurani
5. KA: Karsaningsun memayuhayuning bawana - hasrat untuk mensejahterakan dunia
6. DA: Dumadining dzat kang tanpa winangenan - menerima hidup apa adanya
7. TA: Tatas, tutus, titis - ketelitian dalam memandang hidup
8. SA: Sifat ingsun handulu sifatullah - membentuk kasih sayang seperti kasih Tuhan
9. WA: Wujud hana tan kena kinira - ilmu itu sangat terbatas tapi dampaknya bisa tanpa batas
10. LA: Lir handaya paseban jati - mengalirkan hidup semata pada tuntunan Illahi
11. PA: Papan kang tanpa kiblat - Hakekat Allah yang ada disegala arah
12. DHA: Dhuwur wekasane endek wiwitane - Untuk bisa diatas tentu dimulai dari dasar
13. JA: Jumbuhing kawula lan Gusti - Selalu berusaha menyatu memahami kehendak-Nya
14. YA: Yakin marang samubarang tumindak kang dumadi - yakin atas titah/kodrat Illahi
15. NYA: Nyata tanpa mata, ngerti tanpa diuruki - memahami kodrat kehidupan
16. MA: Madep mantep manembah mring Ilahi - yakin/mantap dalam menyembah Ilahi
17. GA: Guru sejati sing muruki - belajar pada guru nurani
18. BA: Bayu sejati kang andalani - menyelaraskan diri pada gerak alam
19. THA: Tukul saka niat - sesuatu harus dimulai dan tumbuh dari niatan
20. NGA: Ngracut busananing manungso - melepaskan egoisme pribadi manusia.
Penulis : Syaf Anton WR
KOMENTAR