Ratusan santri di Kabupaten Sumenep menggelar pawai obor menyambut tahun baru hijriyah 1439 H. (Foto dok Busri Toha)
BERITAFAJAR.CO - Tanggal 1 Muharram 1439 H, baru kemarin dilalui. Bulan hijriah diawali peristiwa Hijrah-nya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah, pada tahun 622 M. Menjadi awal kalender Islam. Begitulah kira-kira arti secara makani, arti dari pada hijrah. Berpindah fisik dari tempat yang kurang baik pada lokasi dan kondisi lebih baik.
Berkaca pada Indonesia, kekayaan alam Indonesia raya ini merupakan anugerah dari yang Maha Kuasa. Kata Emha Ainun Nadjib, Surga seakan-akan pernah bocor mencipratkan kekayaan dan keindahannya, dan cipratan keindahan itu bernama Indonesia Raya.
Kau bisa tanam benih kesejahteraan apa saja di atas kesuburan tanahnya yang tidak terkirakan, ditengah hijau bumi kepulauan yang bergandeng-gandeng mesra. Tapi kita terlanjur tidak mensyukuri rahmat sepenggal surga ini, kita mengacuhkan anugerah Tuhan dengan menanam ketidakadilan dan panen-panen kerakusan.
Sungguh luar biasa, Indonesia adalah negara terkaya, apapun bisa ditanam di Indonesia untuk membangkitkan ekonomi masyarakat. Pendidikan berkualitas seharusnya sudah dinikmati seluruh rakyat Indonesia.
Saya tidak ingin mengatakan bahwa Indonesia adalah negara terkaya dengan penduduk termiskin di dunia. Sama sekali tidak. Karena saya tidak melakukan riset dan tidak ada data. Cuma, begitulah kenyataan yang saya lihat dan amati di alam Indonesia, di beberapa propinsi yang saya tapaki. Kita terlanjur mengabaikan sepenggal surga itu.
Media massa pun tidak pernah bosan memberitakan kasus korupsi yang menimpa pada pejabat, abdi negara. Pejabat terseret dalam kasus korupsi, itu bukan musibah tiba-tiba, tetapi memang menarik, mencari musibah. Mereka bukan tidak tahu bahwa itu adalah haram. Persoalan infrastruktur, pendidikan, kesehatan dll. Itulah barangkali, kata Emha, bercocok tanam ketidakadilan dan panen-panen kerakusan.
Bangasa ini, tidak perlu diajari bahwa sogok menyogok adalah haram dan dosa. Islam mengajarkan bahwa orang yang menyogok dan yang disogok akan menjerit di neraka jahanam. Mereka sudah tahu hukum itu semua. Undang-Undang negara yang selaras dengan Islam, mereka sudah mengerti dan memahami.
Melebur Kerakusan
[next]
Melebur kerakusan bukan perkara mudah. Sebab, mental pejabat sudah terpupuk dan bukan lagi diniatkan untuk membantu umat, tapi justru menghiati rakyat. Pejabat sudah tereduksi maknanya, menjadi sekedar pekerja yang harus diupah. Sehingga tidak sedikit yang rela bayar puluhan hingga ratusan juta hanya agar lolos menjadi PNS. Saya tidak punya data, namun isu yang berkembang memang begitu. Saya pernah berminat jadi PNS, tapi bukan ditawari bagaimana menjawab soal dengan baik tetapi diminta uang harus bayar puluhan juta dengan jaminan lulus.
Niatan tidak tulus begitu, sudah jauh dari hakikat seorang pejabat. Mental korupsi pasti sulit dihilangkan karena sedari awal sudah melalui cara tidak apik dan mencederai moralitas agama, bangsa, dan Negara. Mungkin saja, kita masih ingat dengan Umar bin Abdul Aziz ketika didakwa sebagai khalifah. Beliau bukan bersyukur menerima jabatan baru itu, tetapi malah mengucapkan Inna lillahi wa Inna ilaihi raji’uun. Baginya, tahta adalah musibah. Tahta adalah amanat yang berat karena ada tanggung jawab moral dan dipertanggung jawabkan dihadapan Tuhan.
Untuk menghilangkan mental korup, memang tidak perlu meniru semua pola yang dilakukan Umar itu. Beliau terlalu sempurna di zaman ini. Namun, dengan berpakaian sederhana dan apa adanya, adalah bagian dari cara agar mental korup lambat laun memudar dan akhirnya hilang dan sirna. Menanggalkan jas yang super mahal itu, dan menjunjung tinggi kesederhanaan. Sebab, perubahan bukan terlahir begitu saja, tapi diupayakan dari hal terkecil, kesederhanaan.
Tak perlu seideal Umar. Kalaupun dipaksa, tidak ada jaminan pejabat Negara yang korup segera sadar. Sebab, mental pejabat adalah mental pekerja. Bekerja demi menumpuk kekayaan. Sangat sulit. Sekarang yang bisa dilakukan, langkah awal, cukup merasa bahwa Indonesia adalah milik kita sendiri. Rasa memiliki yang lemah akan akan menjadi duri dalam daging. Rusaknya negeri ini, rusaknya moralitas bangsa. Tumbuhnya kerakusan karena rasa memiliki terhadap negeri ini lemah. Rasa memiliki bahwa Indonesia adalah milik kita semua. Bukan hanya milik segelintir orang dan yang lain dianggap ngontrak dan harus bayar upeti.
***
Akhirnya, dalam momentum 1 Muharram ini, tidak ada salahnya kita memulai dengan sesuatu yang baru. Belajar mensyukuri kekayaan bernama Indonesia. Tanam keadilan agar tumbuh keseimbangan dan tanpa pertengkaran. Tanam benih-benih kesejahteraan agar memperoleh kedamaian komunal
Barangkali menjadi penting kita mengingat bahwa tanpa korupsi hidup ini akan lebih tenang dan lebih baik. Menumpuk kekayaan diri atau golongan toh pada akhirnya tidak akan dibawa mati. Di dalam kubur kita tidak ditanyakan seberapa banyak kekayaan yang kita miliki. Kekayaan hasil korupsi tidak akan pernah mendatangkan ketenangan.
Momentum 1 Muharram, Hijrah dari mental mencuri, korupsi. Dari dzalim menjadi alami. Dari sombong menjadi rendah hati dan mengabdi pada Ilahi. Kesombongan adalah jubah kebesaran Allah. Kita tak berhak sombong, bukan jati diri seorang hamba untuk berkuasa dan mengeruk keuntungan. Karena kita hanyalah setetes mani. Secuil debu. Bukan begitu? Selamat Tahun Baru Islam 1439 H. (*)
Penulis adalah Busri Toha, tulisan ini pernah di publikasikan di media nasional TIMESIndonesia.co.id

KOMENTAR