BERITAFAJAR.co – Setiap tahun dilaksanakan peringatakan hari Jadi Kabupaten Sumenep. Kini, kabupaten yang berada di ujung timur pulau Madur...
BERITAFAJAR.co – Setiap tahun dilaksanakan peringatakan hari Jadi Kabupaten Sumenep. Kini, kabupaten yang berada di ujung timur pulau Madura ini, sudah memasuki usia ke 747. Berbagai kegiatan dilaksanakan untuk memeriahkan momentum bersejarah itu.
Salah satunya, tari-tarian tradisional seperti ”Tari Muang Sangkal”. Tari ini, diperagakan dalam setiap momentum kerajaan atau menyambut tamu besar untuk membuang sial. Pada momentum hari jadi Kabupaten Sumenep ini, tari ditampilkan dengan melibatkan ratusan siswa di Sumenep.
Namun, sejumlah orang tua yang putra-putrinya terpilih sebagai penari, mengeluhkan biaya kostum yang dibebankan kepada orang tua siswa. Orang tua siswa, diharuskan merongoh kocek sendiri untuk menyewa kostum yang harganya tidak murah.
”Hari jadi besok melibatkan banyak penari. Anehnya mereka tidak dibayar dan dibebankan pada sekolah masing-masing. Padahal latihannya sudah hampir sebulan. Gladi bersihnya sudah beberapa hari di pagi hari jam aktif sekolah sampai para penari bolos sekolah,” ujar salah satu orang tua siswa, Moh Hariri kepada wartawan di Sumenep, Sabtu (29/10/2016).
Menurutnya, sejumlah orang tua siswa mengeluh. Sebab, biaya yang harus dikeluarkan untuk sewa perlatan tidak murah, apalagi kabarnya para penari tidak mendapatkan bayaran apapun, alias gratis.
”Selain itu, peralatan tari semuanya dibebankan sama penari. Sudah tidak dibayar, masih disuruh beli peralatan,” keluh Moh Hariri.
Menurutnya, sebenarnya para orang tua merasa bangga ketika anaknya terpilih menjadi penari dalam hari jadi kabupaten Sumenep 747. Namun, perlakuan dengan tidak dibayar dan kemudian masih dibebankan biaya sewa kostum, memberikan kesan tidak elok buat generasi Sumenep.
Makanya, dia berharap pemerintah daerah kabupaten Sumenep, khususnya Disbudparpora tidak perlu memaksakan untuk melakukan prosesi, jika memang tidak ada anggaran.
”Kalau memang tidak ada biaya, sebaiknya jangan dipaksakan. Kasihan masyarakat yang tidak mampu, masa peralatan tari semuanya harus beli sendiri, bukan dibantu pemerintah,” pungkasnya. (*)
Pewarta : Ahmadi
Editor : Ibnu Toha
Salah satunya, tari-tarian tradisional seperti ”Tari Muang Sangkal”. Tari ini, diperagakan dalam setiap momentum kerajaan atau menyambut tamu besar untuk membuang sial. Pada momentum hari jadi Kabupaten Sumenep ini, tari ditampilkan dengan melibatkan ratusan siswa di Sumenep.
Namun, sejumlah orang tua yang putra-putrinya terpilih sebagai penari, mengeluhkan biaya kostum yang dibebankan kepada orang tua siswa. Orang tua siswa, diharuskan merongoh kocek sendiri untuk menyewa kostum yang harganya tidak murah.
”Hari jadi besok melibatkan banyak penari. Anehnya mereka tidak dibayar dan dibebankan pada sekolah masing-masing. Padahal latihannya sudah hampir sebulan. Gladi bersihnya sudah beberapa hari di pagi hari jam aktif sekolah sampai para penari bolos sekolah,” ujar salah satu orang tua siswa, Moh Hariri kepada wartawan di Sumenep, Sabtu (29/10/2016).
Menurutnya, sejumlah orang tua siswa mengeluh. Sebab, biaya yang harus dikeluarkan untuk sewa perlatan tidak murah, apalagi kabarnya para penari tidak mendapatkan bayaran apapun, alias gratis.
”Selain itu, peralatan tari semuanya dibebankan sama penari. Sudah tidak dibayar, masih disuruh beli peralatan,” keluh Moh Hariri.
Menurutnya, sebenarnya para orang tua merasa bangga ketika anaknya terpilih menjadi penari dalam hari jadi kabupaten Sumenep 747. Namun, perlakuan dengan tidak dibayar dan kemudian masih dibebankan biaya sewa kostum, memberikan kesan tidak elok buat generasi Sumenep.
Makanya, dia berharap pemerintah daerah kabupaten Sumenep, khususnya Disbudparpora tidak perlu memaksakan untuk melakukan prosesi, jika memang tidak ada anggaran.
”Kalau memang tidak ada biaya, sebaiknya jangan dipaksakan. Kasihan masyarakat yang tidak mampu, masa peralatan tari semuanya harus beli sendiri, bukan dibantu pemerintah,” pungkasnya. (*)
Pewarta : Ahmadi
Editor : Ibnu Toha
KOMENTAR