BERITAFAJAR.co - Ribuan warga dan tokoh ulama di Sumenep, Madura, Jawa Timur menggelar istighasah di lokasi wisata Batu Kapur di Desa Batup...
BERITAFAJAR.co - Ribuan warga dan tokoh ulama di Sumenep, Madura, Jawa Timur menggelar istighasah di lokasi wisata Batu Kapur di Desa Batuputih Daya Kecamatan Batuputih. Kegiatan tersebut sebagai bentuk penolakan warga terhadap investor asing yang dinilai telah menyengsarakan warga setempat.
Kegiatan istighasah sebagai bentuk penolakan investor asing yang melibatkan ribuan warga itu, karena banyak lahan milik warga diserobot dan dijadikan tempat wisata, atau tanah alias lahan pertanian warga di jadijadikan tambak udang. Akibatnya warga kehilangan lapangan pekerjaan.
Istighasah dilakukan dengan membaca tahlil, solawat dan bacaan lainnya dengan harapan warga masyarakat, segala musibah, marabahaya dan malapetaka tidak menimpa terhadap masyarakat. Salah satunya, bahaya dari para investor asing yang mulai mengusai sejumlah lahan milik warga.
Inisiator penyelenggara kegiatan istighasah, Fathorrahman mengatakan, sejak adanya investor asing yang mengusai lahan di daerah, mengakibatkan banyak warga kehilangan pekerjaan, sebagai penambang batu kapur untuk bahan bangunan.
”Kami menolak investor asing yang dapat menyengsarakan rakyat. Menguasai lahan milik warga dan warga hingga kehilangan pekerjaan dan mata pencaharian,” tandas Fathorrahman kepada wartawan.
Menurutnya, lokasi penambangan yang biasa menjadi tempat mata pencarian sudah dikuasi oleh investor dan penambang banyak yang ditangkap. Padahal, penambangan batu itu sudah menjadi penghasilan warga setempat untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Dikatakan, warga khawatir bila investor asing dibiarkan leluasa menguasai daerah maka akan mengancam tatanan masyarakat yang sudah mapan. Bahkan secara perlahan dapat mengusir warga setempat dari desa, lebih-lebih terhadap genarasi muda.
Selain itu, warga menolak adanya wisata batu kapur yang sudah ramai dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah di Jawa Timur, karena kedatangan mereka ke tempat ini dinilai tidak sesuai dengan norma dan agama warga setempat.
”Tempat wisata bukan hanya sebagai tempat dan memadu kasih. Makanya, kami menolak pula wisatawan yang tidak mematuhi norma Agama warga. Sebab, akan merusak moral generasi muda Sumenep,” pungkasnya. (*)
Pewarta : Ibnu Toha
Kegiatan istighasah sebagai bentuk penolakan investor asing yang melibatkan ribuan warga itu, karena banyak lahan milik warga diserobot dan dijadikan tempat wisata, atau tanah alias lahan pertanian warga di jadijadikan tambak udang. Akibatnya warga kehilangan lapangan pekerjaan.
Istighasah dilakukan dengan membaca tahlil, solawat dan bacaan lainnya dengan harapan warga masyarakat, segala musibah, marabahaya dan malapetaka tidak menimpa terhadap masyarakat. Salah satunya, bahaya dari para investor asing yang mulai mengusai sejumlah lahan milik warga.
Inisiator penyelenggara kegiatan istighasah, Fathorrahman mengatakan, sejak adanya investor asing yang mengusai lahan di daerah, mengakibatkan banyak warga kehilangan pekerjaan, sebagai penambang batu kapur untuk bahan bangunan.
”Kami menolak investor asing yang dapat menyengsarakan rakyat. Menguasai lahan milik warga dan warga hingga kehilangan pekerjaan dan mata pencaharian,” tandas Fathorrahman kepada wartawan.
Menurutnya, lokasi penambangan yang biasa menjadi tempat mata pencarian sudah dikuasi oleh investor dan penambang banyak yang ditangkap. Padahal, penambangan batu itu sudah menjadi penghasilan warga setempat untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Dikatakan, warga khawatir bila investor asing dibiarkan leluasa menguasai daerah maka akan mengancam tatanan masyarakat yang sudah mapan. Bahkan secara perlahan dapat mengusir warga setempat dari desa, lebih-lebih terhadap genarasi muda.
Selain itu, warga menolak adanya wisata batu kapur yang sudah ramai dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah di Jawa Timur, karena kedatangan mereka ke tempat ini dinilai tidak sesuai dengan norma dan agama warga setempat.
”Tempat wisata bukan hanya sebagai tempat dan memadu kasih. Makanya, kami menolak pula wisatawan yang tidak mematuhi norma Agama warga. Sebab, akan merusak moral generasi muda Sumenep,” pungkasnya. (*)
Pewarta : Ibnu Toha
KOMENTAR