PAMEKASAN (BeritaFajar.Co) – Tanggung jawab kiai dan ulama cukup besar untuk mendidik moral masyarakat. Bahkan, para kiai tidak jarang diha...
PAMEKASAN (BeritaFajar.Co) – Tanggung jawab kiai dan ulama cukup besar untuk mendidik moral masyarakat. Bahkan, para kiai tidak jarang dihadapkan pada sebuah situasi sulit ketika harus menjaga agar prinsip-prinsipnya tidak terlukai.
Kiai Muhammad, seorang Kiai di Desa Bandungan Kecamatan Pakong, Kabupaten Pamkesanan, Madura, Jawa Timur, dikenal sangat alim namun menutupi dirinya dari keterkenalan khlayak ramai. Konon, kiai ini, pernah nyantri di Pesantren Kiai Maksum Lasem. Ia juga rupanya memiliki hubungan yang baik dengan pesntren Tebuireng, Denanyar, Tambakberas dan Rejoso Jombang.
Suatu ketika, Kiai Muhammad pernah bercerita kepada R. Ahmad Nur Kholis, penulis NU Online, bahwa suatu hari datanglah kepada kiai seorang warga desanya yang baru pulang bekerja dari luar negeri sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI).
Ketika sowan pada kiai, si tamu rupanya memendam amarah yang memuncak. Lalu, meminta izin keada kiai untuk membunuh seseorang. Pasalnya, orang yang dimaksud ini telah main serong dengan istrinya selama ditinggal bekerja ke luar negeri.
“Saya minta izin kiai, saya minta restu dan doanya, saya mau carok.” Katanya.
“Kenapa?” kata sang kiai.
“Istri saya diambil orang,” ungkapnya.
Namun beruntung, sang kiai dapat meredam emosi warga tersebut. Sang kiai mengungkapkan bahwa tidak ada untungnya berkelahi dan bunuh-membunuh. Ia juga mengungkapkan bahwa jika seorang warga tersebut menang, ia akan dipenjara.
Selama di penjara siapa yang tahu kalau istrinya akan dicuri orang lagi. Jika ia kalah dan harus mati, maka istrinya akan kawin lagi. Jadi sebaiknya carok itu jangan pernah terjadi. “Menurut saya,” lanjut sang kiai dengan nada tenang dan hati-hati, “Sebaiknya jangan ada bunuh-bunuhan karena tidak ada untungnya baik buat yang kau bunuh maupun dirimu sendiri.”
“Lagian kamu sendiri juga agak keliru, masa istri ditinggal ke luar negeri, dalam hitungan tahun lagi,” kata Kiai Muhammad yang mengerti bahwa tamunya itu habis pulang dari luar negeri.
“Sebaiknya jangan ada carok itu, kamu lebih baik hidup tenang dan jaga istrimu baik-baik. Yang lalu biarlah berlalu sebagai pelajaran. Kalau harus ke luar negeri berangkatlah bersama jangan sendiri-sendiri,” tutur Kiai Muhammad sebagai pamungkas.
Mendapat penjelasan dari kiai, warga tersebut langsung menyadari emosinya dan pulang dengan perasaan yang penuh kesadaran akan kesalahan dirinya telah meninggalkan istri ke luar negeri bertahun-tahun. Pertumpahan darah pun dihindarkan.
Kiai Muhammad sukses memberi jalan tengah “menang sama menang” dan menghindarkan warga tersebut dari perbuatan yang mencelakakan orang lain dan dirinya. (*)
Sumber : NU Online
Kiai Muhammad, seorang Kiai di Desa Bandungan Kecamatan Pakong, Kabupaten Pamkesanan, Madura, Jawa Timur, dikenal sangat alim namun menutupi dirinya dari keterkenalan khlayak ramai. Konon, kiai ini, pernah nyantri di Pesantren Kiai Maksum Lasem. Ia juga rupanya memiliki hubungan yang baik dengan pesntren Tebuireng, Denanyar, Tambakberas dan Rejoso Jombang.
Suatu ketika, Kiai Muhammad pernah bercerita kepada R. Ahmad Nur Kholis, penulis NU Online, bahwa suatu hari datanglah kepada kiai seorang warga desanya yang baru pulang bekerja dari luar negeri sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI).
Ketika sowan pada kiai, si tamu rupanya memendam amarah yang memuncak. Lalu, meminta izin keada kiai untuk membunuh seseorang. Pasalnya, orang yang dimaksud ini telah main serong dengan istrinya selama ditinggal bekerja ke luar negeri.
“Saya minta izin kiai, saya minta restu dan doanya, saya mau carok.” Katanya.
“Kenapa?” kata sang kiai.
“Istri saya diambil orang,” ungkapnya.
Namun beruntung, sang kiai dapat meredam emosi warga tersebut. Sang kiai mengungkapkan bahwa tidak ada untungnya berkelahi dan bunuh-membunuh. Ia juga mengungkapkan bahwa jika seorang warga tersebut menang, ia akan dipenjara.
Selama di penjara siapa yang tahu kalau istrinya akan dicuri orang lagi. Jika ia kalah dan harus mati, maka istrinya akan kawin lagi. Jadi sebaiknya carok itu jangan pernah terjadi. “Menurut saya,” lanjut sang kiai dengan nada tenang dan hati-hati, “Sebaiknya jangan ada bunuh-bunuhan karena tidak ada untungnya baik buat yang kau bunuh maupun dirimu sendiri.”
“Lagian kamu sendiri juga agak keliru, masa istri ditinggal ke luar negeri, dalam hitungan tahun lagi,” kata Kiai Muhammad yang mengerti bahwa tamunya itu habis pulang dari luar negeri.
“Sebaiknya jangan ada carok itu, kamu lebih baik hidup tenang dan jaga istrimu baik-baik. Yang lalu biarlah berlalu sebagai pelajaran. Kalau harus ke luar negeri berangkatlah bersama jangan sendiri-sendiri,” tutur Kiai Muhammad sebagai pamungkas.
Mendapat penjelasan dari kiai, warga tersebut langsung menyadari emosinya dan pulang dengan perasaan yang penuh kesadaran akan kesalahan dirinya telah meninggalkan istri ke luar negeri bertahun-tahun. Pertumpahan darah pun dihindarkan.
Kiai Muhammad sukses memberi jalan tengah “menang sama menang” dan menghindarkan warga tersebut dari perbuatan yang mencelakakan orang lain dan dirinya. (*)
Sumber : NU Online
KOMENTAR