BERITAFAJAR.co - Ribuan santri Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo sangat berpeluang mendapat gelar orang yang sejatinya berhijr...
BERITAFAJAR.co - Ribuan santri Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo sangat berpeluang mendapat gelar orang yang sejatinya berhijrah dan sebagai pahlawan yang mengharumkan daerahnya.
Sebab, mereka tak sekadar berhijrah dari tempat tinggalnya menuju Pondok Pesantren Sukorejo namun juga berhijrah menuju kebaikan dan menuntut ilmu pengetahuan yang akan disebarluaskan kepada masyarakatnya kelak.
Begitulah salah satu nasihat Prof. Habib Abdullah Muhammad Baharun, Rektor Universitas Al-Ahgaff Hadramaut Yaman, pada acara Muhadharah ‘Am tadi malam di Masjid Ibrahimy Sukorejo. Acara tersebut termasuk rangkaian peringatan tahun baru Islam.
Peringatan tahun baru Islam di Pondok Sukorejo diawali dengan doa tahun baru dan pawai keliling bershalawat, pada malam tahun baru. Kemudian pengajian umum dan acara ilmiah internasional dengan mendatangkan Rektor Universitas Al-Ahgaf.
Habib Abdullah mengatakan, tahun baru Islam berpatokan kepada momentum hijrah karena hijrah merupakan peristiwa yang sangat besar. Hijrah merupakan momentum pemisahan peristiwa yang hak dan yang batil.
Patokan kalender hijriyah tersebut terjadi pada masa Khalifah Umar bin Khattab dan yang mengusulkan berpedoman kepada peristiwa hijrah tersebut adalah Sayyidina Ali.
Pada konteks sekarang, menurut Habib Abdullah, hijrah yang hakiki merupakan berpindahan dari perbuatan buruk menjadi perbuatan baik, hijrah dari kejelekan menuju kebaikan. Dan santri Sukorejo amat berpeluang mendapat gelar orang yang berhijrah tersebut. Karena santri Sukorejo berhijrah dari rumahnya masing-masing menuju pesantren untuk menuntut ilmu.
Menurut Habib, pesantren merupakan banteng pertahanan Islam yang amat kokoh di Indonesia. Pondok Pesantren merupakan rumahnya orang yang berhijrah dari tidak tahu menjadi tahu, dari bodoh menjadi alim.
Karena itu, Profesor Abdullah mengharapkan agar pertama, para santri untuk memantabkan niat dari bisikan setan. Para santri agar sabar tidak mudah putus asa. “Kalian jangan mudah putus asa agar kelak bermanfaat bagi umat. Kalian sangat berpeluang menjadi orang yang berhijrah, menjadi pahlawan, dan menjadi ulama,” imbuhnya.
Kedua, para santri juga diharapkan memperbaiki niat. Mereka agar berjihad dan berusaha membenahi niat dalam menuntut ilmu. Tempatnya niat di dalam hati.
“Hati kalian jangan sampai dimasuki setan, hati kalian jangan sampai dicuri setan. Kalian harus menjaga hati kalian jangan sampai dirasuki setan. Jagalah dengan niat yang baik!” pesannya.
Ketiga, para santri agar senantiasa berbuat baik. Karena orang yang berhijrah merupakan orang yang berpindah dari jelek menjadi baik.
"Secara maknawi hijrah merupakan perpindahan menuju kebaikan. Hijrah menuju ilmu Rasulullah SAW dari kebodohan,” ujar Habib Abdullah, sebagaimana dilansir dari Sokerejo.com.
Rektor Universitas Al-Ahgaff Hadramaut Yamantersebut berharap agar santri memiliki sifat kasih sayang dan kepedulian. Kita harus memiliki kepedulian agar umat tidak terperosok kepada kesesatan. “Umat jangan sampai keluar dari ahlussunnah wal jama’ah,” pungkasnya. (*)
Editor : Ahmadi
Sebab, mereka tak sekadar berhijrah dari tempat tinggalnya menuju Pondok Pesantren Sukorejo namun juga berhijrah menuju kebaikan dan menuntut ilmu pengetahuan yang akan disebarluaskan kepada masyarakatnya kelak.
Begitulah salah satu nasihat Prof. Habib Abdullah Muhammad Baharun, Rektor Universitas Al-Ahgaff Hadramaut Yaman, pada acara Muhadharah ‘Am tadi malam di Masjid Ibrahimy Sukorejo. Acara tersebut termasuk rangkaian peringatan tahun baru Islam.
Peringatan tahun baru Islam di Pondok Sukorejo diawali dengan doa tahun baru dan pawai keliling bershalawat, pada malam tahun baru. Kemudian pengajian umum dan acara ilmiah internasional dengan mendatangkan Rektor Universitas Al-Ahgaf.
Habib Abdullah mengatakan, tahun baru Islam berpatokan kepada momentum hijrah karena hijrah merupakan peristiwa yang sangat besar. Hijrah merupakan momentum pemisahan peristiwa yang hak dan yang batil.
Patokan kalender hijriyah tersebut terjadi pada masa Khalifah Umar bin Khattab dan yang mengusulkan berpedoman kepada peristiwa hijrah tersebut adalah Sayyidina Ali.
Pada konteks sekarang, menurut Habib Abdullah, hijrah yang hakiki merupakan berpindahan dari perbuatan buruk menjadi perbuatan baik, hijrah dari kejelekan menuju kebaikan. Dan santri Sukorejo amat berpeluang mendapat gelar orang yang berhijrah tersebut. Karena santri Sukorejo berhijrah dari rumahnya masing-masing menuju pesantren untuk menuntut ilmu.
Menurut Habib, pesantren merupakan banteng pertahanan Islam yang amat kokoh di Indonesia. Pondok Pesantren merupakan rumahnya orang yang berhijrah dari tidak tahu menjadi tahu, dari bodoh menjadi alim.
Karena itu, Profesor Abdullah mengharapkan agar pertama, para santri untuk memantabkan niat dari bisikan setan. Para santri agar sabar tidak mudah putus asa. “Kalian jangan mudah putus asa agar kelak bermanfaat bagi umat. Kalian sangat berpeluang menjadi orang yang berhijrah, menjadi pahlawan, dan menjadi ulama,” imbuhnya.
Kedua, para santri juga diharapkan memperbaiki niat. Mereka agar berjihad dan berusaha membenahi niat dalam menuntut ilmu. Tempatnya niat di dalam hati.
“Hati kalian jangan sampai dimasuki setan, hati kalian jangan sampai dicuri setan. Kalian harus menjaga hati kalian jangan sampai dirasuki setan. Jagalah dengan niat yang baik!” pesannya.
Ketiga, para santri agar senantiasa berbuat baik. Karena orang yang berhijrah merupakan orang yang berpindah dari jelek menjadi baik.
"Secara maknawi hijrah merupakan perpindahan menuju kebaikan. Hijrah menuju ilmu Rasulullah SAW dari kebodohan,” ujar Habib Abdullah, sebagaimana dilansir dari Sokerejo.com.
Rektor Universitas Al-Ahgaff Hadramaut Yamantersebut berharap agar santri memiliki sifat kasih sayang dan kepedulian. Kita harus memiliki kepedulian agar umat tidak terperosok kepada kesesatan. “Umat jangan sampai keluar dari ahlussunnah wal jama’ah,” pungkasnya. (*)
Editor : Ahmadi
KOMENTAR