Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj
BERITAFAJAR.CO - Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said
Aqil Siroj dipanggil Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Istana Kepresidenan,
Jakarta. Said Aqil mengaku dimintai pandangan soal krisis etnis Rohingya di
Myanmar dan ujaran kebencian (hate speech).
Said Aqil mengatakan Presiden Jokowi meminta NU mendukung
sikap pemerintah mengenai tragedi etnis Rohingya di Rakhine State, Myanmar.
Said Aqil mengatakan NU akan menunggu hasil yang sedang diupayakan oleh Menteri
Luar Negeri Retno LP Marsudi, baik di Myanmar maupun Bangladesh.
"Saya katakan, Ketua AKIM dari NU yang membawahi atau
mengomandoi, yang memimpin, 11 ormas. Bu Retno juga membawa poin-poin yang
sifatnya kemanusiaan. Tidak pandang agamanya atau kewarganegaraannya. Yang
penting kita sesama manusia juga harus saling mencegah tragedi kemanusiaan yang
kita saksikan," kata Said Aqil di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta,
Selasa (5/9/2017).
Said Aqil mengatakan, saat ini Retno tengah melakukan upaya
agar perbatasan di Bangladesh dibuka lebar untuk para pengungsi Rohingya.
"Coba dulu, kalau sampai tidak didengar misi yang dibawa Bu Retno ini,
barangkali Dubes Myanmar bisa dipanggil. Sampai situ dulu, nggak sampai jauh,"
katanya.
Said Aqil menambahkan, jika yang diupayakan Retno tidak
didengar oleh Myanmar, Presiden Jokowi bisa memanggil Dubes Myanmar yang ada di
Indonesia untuk dimintai keterangan.
"Saya rasa diplomasi militer nggak ada. Kalau sampai
misi Bu Retno ini tidak didengar atau belum ada hasilnya, bahkan semakin parah,
Presiden akan mengundang Dubes Myanmar," katanya.
Selain soal Rohingya, Said Aqil mengaku dimintai tanggapan
soal ujaran kebencian, terutama di media sosial. NU diminta mendukung langkah
yang diambil pemerintah untuk memerangi hate speech ini.
"Presiden mengharapkan NU mendukung, memerangi hate
speech, jaringannya. Siap saya bilang. Banyak sekali anak NU yang sudah pandai,
menguasai IT dengan polisilah," katanya.
Selain itu, Said Aqil menyampaikan agar Presiden Jokowi
berkenan hadir dalam acara yang diadakan oleh NU.
"Ada beberapa agenda NU yang diharapkan Presiden bisa
datang, yaitu peringatan Hari Santri 20 Oktober di Daan Mogot, Masjid KH Hasyim
Asyari. Itu yang paling penting. Terus pencak silat Pagar Nusa, ini ketua
umumnya, akan mengadakan acara apel mendukung Presiden Jokowi sampai 2019. Kami
kiai-kiai NU dan pesantren di belakang Presiden Jokowi selama beliau menjalankan
amanat, tugasnya, sampai tahun 2019," jelasnya. (rjo/ams/detik.com)

KOMENTAR