BERITAFAJAR.co – Sejumlah daerah terutama di wilayah pesisir Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, dikenal sebagai penghasil petis dengan ...
BERITAFAJAR.co – Sejumlah daerah terutama di wilayah pesisir Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, dikenal sebagai penghasil petis dengan kualitas baik. Sebab, sebagian penduduk di ujung timur Pulau Madura itu, berprofesi sebagai nelayan.
Berdasarkan hasil penelusuran seperti di Desa Lobuk, Kecamatan Bluto, kaum ibu berusaha memaksimalkan hasil laut dengan memproduksi petis. Sehingga, tidak heran jika produksi petis di Sumenep menjadi terbaik dan menjadi produksi rumahan.
Salah satu pembuat petis, Suro mengatakan, sejumlah nelayan tidak harus melaut setiap hari untuk bisa mendaatkan penghasilan tambahan. Penghasilan akan terus bertambah dari petis meski sedang libur melaut atau cuaca buruk.
”Proses pembuatan petis itu, dari hasil tangkapan ikan dibersihkan kemudian dikukus secara bersamaan hingga air sari pati ikan keluar semua. Air sari pati ikan itu kemudian dimasak lagi hingga mendidih,” terangnya, Jumat (24/2/2017).
Setelah itu, lanjutnya, diberi campuran penyedap rasa dan gula agar rasanya tidak terlalu asin sehingga menghasilkan tekstur kenyal pada petis. Baru setelah itu, didinginkan dan ditarik-tarik agar warna petis yang semula hitam menjadi coklat.
Dia mengaku sudah 3 tahun menjadi pembuat petis dengan modal awal Rp 250 ribu. Kini, setiap hari harinya mampu menghasilkan 40 toples petis. ”Kalau setiap satu toples dijual Rp 4 Ribu. Pemesanan bukan hanya di Madura, banyak pula dari luar Madura,” terangnya. (*)
Pewarta : Ahmadi
Berdasarkan hasil penelusuran seperti di Desa Lobuk, Kecamatan Bluto, kaum ibu berusaha memaksimalkan hasil laut dengan memproduksi petis. Sehingga, tidak heran jika produksi petis di Sumenep menjadi terbaik dan menjadi produksi rumahan.
Salah satu pembuat petis, Suro mengatakan, sejumlah nelayan tidak harus melaut setiap hari untuk bisa mendaatkan penghasilan tambahan. Penghasilan akan terus bertambah dari petis meski sedang libur melaut atau cuaca buruk.
”Proses pembuatan petis itu, dari hasil tangkapan ikan dibersihkan kemudian dikukus secara bersamaan hingga air sari pati ikan keluar semua. Air sari pati ikan itu kemudian dimasak lagi hingga mendidih,” terangnya, Jumat (24/2/2017).
Setelah itu, lanjutnya, diberi campuran penyedap rasa dan gula agar rasanya tidak terlalu asin sehingga menghasilkan tekstur kenyal pada petis. Baru setelah itu, didinginkan dan ditarik-tarik agar warna petis yang semula hitam menjadi coklat.
Dia mengaku sudah 3 tahun menjadi pembuat petis dengan modal awal Rp 250 ribu. Kini, setiap hari harinya mampu menghasilkan 40 toples petis. ”Kalau setiap satu toples dijual Rp 4 Ribu. Pemesanan bukan hanya di Madura, banyak pula dari luar Madura,” terangnya. (*)
Pewarta : Ahmadi
KOMENTAR