BERITAFAJAR.co - Sekolah Budaya Tunggulwulung (SBT) ke 19 tadi malam, Senin (24/10/2016), diadakan dengan topik bahasan JAMAN EDAN, mempero...
BERITAFAJAR.co - Sekolah Budaya Tunggulwulung (SBT) ke 19 tadi malam, Senin (24/10/2016), diadakan dengan topik bahasan JAMAN EDAN, memperoleh apresiasi luar biasa dari masyarakat luas, terutama peserta sekolah budaya.
Hadir dalam kegiatan itu sebagai Pemateri DR.Ki Riyanto Hanggendali, M.Hum yaitu Direktur UBTV, Ketua Komunitas Seni Budaya Unibraw dan Pengasuh acara seni budaya di Dhamma TV Malang.
Ki Riyanto memaparkan, ramalan Jangka Jayabaya tentang jaman Edan yang ditulis kembali oleh Raden Ngabehi Ranggawarsito dalam Serat Kalatidu.
"Amenangi Jaman Edan. Ewuh oya ing pambudi. Melu edan ora tahan. Yen tan melu nglakoni. Wedi kelangan melik. Kaliren wekasanipun. Ndilalah karsa Allah. Begja begjane kang lali. Isih begja kang eling lawan waspada"
Itulah cuplikan bait 7 serat Kalatidu yg dijabarkan panjang lebar oleh Ki Riyanto. Dan peserta sekolah budaya sangat antusias mengikutinya.
Disisi lain KRAP Prasena Cakra Adiningrat selaku salah satu penggagas dan pendiri Sekolah Budaya Tunggulwulung juga menyampaikan bahwa tafsir Jaman Edan ini tidak boleh mengkooptasi pemikiran kita sehingga pasrah dan lemah.
"Tetapi harus bangkit untuk maju dan bergerak. Sesuai dgn eksistensi Sekolah budaya sebagai Kawah Candradimuka para Penjaga Budaya Leluhur Nusantara dan slogan Singhasari Bangkit, maka kita harus memiliki semangat juang untuk bangkitnya Budaya Nusantara dan bangkitnya Singhasari sebagai Mercusuar Nusantara bahkan Mercusuar Dunia," ujarnya.
Diskusi berlangsung hingga larut malam. Apalagi dihadiri beberapa tokoh budaya seperti Pak Kolik Nuryadi (pendiri Sekolah Budaya), Mbah Bimo, Ki Jhoni Buana selaku Kepala Sekolah Tunggulwulung, Dalang muda Ki Ardi, Ki Supri Raden, bunda Ninuk, bunda Retno Ayu dan tokoh-tokoh budaya dan para muda penjaga budaya Nusantara lainnya. (*)
Pewarta : Andi Tamam
Editor : Ibnu Toha
Hadir dalam kegiatan itu sebagai Pemateri DR.Ki Riyanto Hanggendali, M.Hum yaitu Direktur UBTV, Ketua Komunitas Seni Budaya Unibraw dan Pengasuh acara seni budaya di Dhamma TV Malang.
Ki Riyanto memaparkan, ramalan Jangka Jayabaya tentang jaman Edan yang ditulis kembali oleh Raden Ngabehi Ranggawarsito dalam Serat Kalatidu.
"Amenangi Jaman Edan. Ewuh oya ing pambudi. Melu edan ora tahan. Yen tan melu nglakoni. Wedi kelangan melik. Kaliren wekasanipun. Ndilalah karsa Allah. Begja begjane kang lali. Isih begja kang eling lawan waspada"
Itulah cuplikan bait 7 serat Kalatidu yg dijabarkan panjang lebar oleh Ki Riyanto. Dan peserta sekolah budaya sangat antusias mengikutinya.
Disisi lain KRAP Prasena Cakra Adiningrat selaku salah satu penggagas dan pendiri Sekolah Budaya Tunggulwulung juga menyampaikan bahwa tafsir Jaman Edan ini tidak boleh mengkooptasi pemikiran kita sehingga pasrah dan lemah.
"Tetapi harus bangkit untuk maju dan bergerak. Sesuai dgn eksistensi Sekolah budaya sebagai Kawah Candradimuka para Penjaga Budaya Leluhur Nusantara dan slogan Singhasari Bangkit, maka kita harus memiliki semangat juang untuk bangkitnya Budaya Nusantara dan bangkitnya Singhasari sebagai Mercusuar Nusantara bahkan Mercusuar Dunia," ujarnya.
Diskusi berlangsung hingga larut malam. Apalagi dihadiri beberapa tokoh budaya seperti Pak Kolik Nuryadi (pendiri Sekolah Budaya), Mbah Bimo, Ki Jhoni Buana selaku Kepala Sekolah Tunggulwulung, Dalang muda Ki Ardi, Ki Supri Raden, bunda Ninuk, bunda Retno Ayu dan tokoh-tokoh budaya dan para muda penjaga budaya Nusantara lainnya. (*)
Pewarta : Andi Tamam
Editor : Ibnu Toha
KOMENTAR