BERITAFAJAR.co - Kepolisian Resort (Polres) Sumenep, belum bisa mengungkap kasus dugaan pembunuhan yang menimpa kepada Moh. Anwar...
BERITAFAJAR.co - Kepolisian Resort (Polres) Sumenep, belum bisa mengungkap kasus dugaan pembunuhan yang menimpa kepada Moh. Anwar, suami dari Yuliani (32), Warga Desa Kalianget Barat, Kecamatan Kalianget, Sumenep, Madura, Jawa Timur.
Janda cantik yang beranak satu itu, Selasa (17/1/2017) mendatangi Mapolres Sumenep, untuk mencari keadilan terhadap kematian suaminya yang tewas karena diduga dibunuh. Kedatangannya ke Mapolres itu, bukan kali pertama untuk mempertanyakan terhadap sebab kematian suaminya.
“Sudah 10 bulan mas kasus meninggalnya suami saya belum juga terungkap, sampai saat ini belum juga ada perkembangan,” ujar Yuliani kepada awak media di Mapolres Sumenep, Selasa (17/1/2016).
Kedatangannya, ditemuai langsung oleh Kasat Reskrim Polres Sumenep, Ajun Komisaris Polisi Muh. Nur Amin beserta jajarannya. Pertemuan secara tertutup itu berlangsung alot hingga menyita waktu sekitar tiga jam lebih.
Meskipun demikian, pertemuan yang berlangsung berkali-kali itu belum menemukan titik terang terkait motif dan pelaku yang menyebakan Moh Anwar meninggal dunia dengan cara tidak wajar.
Yuliani, menilai kerja kepolisian kurang serius terhadap kasus kematian suaminya itu, sehingga setiap kali dia menanyakan kepada kepolisian merasa kecewa.
“Tim penyidik mengaku kesulitan untuk mencari saksi. Makanya, kami hari ini memberikan kesaksian tambahan untuk mempermudah penyelidikan. Kami harap aparat kepolisian bisa mengungkap kasus ini hingga tuntas,” jelasnya.
Sementara, Kasubag Humas Polres Sumenep AKP Hasanuddin mengatakan, jika penanganan kasus tersebut terus jalan, saat ini polisi sedang berupaya mengumpulkan barang bukti dan memeriksa saksi-saksi.
“Dari keterangan saksi tidak satupun yang mengarah kepada pelaku. Sehingga kami masih akan mengumpulkan bukti-bukti lagi,” ujar mantan Kapolsek Manding ini.
Perlu diketahui, korban pamit sama istrinya, Senin (14/3/2016) malam untuk membentuk kepanitiaan penerimaan mahasiswa baru di kampusnya, karena korban menjadi PNS menggunakan ijazah SMA, sehingga perlu melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Namun, hingga dini hari tidak datang. Handphone korban masih aktif hingga pukul 03.00 WIB dini hari. (*)
Pewarta : Ahmadi
Editor : Ibnu Toha
Janda cantik yang beranak satu itu, Selasa (17/1/2017) mendatangi Mapolres Sumenep, untuk mencari keadilan terhadap kematian suaminya yang tewas karena diduga dibunuh. Kedatangannya ke Mapolres itu, bukan kali pertama untuk mempertanyakan terhadap sebab kematian suaminya.
“Sudah 10 bulan mas kasus meninggalnya suami saya belum juga terungkap, sampai saat ini belum juga ada perkembangan,” ujar Yuliani kepada awak media di Mapolres Sumenep, Selasa (17/1/2016).
Kedatangannya, ditemuai langsung oleh Kasat Reskrim Polres Sumenep, Ajun Komisaris Polisi Muh. Nur Amin beserta jajarannya. Pertemuan secara tertutup itu berlangsung alot hingga menyita waktu sekitar tiga jam lebih.
Meskipun demikian, pertemuan yang berlangsung berkali-kali itu belum menemukan titik terang terkait motif dan pelaku yang menyebakan Moh Anwar meninggal dunia dengan cara tidak wajar.
Yuliani, menilai kerja kepolisian kurang serius terhadap kasus kematian suaminya itu, sehingga setiap kali dia menanyakan kepada kepolisian merasa kecewa.
“Tim penyidik mengaku kesulitan untuk mencari saksi. Makanya, kami hari ini memberikan kesaksian tambahan untuk mempermudah penyelidikan. Kami harap aparat kepolisian bisa mengungkap kasus ini hingga tuntas,” jelasnya.
Sementara, Kasubag Humas Polres Sumenep AKP Hasanuddin mengatakan, jika penanganan kasus tersebut terus jalan, saat ini polisi sedang berupaya mengumpulkan barang bukti dan memeriksa saksi-saksi.
“Dari keterangan saksi tidak satupun yang mengarah kepada pelaku. Sehingga kami masih akan mengumpulkan bukti-bukti lagi,” ujar mantan Kapolsek Manding ini.
Perlu diketahui, korban pamit sama istrinya, Senin (14/3/2016) malam untuk membentuk kepanitiaan penerimaan mahasiswa baru di kampusnya, karena korban menjadi PNS menggunakan ijazah SMA, sehingga perlu melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Namun, hingga dini hari tidak datang. Handphone korban masih aktif hingga pukul 03.00 WIB dini hari. (*)
Pewarta : Ahmadi
Editor : Ibnu Toha
KOMENTAR