Foto: saat petani sedang panen tembakau
BERITAFAJAR.CO - Pemerintah Daerah Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur diminta untuk mengantisipasi anjloknya harga tembakau rajangan. Sebagian warga sudah memulai panen.
"Pemerintah daerah harus mempunyai terobosan, meski cuaca bagus tidak memungkinkan harga di petani anjlok," kata Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Sumenep, M Ramzi.
Salah satu upaya yang dilakukan, menjalin komunikasi dengan pihak gudang. Selain itu, melakukan pengawasan dibawah. "Sebab, permainan harga bisa terjadi ditingkat pedagang atau tengkolak," jelasnya.
Sementara itu Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Holtikurtura Sumenep, Bambang Heriyanto mengatakan untuk pengawasan akan dan komunikasi dengan pihak gudang pasti dilakukan.
Hanya saja pemerintah daerah tidak bisa mengintervensi soal harga.
"Untuk mengantisipasi rendahnya harga tembakau. Kami intens melakukan komunikasi dengan pabrikan. Pihak pabrikan menginginkan tembakau tegal gunung," kata jelasnya.
Sedangkan di Sumenep, selain di tegal gunung, banyak petani yang menanam tembakau di daerah persawahan. Hal itu tentu tidak berbanding lurus dengan yang dibutuhkan pabrikan.
"Meskipun ada juga yang menginginkan tembakau tegal sawah, seperti pabrik bentoel. Tetapi selama ini masih jarang (pabrikannya)," terangnya.
Kemudian, Bambang juga menyarankan supaya petani memperhatikan pasca panen. Selama ini petani masih mengunakan alat rajang manual. Sebaiknya petani sudah menggunakan perajang tembakau modern yang menghasilkan kualitas lebih bagus.
"Maka dari itu, kami harap petani mampu menghasilkan tembakau yang kualitasnya bagus dan juga pabrikan membeli dengan harga yang tinggi," tukasnya.
Tahun ini pemerintah daerah menargetkan tanaman rembakau di Sumenep mencapai Pada musim tanam tembakau tahun ini seluas 21.893 hektar. Namun, hingga kini masih kisaran 50 persen dari target awal. (di/ibn).
"Pemerintah daerah harus mempunyai terobosan, meski cuaca bagus tidak memungkinkan harga di petani anjlok," kata Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Sumenep, M Ramzi.
Salah satu upaya yang dilakukan, menjalin komunikasi dengan pihak gudang. Selain itu, melakukan pengawasan dibawah. "Sebab, permainan harga bisa terjadi ditingkat pedagang atau tengkolak," jelasnya.
Sementara itu Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Holtikurtura Sumenep, Bambang Heriyanto mengatakan untuk pengawasan akan dan komunikasi dengan pihak gudang pasti dilakukan.
Hanya saja pemerintah daerah tidak bisa mengintervensi soal harga.
"Untuk mengantisipasi rendahnya harga tembakau. Kami intens melakukan komunikasi dengan pabrikan. Pihak pabrikan menginginkan tembakau tegal gunung," kata jelasnya.
Sedangkan di Sumenep, selain di tegal gunung, banyak petani yang menanam tembakau di daerah persawahan. Hal itu tentu tidak berbanding lurus dengan yang dibutuhkan pabrikan.
"Meskipun ada juga yang menginginkan tembakau tegal sawah, seperti pabrik bentoel. Tetapi selama ini masih jarang (pabrikannya)," terangnya.
Kemudian, Bambang juga menyarankan supaya petani memperhatikan pasca panen. Selama ini petani masih mengunakan alat rajang manual. Sebaiknya petani sudah menggunakan perajang tembakau modern yang menghasilkan kualitas lebih bagus.
"Maka dari itu, kami harap petani mampu menghasilkan tembakau yang kualitasnya bagus dan juga pabrikan membeli dengan harga yang tinggi," tukasnya.
Tahun ini pemerintah daerah menargetkan tanaman rembakau di Sumenep mencapai Pada musim tanam tembakau tahun ini seluas 21.893 hektar. Namun, hingga kini masih kisaran 50 persen dari target awal. (di/ibn).

KOMENTAR