BERITAFAJAR.co - Kasus kekerasan seksual kepada anak di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur masih tergolong tinggi. Buktinya, dari data ...
BERITAFAJAR.co - Kasus kekerasan seksual kepada anak di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur masih tergolong tinggi. Buktinya, dari data dari Badan Pembedayaan Masyarakat Perempuan dan Keluarga Berencana (PNMP-KB) tahun 2016, sebanyak 53 laporan kasus kekerasan seksual kepada anak dan hanya 36 kasus yang tercover.
Kepala Bidang Permberdayaan Perempuan BPMP-KB Sumenep, Linda Mardiana mengatakan, potensi terjadinya kekerasan seksual pada anak dapat terjadi di seleuruh wilayah di Sumenep. Dari 53 laporan kekerasan seksual, 36 telah ditangani sementara 17 dalam proses.
”Untuk mencegah peristiwa tersebut, kami terus melakukan sosialisasi sampai ke tingkat pedasaan, namun upaya yang dilakukan oleh Badan Pemperdayaan Perempuan masih kurang efektif, hingga uapaya alternatif dilakukan ke titik rawan,” ujar Kepala Bidang Permberdayaan Perempuan BPMP-KB Sumenep, Linda Mardiana, Rabu (14/9/2016).
Dia menyebutkan, kekerasan seksual dapat terjadi di seluruh daerah pedesaan, di antaranya, wilayah Pasongsongan, Batu Putih, Bluto. Di wilayah itu, merupakan daerah rawan kekerasan seksual.
"Kekerasan seksual saat ini, sedang merajalelah, sampai ke daerah pedesaan. Faktor utamanya, anak-anak pengawasan orang tua, dan IT,"jelasnya.
Selain melakukan sosialisasi, ia mengaku telah melakukan pendampingan dan rehab kepada korban. Ia mengakui jika pendampingan yang dilakukan oleh pihaknya kurang maksimal karen minimnya tim pendamping. Makanya, langkah alternatif dilakukan yaitu pendampingan prioritas.
"Sementara Kami hanya melakukan pedampingan kepada kasus-kasus berat. Bukan lantas mengabaikan kasus ringan, karena prioritas kami kepada korban perkosaan, serta kasus-kasus berat lainnya,"tuturnya. (*)
Pewarta : Ahmadi
Editor : Ibnu Toha
Kepala Bidang Permberdayaan Perempuan BPMP-KB Sumenep, Linda Mardiana mengatakan, potensi terjadinya kekerasan seksual pada anak dapat terjadi di seleuruh wilayah di Sumenep. Dari 53 laporan kekerasan seksual, 36 telah ditangani sementara 17 dalam proses.
”Untuk mencegah peristiwa tersebut, kami terus melakukan sosialisasi sampai ke tingkat pedasaan, namun upaya yang dilakukan oleh Badan Pemperdayaan Perempuan masih kurang efektif, hingga uapaya alternatif dilakukan ke titik rawan,” ujar Kepala Bidang Permberdayaan Perempuan BPMP-KB Sumenep, Linda Mardiana, Rabu (14/9/2016).
Dia menyebutkan, kekerasan seksual dapat terjadi di seluruh daerah pedesaan, di antaranya, wilayah Pasongsongan, Batu Putih, Bluto. Di wilayah itu, merupakan daerah rawan kekerasan seksual.
"Kekerasan seksual saat ini, sedang merajalelah, sampai ke daerah pedesaan. Faktor utamanya, anak-anak pengawasan orang tua, dan IT,"jelasnya.
Selain melakukan sosialisasi, ia mengaku telah melakukan pendampingan dan rehab kepada korban. Ia mengakui jika pendampingan yang dilakukan oleh pihaknya kurang maksimal karen minimnya tim pendamping. Makanya, langkah alternatif dilakukan yaitu pendampingan prioritas.
"Sementara Kami hanya melakukan pedampingan kepada kasus-kasus berat. Bukan lantas mengabaikan kasus ringan, karena prioritas kami kepada korban perkosaan, serta kasus-kasus berat lainnya,"tuturnya. (*)
Pewarta : Ahmadi
Editor : Ibnu Toha
KOMENTAR