BERITAFAJAR.co - Akibat cuaca buruk yang melanda berbagai wilayah di Madura, mengakibatkan tingkat produksi garam di Madura menurun. Bahka...
BERITAFAJAR.co - Akibat cuaca buruk yang melanda berbagai wilayah di Madura, mengakibatkan tingkat produksi garam di Madura menurun. Bahkan, produksi garam di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, tidak mampu memenuhi target dari kementerian.
Berdasarkan informasi, produksi garam di Kabupaten Sumenep tahun 2016 sangat menurun drastis dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Hal itu, akibat cuaca buruk. Apalagi, musim kemarau di wilayah Sumenep hanya berlangsung sekitar 1 bulan saja.
Seperti diketahui, musim kemarau di Sumeep hanya dimulai akhir Agustus hingga akhir September 2016. Padahal, jika berkaca pada tahun-tahun sebelumnya, musim kemarau bisa berlangsung 4 hingga 5 bulan, yakni mulai bulan Juli hingga Desember.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sumenep, Moh Jakfar mengatakan, kondisi ini sangat berpengaruh pada tingkat produksi garam di Sumenep. Sebab, garam rakyat masih sangat bergantung kepada kondisi cuaca.
”Petani garam di Sumenep baru memproduksi garam pada akhir Agustus hingga akhir September saja. Karena pada awal Oktober, Kabupaten Sumenep sudah turun hujan,” ujar Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sumenep, Moh Jakfar.
Dia mengakatakan, pada tahun 2016 ini Kabupaten Sumenep tidak mampu memenuhi target produksi garam dari Kementerian Kelautan. Sebab, produksi garam di Sumenep tahun ini hanya 16, 686, 4 ton. Sementara, targetnya mencapai 260 ribu ton.
Terkait dengan hal itu, pihaknya tidak bisa berbuat banyak untuk mengejar target produksi garam akibat cuaca buruk. Namun, kondisi ini akan menjadi bahan pertimbangan untuk produksi garam di tahun yang akan datang.
”Untuk menggenjot produksi garam di Sumenep sudah menyiapakan lahan garam yang terintegrasi di wilayah Gersik Putih Kecamatan Kalianget, dengan luas 24 hektar dan semua biaya produksi ditanggung pemerintah,” pungkasnya. (*)
Pewarta : Ibnu Toha
Berdasarkan informasi, produksi garam di Kabupaten Sumenep tahun 2016 sangat menurun drastis dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Hal itu, akibat cuaca buruk. Apalagi, musim kemarau di wilayah Sumenep hanya berlangsung sekitar 1 bulan saja.
Seperti diketahui, musim kemarau di Sumeep hanya dimulai akhir Agustus hingga akhir September 2016. Padahal, jika berkaca pada tahun-tahun sebelumnya, musim kemarau bisa berlangsung 4 hingga 5 bulan, yakni mulai bulan Juli hingga Desember.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sumenep, Moh Jakfar mengatakan, kondisi ini sangat berpengaruh pada tingkat produksi garam di Sumenep. Sebab, garam rakyat masih sangat bergantung kepada kondisi cuaca.
”Petani garam di Sumenep baru memproduksi garam pada akhir Agustus hingga akhir September saja. Karena pada awal Oktober, Kabupaten Sumenep sudah turun hujan,” ujar Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sumenep, Moh Jakfar.
Dia mengakatakan, pada tahun 2016 ini Kabupaten Sumenep tidak mampu memenuhi target produksi garam dari Kementerian Kelautan. Sebab, produksi garam di Sumenep tahun ini hanya 16, 686, 4 ton. Sementara, targetnya mencapai 260 ribu ton.
Terkait dengan hal itu, pihaknya tidak bisa berbuat banyak untuk mengejar target produksi garam akibat cuaca buruk. Namun, kondisi ini akan menjadi bahan pertimbangan untuk produksi garam di tahun yang akan datang.
”Untuk menggenjot produksi garam di Sumenep sudah menyiapakan lahan garam yang terintegrasi di wilayah Gersik Putih Kecamatan Kalianget, dengan luas 24 hektar dan semua biaya produksi ditanggung pemerintah,” pungkasnya. (*)
Pewarta : Ibnu Toha
KOMENTAR