Meskipun sering kali setelah dikalkulasi dengan biaya operasional pertanian selalu tidak sebanding dengan hasil yang diperolehnya.
BERITAFAJAR.CO - Kini kaum petani telah memasuki musim panen. Baik panen jagung, padi,
bawang merah, kacang tanah dan beberapa pertanian lainnya. Musim panen menjadi puncak "kebahagian" para petani.
Menjadi kebahagian yang tak terhingga karena sekitar empat bulan
lamanya bercocok tanam, merawat, memupuk dan sebagainya, sehingga bisa menikmati
hasil dari jerih payah selama berhari-hari dan bulan.
Perjuangan di bawah terik matahari dan guyuran hujan, bisa ditebus
dengan hasil panen dengan sedikit memuaskan. Meskipun sering kali setelah
dikalkulasi dengan biaya operasional selalu tidak sebanding dengan hasil yang
diperolehnya.
Apalagi, di setiap musim panen harga hasil pertanian selalu anjlok,
rutinitas hukum pasar berjalan sejak dulu hingga sekarang. Setiap stok barang
banyak, maka permintaan berkurang, dan dampaknya harga hasil pertanian turun
drastis.
Entah sampai kapan petani menjadi objek ketidak-adilan di negeri ini. Hukum
pasar selalu tidak berpihak kepada petani. Hasil jerih payah tidak sebanding
dengan harga pasar. Pemerintah, sebagai ”orang tua” kaum petani, terkesan cuek saja
meski telah mengetahui jeritan petani yang tidak berdaya.
Sementara pengusaha dan pemilik modal lainnya di negeri ini, diakui
lebih mendapatkan porsi yang dominan, serta seakan memiliki perlindungan lebih dari
pihak pemerintah, dibandingkan kaum petani. Terbuksi hasil produksi perusahaan
yang dikelola dipasarkan dengan bebas dengan harga fantastis yang
ujung-ujungnya memeras rakyat bawah.
Sedangkan Wakil Rakyat yang dipercaya memperjuangkan nasib petani,
malah sibuk urusan politik yang lebih mementingkan kepentingannya sendiri dan
kelompoknya, ketimbang memikirkan nasib petani. Buktinya harga hasil dari tanam
pertanian petani baik jagung maupun padi saat ini sangat murah dan tetap tidak
diperjuangkan.
Sejauh ini wakil rakyat tidak maksimal melahirkan regulasi yang
berpihak pada petani. Padahal petani merupakan pahlawan penjaga gawang negeri
ini. Bisa dibayangkan bila tidak ada petani. Misalkan Negeri ini dikuasai
pengusaha, pemilik modal, pabrik merajalela, lahan pertanian jadi lautan
bangunan bertingkat. Sungguh mengerikan bila melihat kenyataan ini.
Penulis selaku anak petani mulai khawatir, anak cucu petani nantinya
akan terasing dan terusir dengan sendirinya dari daerahnya sendiri. Lalu siapa
lagi yang bisa diharapkan oleh petani, untuk bisa memperjuangkan nasibnya?.
Bila pemerintah, wakil rakyat dan pihak pemangku kebijakan di negeri ini sudah
tidak bisa bersahabat lagi dengan petani. (*)
Penulis adalah Ahmad Sa'ie, (Anak Petani di Sumenep)

KOMENTAR