Pelaksanaan Sumenep Batik Festival Fashion On The Street di depan Masjid Agung Sumenep.
BERITAFAJAR.CO - Sebagai seni pertunjukan, Festival Batik Batik Festival Fashion On The Street ini cukup artistik dan mampu membangun imaginasi fantastis.
Tentu gaya dan tampilan
semacam ini lahir dari sebuah gagasan uporia untuk menghadirkan
sensasi-sensasi.
Di panggung metropolis, hal menampilkan
sesuatu secara vulga tidak akan berarti apa-apa. Apalagi erotisme tubuh bukan
sesuatu yang langka.
Namun penggagas tampilan
promosi batik ini seperti kehilangan akar budaya dan historisitasnya sebagai
wilayah religius.
Vulgarisasi menjadi tidak
etis karena selalu mengajak fikiran dan dunia hayal kita untuk diserahkan
kepada kekuasaan birahi.
Seharusnya seorang pemangku
kebijakan yang mendapat kewenangan untuk merancang nalar wisata, mampu berfikir
ontologis, cerdas dan kreatif. Bukan sekedar menampilkan style normatif dan
lumrah ada di mana-mana.
Tidak mudah memang, gelaran
festival sulit dikontrol secara manual. Karya seni sering menggelitik. Bahkan
dalam pandangan seni pragmatis, tampilan adalah satu-satunya nilai dan pesan
yang hendak disampaikan kepada publik.
Mereka lupa bahwa semakin
rapi seorang seniman dalam menyembunyikan makna, semakin tinggi pula kwalitas
karyanya.
Namun semua (terkait event
promosi batik) bisa terkendali jika mindset awal secara komprehenship sadar dan
berniat menjaga keutuhan culturset yang ada. (*)

KOMENTAR