SUMENEP (BeritaFajar.Co) – Berdasarkan hasil investigasi Forum Pemuda Raas (FPR) Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, tentang arus mudik t...
SUMENEP (BeritaFajar.Co) – Berdasarkan hasil investigasi Forum Pemuda Raas (FPR) Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, tentang arus mudik tujuan Jangkar-Raas ditemukan banyak adanya manipulasi data.
Ketua FPR Sumenep, Suryadi Syah mengatakan, investigasi dilakukan terhadap bebrapa instansi terkait. Hasilnya, Jumlah pemudik antara data FPR dan data Perusahaan dan Pemerintah tidak sama, dalam hal ini dimungkinkan adanya manipulasi data penumpang kapal yang selalu over kapasitas.
”Dimana perusahaan melaporkan data pemudik sesuai dengan jumlah penumpang dan sesuai dengan standart. Misalnya, jumlah standat kapal hanya bisa muat 160 penumpang,” terang Suryadi Syah.
Namun, lanjutnya, karena desakan penumpang akhirnya kapal memuat 350 penumpang. Maka penumpang yang 190 orang tidak masuk dalam data yang disetor perusahaan ke pemerintah, yang disetorkan hanya 160 penumpang.
”Sehingga data pemudik tujuan Jangkar-Raas yang jumlahnya berkisar antara 20-25ribu hanya terdaftar sekitar 3.500 pemudik. Jika hl ini terjadi maka kemungkinan efeknya akan sangat luas,” jelasnya.
Selain itu, calo sengaja di buat dan di biarkan oleh pihak-pihak tertentu yang memang dengan sengaja agar kondisi dan situasi arus mudik tidak lancar dan tdk nyaman. Termasuk juga, Jalur koordinasi antar pemerintah rumit.
”ingat Jangkar adalah hak kekuasaan pemerintahan masuk Kabupaten Situbondo. Sehingga apa-apa yang terjadi terjadi disana (Situbondo), Pemkab sumenep tidak bisa berbuat apa-apa. Terkecuali langsung mendpat respon dari Pemprov Jatim,” imbuhnya.
Dia mengingatkan, agar para pemudik memastikan ketika membeli tiket masuk dalam data inventarisir kapal. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga ketika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
”Krena jika tidak masuk dalam data inventarisir penumpang kapal, maka perusahaan tidak berhak menjaga atas keselamatan anda,” pungkasnya. (*)
Ketua FPR Sumenep, Suryadi Syah mengatakan, investigasi dilakukan terhadap bebrapa instansi terkait. Hasilnya, Jumlah pemudik antara data FPR dan data Perusahaan dan Pemerintah tidak sama, dalam hal ini dimungkinkan adanya manipulasi data penumpang kapal yang selalu over kapasitas.
”Dimana perusahaan melaporkan data pemudik sesuai dengan jumlah penumpang dan sesuai dengan standart. Misalnya, jumlah standat kapal hanya bisa muat 160 penumpang,” terang Suryadi Syah.
Namun, lanjutnya, karena desakan penumpang akhirnya kapal memuat 350 penumpang. Maka penumpang yang 190 orang tidak masuk dalam data yang disetor perusahaan ke pemerintah, yang disetorkan hanya 160 penumpang.
”Sehingga data pemudik tujuan Jangkar-Raas yang jumlahnya berkisar antara 20-25ribu hanya terdaftar sekitar 3.500 pemudik. Jika hl ini terjadi maka kemungkinan efeknya akan sangat luas,” jelasnya.
Selain itu, calo sengaja di buat dan di biarkan oleh pihak-pihak tertentu yang memang dengan sengaja agar kondisi dan situasi arus mudik tidak lancar dan tdk nyaman. Termasuk juga, Jalur koordinasi antar pemerintah rumit.
”ingat Jangkar adalah hak kekuasaan pemerintahan masuk Kabupaten Situbondo. Sehingga apa-apa yang terjadi terjadi disana (Situbondo), Pemkab sumenep tidak bisa berbuat apa-apa. Terkecuali langsung mendpat respon dari Pemprov Jatim,” imbuhnya.
Dia mengingatkan, agar para pemudik memastikan ketika membeli tiket masuk dalam data inventarisir kapal. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga ketika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
”Krena jika tidak masuk dalam data inventarisir penumpang kapal, maka perusahaan tidak berhak menjaga atas keselamatan anda,” pungkasnya. (*)
KOMENTAR