BERITAFAJAR.CO – Bupati Sumenep, KH A Busyro Karim memberikan sambutan dalam Konferensi Pengurus Cabang Gerakan Pemuda Ansor dan Halalbilal...
BERITAFAJAR.CO – Bupati Sumenep, KH A Busyro Karim memberikan sambutan dalam Konferensi Pengurus Cabang Gerakan Pemuda Ansor dan Halalbilal, yang berlangsung di halama sekolah Pondok Pesantren Sumber Payung, Kecamatan Ganding, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, Minggu (24/7/2016).
Hadir dalam kegiatan itu, PW GP Ansor, Rois Syuriah PC NU Sumenep, KH A Basyir AS, Ketua PC NU KH Pandji Taufiq, Bupati Sumenep, KH A Busyro Karim, dan sejumlah kiai dan ulama serta pejabat di lingkungan Pemkab Sumenep.
Bupati Sumenep, sebelum menyampaikan sambutan meminta maaf kepada seluruh muktamirin karena keterlamatan datang. Sebab, dia masih mendatangi salah satu Pondok Pesantren di wilayah Prenduan Kecamatan Pragaan Sumenep.
”Saya memang memakai seragam Ansor. Ternyata ada salah orang yang nyeletuk, ‘Kok Ada Banser?’. Lho, saya yang datang ke pesantren itu malah dikira petugas Banser,” cerita Busyro Karim disambut tepuk tangan muktamirin.
BACA JUGA : Inilah Rahasia Muhri Zain Kembali Terpilih Ketua GP Ansor
Menurutnya, dengan kata-kata itu menunjukkan masih ada warga Sumenep yang belum mengetahui perbedaan Banser, Ansor, NU dan lembaga lain yang berkaitan dengan NU.
”Saya sangat tertarik dengan tema sekarang. Sebab, tatangan Ansor kedepan memang harus menata jamiyah. Bahkan, Alhamdulillah, Ansor Sumenep sudah akreditasi A. Pamekasan B, Sampang, C dan Bangkalan A,” terang Busyro Karim.
Maka dengan akreditasi itu, tantangan Ansor Sumenep pasti akan lebih berat dibandingkan Pamekasan dan Sampang. Dengan akreditasi itu, menunjukkan bahwa penataan lembaga sudah mulai membaik.
”Menata lembaga tidak mudah, tetapi harus ditingkatkan. Lembaga harus hidup, lembaga ini harus menjadi proses pendidikan. Lembaga ini bukan hanya dijadikan sebagai proses berorganisasi, tetapi juga bermasyarakat,” imbuhnya.
Lembaga ini, lanjutnya, harus dijadikan sebagai proses pemberdayaan ekonomi. Lembaga ini harus bisa membawa kadernya kemanapun yang bisa membawa nilai-nilai NU.
“Terus terang di luar NU banyak yang menoleh kepada lembaga Ansor, maka ketika tidak diperjuangkan nilai-nilai ke NU an. Maka hanya menjadi nama alumni. Tapi, tidak pernah membawa nama Ansor di tempat barunya,” terang mantan Ketua DPRD Sumenep. (*)
Pewarta : Ibnu Toha
Hadir dalam kegiatan itu, PW GP Ansor, Rois Syuriah PC NU Sumenep, KH A Basyir AS, Ketua PC NU KH Pandji Taufiq, Bupati Sumenep, KH A Busyro Karim, dan sejumlah kiai dan ulama serta pejabat di lingkungan Pemkab Sumenep.
Bupati Sumenep, sebelum menyampaikan sambutan meminta maaf kepada seluruh muktamirin karena keterlamatan datang. Sebab, dia masih mendatangi salah satu Pondok Pesantren di wilayah Prenduan Kecamatan Pragaan Sumenep.
”Saya memang memakai seragam Ansor. Ternyata ada salah orang yang nyeletuk, ‘Kok Ada Banser?’. Lho, saya yang datang ke pesantren itu malah dikira petugas Banser,” cerita Busyro Karim disambut tepuk tangan muktamirin.
BACA JUGA : Inilah Rahasia Muhri Zain Kembali Terpilih Ketua GP Ansor
Menurutnya, dengan kata-kata itu menunjukkan masih ada warga Sumenep yang belum mengetahui perbedaan Banser, Ansor, NU dan lembaga lain yang berkaitan dengan NU.
”Saya sangat tertarik dengan tema sekarang. Sebab, tatangan Ansor kedepan memang harus menata jamiyah. Bahkan, Alhamdulillah, Ansor Sumenep sudah akreditasi A. Pamekasan B, Sampang, C dan Bangkalan A,” terang Busyro Karim.
Maka dengan akreditasi itu, tantangan Ansor Sumenep pasti akan lebih berat dibandingkan Pamekasan dan Sampang. Dengan akreditasi itu, menunjukkan bahwa penataan lembaga sudah mulai membaik.
”Menata lembaga tidak mudah, tetapi harus ditingkatkan. Lembaga harus hidup, lembaga ini harus menjadi proses pendidikan. Lembaga ini bukan hanya dijadikan sebagai proses berorganisasi, tetapi juga bermasyarakat,” imbuhnya.
Lembaga ini, lanjutnya, harus dijadikan sebagai proses pemberdayaan ekonomi. Lembaga ini harus bisa membawa kadernya kemanapun yang bisa membawa nilai-nilai NU.
“Terus terang di luar NU banyak yang menoleh kepada lembaga Ansor, maka ketika tidak diperjuangkan nilai-nilai ke NU an. Maka hanya menjadi nama alumni. Tapi, tidak pernah membawa nama Ansor di tempat barunya,” terang mantan Ketua DPRD Sumenep. (*)
Pewarta : Ibnu Toha
KOMENTAR