Foto:ilustrasi
BERITAFAJAR.CO - Penjualan bahan bakar minyak (BBM) di Kecamatan Sapeken, Pulau Sapeken, Sumenep, Madura, Jawa Timur disinyalir tidak sesuai dengan harga yang ditetapkan Pertamina.
Informasinya, BBM oleh Agen Penyuplai Minyak dan Solar (APMS) dijual diatas harga yang ditentukan pihak pertamina, yakni dijual seharga Rp 5.500 hingga Rp5.750 per liter. Mestinya harga BBM jenis solar Rp5.150 perliter.
"Ini sudah jelas melanggar aturan, karena harga pemerintah telah menetapkan satu harga," kata salah satu tokoh masyarakat Kecamatan Sapeken yang diminta namanya tidak dipublikasi. (23/3/2018)
Saat ini di Kecamatan Sapeken terdapat dua APMS, yakni APMS yang dikelola oleh CV. Duta Sapeken Energi dan APMS dibawah pengelolaan CV. Sumber Alam Makmur.
Menurutnya, setelah dihutung dengan penjualan saat ini APMS sudah mengantongi keuntungan yang cukup besar, hingga mencapai puluhan juta rupiah.
Sebab, selain selisih harga yang dijual kepada konsumen, APMS juga mendapatkan keuntungan dari pembelian dari Pertamina. "Margin pembelian Rp200 perliter. Itu resmi dari Pertamina," ungkapnya.
Tidak hanya itu, pihak APMS juga diduga sering menjual BBM kepada konsumen dengan memakai drigen di Pelabuhan. Sehingga penjualannya dilakukan diluar mikanisme yang ada.
"Aturannya setelah dibongkar dari kapal tangker langsung masuk tangki APMS, baru APMS bisa menjual kepada konsumen. Bukan dijual di dermaga," tegasnya.
Sementara itu salah satu pengelola APMS H. Ardi membenarkan jika APMS yang dikelola menjual BBM kepada konsumen seharga Rp5.750 per liter. Alasannya harga tersebut merupakan harga ditingkat pengecer.
"Betul, ada yang menjual 5.750 per liter, namun itu dari pengecer ke pembeli bukan harga dari APMS,” terang Ardi.
Disinggung penjualan di dermaga ke drigen, pemilik APMS dibawah naungan CV. Sumber Alam Makmur membenarkan.
"Memang benar, kami langsung melayani pelanggan di dermaga, namun itu sudah mendapat persetujuan dari pihak kecamatan,” terang Ardi.
Apalagi kata Ardi, kapasitas tangki yang dimilikinya hanya bisa menampung 20 ton saja, jadi itu yang kita penuhi lebih dulu.
"Selebihnya langsung kami salurkan ke pelanggan tapi yang punya rekom,” tandasnya. (di/ibn).
Informasinya, BBM oleh Agen Penyuplai Minyak dan Solar (APMS) dijual diatas harga yang ditentukan pihak pertamina, yakni dijual seharga Rp 5.500 hingga Rp5.750 per liter. Mestinya harga BBM jenis solar Rp5.150 perliter.
"Ini sudah jelas melanggar aturan, karena harga pemerintah telah menetapkan satu harga," kata salah satu tokoh masyarakat Kecamatan Sapeken yang diminta namanya tidak dipublikasi. (23/3/2018)
Saat ini di Kecamatan Sapeken terdapat dua APMS, yakni APMS yang dikelola oleh CV. Duta Sapeken Energi dan APMS dibawah pengelolaan CV. Sumber Alam Makmur.
Menurutnya, setelah dihutung dengan penjualan saat ini APMS sudah mengantongi keuntungan yang cukup besar, hingga mencapai puluhan juta rupiah.
Sebab, selain selisih harga yang dijual kepada konsumen, APMS juga mendapatkan keuntungan dari pembelian dari Pertamina. "Margin pembelian Rp200 perliter. Itu resmi dari Pertamina," ungkapnya.
Tidak hanya itu, pihak APMS juga diduga sering menjual BBM kepada konsumen dengan memakai drigen di Pelabuhan. Sehingga penjualannya dilakukan diluar mikanisme yang ada.
"Aturannya setelah dibongkar dari kapal tangker langsung masuk tangki APMS, baru APMS bisa menjual kepada konsumen. Bukan dijual di dermaga," tegasnya.
Sementara itu salah satu pengelola APMS H. Ardi membenarkan jika APMS yang dikelola menjual BBM kepada konsumen seharga Rp5.750 per liter. Alasannya harga tersebut merupakan harga ditingkat pengecer.
"Betul, ada yang menjual 5.750 per liter, namun itu dari pengecer ke pembeli bukan harga dari APMS,” terang Ardi.
Disinggung penjualan di dermaga ke drigen, pemilik APMS dibawah naungan CV. Sumber Alam Makmur membenarkan.
"Memang benar, kami langsung melayani pelanggan di dermaga, namun itu sudah mendapat persetujuan dari pihak kecamatan,” terang Ardi.
Apalagi kata Ardi, kapasitas tangki yang dimilikinya hanya bisa menampung 20 ton saja, jadi itu yang kita penuhi lebih dulu.
"Selebihnya langsung kami salurkan ke pelanggan tapi yang punya rekom,” tandasnya. (di/ibn).
KOMENTAR