Kadispertahotbun Bambang Heriyanto ketika naik pitam di depan mahasiswa di Sumenep. (Foto dok Berita Fajar)
BERITAFAJAR.CO - Salah satu anggota DPRD Sumenep, Madura, Jawa Timur, Nurus Salam, menilai Kepala
Dinas Dispertahotbun Bambang Heriyanto yang bersikap berlagak preman dan arogan
ketika menghadapi peserta audensi, yang secara ototamatis dipertontonkan kepada
masyarakat, dinilai telah mencederai
pejabat dan masyarakat.
“Sebagai pejabat, sangat tidak layak menunjukkan sikap emosi dan arogansi kepada
publik. Sebab, esensi dari pejabat memberikan pelayanan kepada publik secara maksimal.
Intinya, harus ramah,”kata Ketua Komisi II DPRD, Sumenep, Nurus Salam. Kamis, (12/10/2017).
Seharusnya, lanjut Nurus Salam, setiap
masukan dari masyarakat harus disikapi secara arif dan bijaksana. Semua kritik
harusnya ditampung kemudian dibicarkan kebenarannya kepada semua staf.
”Jadi, jangan bersikap anti kritis. Tetap harus ditampung. Kalau
ditanggapi dengan emosi, maka masyarakat yang dirugikan. Jangan bersikap arogan
dihadapan masyarakat. Mestinya mereka dilayani dengan baik, ” ungkapanya.
Tidak hanya itu, pihaknya juga berharap semua kepala Organisasi Perangkat
Daerah (OPD) untuk bersikap ramah kepada publik. Sebab, ini menyangkut
kepentingan publik. Jika menyangkut kepentingan publik, pengaduan yang bersifat
kepentingan publik, tidak dilayani dengan baik, sangat tidak baik.
Sebelumnya, Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan
(Disperta Hotbun), Sumenep, Madura, Jawa Timur, Bambang Heriyanto, berlagak preman
saat menemui peserta audensi, Rabu (11/10/2017).
Kedatangan sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Lingkar Intelektual Mahasiswa
(LIMA) menggelar audensi terkait program kartu tani yang terkesan dipaksanakan oleh Dinas Pertanian, Tanaman Pangan Hortikultura
dan Perkebunan (Disperta Hotbun) Kabupaten
Sumenep.
Awalnya, audiensi berjalan biasa-biasa saja. Namun, beberapa saat kemudian, suasana
memanas ketika mahasiswa
menilai penyuluh pertanian bermental bos. Indikasinya, mereka enggan “menjemput
bola”. Sehingga masih banyak petani belum mendapat kartu tani sebagai syarat
mendapat pupuk bersubsidi.
Dalam kesempatan itu,
mahasiswa menegaskan, sebagai pelayan masyarakat, mestinya penyuluh tidak
memosisikan diri sebagai bos, tapi harus lebih aktif turun ke lapangan
memastikan semua petani sudah mendapat kartu tersebut. Sehingga para petani
tidak kesulitan mendapatkan pupuk sebagaimana terjadi beberapa daerah di Sumenep sekarang.
Penilaian mahasiswa
yang berharap ada perubahan terhadap penyuluh itu, tampaknya dianggap negatif sehingga Bambang naik
pitam. Bahkan sampai menggebrak meja di depannya. Sampai-sampai dia juga
mengajak mahasiswa turun ke lapangan saat itu juga. Seluruh akomodasi akan
ditanggung pihaknya.
“Saya macannya lapangan, Mas!
Sampean mau nantang saya? Ayo kita turun kita ke lapangan. Ayo sekarang! Saya
layani, makan siang, makanan, kalau perlu tidur di hotel, saya layani,” tegas Bambang geram. (di/ibn)

KOMENTAR