BERITAFAJAR.co - Ratusan partisipan dari berbagai daerah menghadiri Sekolah Budaya ke-17 yang digelar Sekolah Budaya Tunggulwulung (SBT) ya...
BERITAFAJAR.co - Ratusan partisipan dari berbagai daerah menghadiri Sekolah Budaya ke-17 yang digelar Sekolah Budaya Tunggulwulung (SBT) yang bertempat Jl. Sasando no. 09 Kota Malang, Jawa Timur.
Kegiatan yang mengambil tema "Rahasia Macapat dan Babaring Japa Mantra" itu, Dihadiri oleh 200 partisipan dari berbagai kalangan masyarakat kota Malang.
Pantauan Beritafajar.co di lokasi, turut hadir beberapa pemerhati budaya dari berbagai kota di Jawa Timur.
Suasana semakin meriah ketika Rois SP. Seorang guru SD Internasional di Malang memberikan materi tentang macapat sebagai sebuah Afirmasi. Pengampu pelajaran Budaya Jawa ini terlihat sangat detail dalam setiap penjelasannya.
Tak kalah heboh, KRT Eko Wahyudi Rekso Mulyo, seorang praktisi spiritual dan pelaku budaya dari Krian Sidoarjo, menerangkan apa itu Japa Mantra. Jenis-jenis dan kegunaannya. Juga prakteknya dalam kehidupan masyarakat Jawa sehari-hari.
"Fakta Japa Mantra menunjukkan bahwa sejak dulu leluhur Nusantara sudah mengakui dan berhubungan dengan Sang Maha Kuasa melalui Japa Mantra tersebut," terangnya.
Kegiatan melestarikan budaya ini diselenggarakan oleh Komunitas Budaya Tunggulwulung didukung oleh 46 komunitas lintas Budaya. Baik di kota Malang maupun kota-kota di Jawa Timur lainnya.
Selain itu, Juga ada beberapa tema penting tentang kebudayaan seperti Tosan Aji, Candi, Wayang, Aksara Jawa, Udheng Malangan, Topeng Malangan, Nyi Puthut, Ubo Rampe, Pancasila dan lain-lain.
Salah satu penggagas SBT, KRAP Prasena Cakra Adiningrat menyampaikan, bahwa eksistensi Sekolah Budaya adalah sebagai Kawah Candradimuka para Penjaga Budaya Leluhur Nusantara.
"Setiap tema yang diangkat selalu memberikan ilmu dan bekal pengetahuan kepada para peserta selaku putra putri Nusantara agar tetap menjaga dan nguri-nguri Budaya Nusantara tercinta," imbuhnya.
Sementara itu, Kanjeng Prasena juga menegaskan, Sekolah Budaya Tunggulwulung mempunyai program pendidikan yang dikemas dalam TOT (Training Of Trainer) yang merupakan pendidikan dan pelatihan untik mencetak kader-kader Budaya.
"Kader-kader budaya itu diharapkan mampu menyampaikan materi dan menjadi presenter yang baik untuk tema-tema Budaya Nusantara," pungkasnya (*)
Pewarta : Andi Tamam
Editor : Ibnu Toha
Kegiatan yang mengambil tema "Rahasia Macapat dan Babaring Japa Mantra" itu, Dihadiri oleh 200 partisipan dari berbagai kalangan masyarakat kota Malang.
Pantauan Beritafajar.co di lokasi, turut hadir beberapa pemerhati budaya dari berbagai kota di Jawa Timur.
Suasana semakin meriah ketika Rois SP. Seorang guru SD Internasional di Malang memberikan materi tentang macapat sebagai sebuah Afirmasi. Pengampu pelajaran Budaya Jawa ini terlihat sangat detail dalam setiap penjelasannya.
Tak kalah heboh, KRT Eko Wahyudi Rekso Mulyo, seorang praktisi spiritual dan pelaku budaya dari Krian Sidoarjo, menerangkan apa itu Japa Mantra. Jenis-jenis dan kegunaannya. Juga prakteknya dalam kehidupan masyarakat Jawa sehari-hari.
"Fakta Japa Mantra menunjukkan bahwa sejak dulu leluhur Nusantara sudah mengakui dan berhubungan dengan Sang Maha Kuasa melalui Japa Mantra tersebut," terangnya.
Kegiatan melestarikan budaya ini diselenggarakan oleh Komunitas Budaya Tunggulwulung didukung oleh 46 komunitas lintas Budaya. Baik di kota Malang maupun kota-kota di Jawa Timur lainnya.
Selain itu, Juga ada beberapa tema penting tentang kebudayaan seperti Tosan Aji, Candi, Wayang, Aksara Jawa, Udheng Malangan, Topeng Malangan, Nyi Puthut, Ubo Rampe, Pancasila dan lain-lain.
Salah satu penggagas SBT, KRAP Prasena Cakra Adiningrat menyampaikan, bahwa eksistensi Sekolah Budaya adalah sebagai Kawah Candradimuka para Penjaga Budaya Leluhur Nusantara.
"Setiap tema yang diangkat selalu memberikan ilmu dan bekal pengetahuan kepada para peserta selaku putra putri Nusantara agar tetap menjaga dan nguri-nguri Budaya Nusantara tercinta," imbuhnya.
Sementara itu, Kanjeng Prasena juga menegaskan, Sekolah Budaya Tunggulwulung mempunyai program pendidikan yang dikemas dalam TOT (Training Of Trainer) yang merupakan pendidikan dan pelatihan untik mencetak kader-kader Budaya.
"Kader-kader budaya itu diharapkan mampu menyampaikan materi dan menjadi presenter yang baik untuk tema-tema Budaya Nusantara," pungkasnya (*)
Pewarta : Andi Tamam
Editor : Ibnu Toha
KOMENTAR