BERITAFAJAR.co – Kasus salah satu pasien atas nama Mariyatul Qibtiyah, warga Desa Lalangun, Kecamatan Manding, yang tewas setelah menjalani...
BERITAFAJAR.co – Kasus salah satu pasien atas nama Mariyatul Qibtiyah, warga Desa Lalangun, Kecamatan Manding, yang tewas setelah menjalani operasi tumor di bagian perut di Rumah Sakit Dr Moh Anwar Sumenep, Madura Jawa Timur, terus menjadi sorotan. Apalagi banyak ditemukan kejanggalan.
Berdasarkan hasil investigasi salah seorang aktifis Gugus Anti Korupsi Indonesia (GAKI), Kabupaten Sumenep, diduga kuat pasien meninggal dunia akibat malapraktek terhadap salah satu pasien yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Sumenep itu.
”Setelah kami melakukan investigasi terhadap kasus tersebut, diduga kuat telah terjadi malapraktek di yang dilakukan salah seorang oknum dokter di Rumah Sakit tersebut,” tandas Ketua Gaki Sumenep, Ahmad Farid, BeritaFajar.co, Senin (17/10/2016).
BACA JUGA :
Diduga Kelalaian Dokter Bedah RSUD, Siswi SMP Wafat Setelah Operasi
Menurutnya, sesuai dengan hasil penelusuran Gaki, pasien setelah dilakukan operasi, salah seorang tim dokter menyampaikan pada keluarga pasien jika penyakit dari pasien sudah diangkat dan meminta uang sebesar Rp 550 ribu demi kepentingan pengiriman lab ke Surabaya.
”Tim itu meminta uang untuk biaya pengiriman ke Surabaya dalam rangka mengetahui apakah tumor ganas atau tidak. Nah, ini sangat aneh dan tidak masuk akal. Karena sudah melalui proses salah satu lab swasta di Sumenep dan operasi, tapi ternyata masih mau cek lab lagi,” terangnya.
Dia menjelaskan, tim dokter menyampaikan pada keluarga, pasien meninggal karena infeksi. Padahal, alasan tersebut sangat janggal. Apalagi, beberapa jam sebelum pasien meninggal dunia, dokter yang menangani masih sempat menyampaikan pada keluarga pasien, bahwa akan dilakukan operasi ulang bersama tim dokter ahli dari Surabaya.
”Dengan alasan mau dilakukan operasi ulang itu. Maka pertanyaan sederhananya, apanya yang mau dioperasi lagi?. Berarti operasi pertama ada kesalahan?. Orang bodoh pun tahu kalau ini ada kesalahan pada operasi pertama dengan pernyataan tim dokter akan dioperasi ulang,” terangnya.
Terpisah, Direktur RSUD dr Moh Anwar Kabupaten Sumenep, dr. Fitril Akbar, M.Kes ketika dihubungi melalui telepon selulernya oleh salah satu wartawan senior di Sumenep, tidak memberikan jawaban.
Seperti diberitakan sebelumnya, putri pertama pasangan suami istri dari Moh Toha dan Fitriyani ini menjalani operasi dilakukan pemeriksaan di ruang rawat inap RSUD Sumenep (05/10/2016). Keesokan harinya pada pukul 10.00 WIB, (6/10/2016) dilakukan operasi oleh dokter bedah, dr Husnul Ghaib.
Namun, sekitar satu minggu kemudian, tepatnya pada pada Jumat (14/10/2016) malam, korban meninggal dunia di Rumah Sakit setempat. Sesuai dengan keterangan perawat kepada keluarga korban, terjadi infeksi terhadap korban. (*)
Pewarta : Ibnu Toha
Berdasarkan hasil investigasi salah seorang aktifis Gugus Anti Korupsi Indonesia (GAKI), Kabupaten Sumenep, diduga kuat pasien meninggal dunia akibat malapraktek terhadap salah satu pasien yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Sumenep itu.
”Setelah kami melakukan investigasi terhadap kasus tersebut, diduga kuat telah terjadi malapraktek di yang dilakukan salah seorang oknum dokter di Rumah Sakit tersebut,” tandas Ketua Gaki Sumenep, Ahmad Farid, BeritaFajar.co, Senin (17/10/2016).
BACA JUGA :
Diduga Kelalaian Dokter Bedah RSUD, Siswi SMP Wafat Setelah Operasi
Menurutnya, sesuai dengan hasil penelusuran Gaki, pasien setelah dilakukan operasi, salah seorang tim dokter menyampaikan pada keluarga pasien jika penyakit dari pasien sudah diangkat dan meminta uang sebesar Rp 550 ribu demi kepentingan pengiriman lab ke Surabaya.
”Tim itu meminta uang untuk biaya pengiriman ke Surabaya dalam rangka mengetahui apakah tumor ganas atau tidak. Nah, ini sangat aneh dan tidak masuk akal. Karena sudah melalui proses salah satu lab swasta di Sumenep dan operasi, tapi ternyata masih mau cek lab lagi,” terangnya.
Dia menjelaskan, tim dokter menyampaikan pada keluarga, pasien meninggal karena infeksi. Padahal, alasan tersebut sangat janggal. Apalagi, beberapa jam sebelum pasien meninggal dunia, dokter yang menangani masih sempat menyampaikan pada keluarga pasien, bahwa akan dilakukan operasi ulang bersama tim dokter ahli dari Surabaya.
”Dengan alasan mau dilakukan operasi ulang itu. Maka pertanyaan sederhananya, apanya yang mau dioperasi lagi?. Berarti operasi pertama ada kesalahan?. Orang bodoh pun tahu kalau ini ada kesalahan pada operasi pertama dengan pernyataan tim dokter akan dioperasi ulang,” terangnya.
Terpisah, Direktur RSUD dr Moh Anwar Kabupaten Sumenep, dr. Fitril Akbar, M.Kes ketika dihubungi melalui telepon selulernya oleh salah satu wartawan senior di Sumenep, tidak memberikan jawaban.
Seperti diberitakan sebelumnya, putri pertama pasangan suami istri dari Moh Toha dan Fitriyani ini menjalani operasi dilakukan pemeriksaan di ruang rawat inap RSUD Sumenep (05/10/2016). Keesokan harinya pada pukul 10.00 WIB, (6/10/2016) dilakukan operasi oleh dokter bedah, dr Husnul Ghaib.
Namun, sekitar satu minggu kemudian, tepatnya pada pada Jumat (14/10/2016) malam, korban meninggal dunia di Rumah Sakit setempat. Sesuai dengan keterangan perawat kepada keluarga korban, terjadi infeksi terhadap korban. (*)
Pewarta : Ibnu Toha
KOMENTAR