BERITAFAJAR.co – Dalam rangka memeriahkan Puncak Hari Jadi Sumenep, Madura, Jawa Timur ke-747, Pemkab setempat menggelar acara ’Semal...
BERITAFAJAR.co – Dalam rangka memeriahkan Puncak Hari Jadi Sumenep, Madura, Jawa Timur ke-747, Pemkab setempat menggelar acara ’Semalam di Sumenep’, yang bertempat di lapangan Gotong Royong, sebelah timur Taman Area Adipura, Sumenep.
Berdasarkan pantauan BeritaFajar, pelaksanaan Semalam di Sumenep, Senin (31/10/2016) malam, mendapatkan sambutan luar dari masyarakat. Ribuan penonton menyaksikan secara langsung acara yang cukup meriah tersebut.
Dalam acara tersebut, sejumlah penampilan tari-tari tradisional Sumenep yang diperankan oleh siswa semakin meriah dengan tabuhan gendang dan alunan musik dari gamelan. Penampilan Tari Ocung, Tari Cuwek dan lain-lain mendapatkan apresiasi luar biasa dari pengunjung.
[caption id="attachment_2041" align="alignnone" width="263"]
Menteri Sosial Khafifah Indar Prawansa saat menghadiri pembukaan Prosesi Pelantikan Arya Wiraraja (Foto Ibnu Toha/BeritaFajar)[/caption]
Bahkan, tiga tarian khas Sumenep, yakni tari tombak, pangesto, dan tari muang sangkal, sebagai tarian menyambut tamu penting agar terhindar dari marabahaya dan sial, menambah suasana seakan diajak kepada zaman Arya Wiraraja 700 tahun silam.
Informasinya, tari tombak dan pangesto merupakan simbolisasi rasa hormat masyarakat Sumenep kepada Arya Wijaya yang akan dilantik. Sedangkan tari Muang Sangkal merupakan prosesi membuang petaka agar Arya Wiraraja terhindar dari bencana.
Bupati Sumenep Dr KH A Busyro Karim mengatakan, akan bertekad menjaga mimpi Arya Wiraraja dengan menjadikan Sumenep lebih maju lagi, dan masyaraka kesejahteraan terhadap masyarakat di Sumnepe.
”Pemkab Sumenep tidak bisa bekerja sendirian untuk bisa mewujudkan impian tersebut, untuk itu perlu dukungan semua pihak termasuk pemerintah pusat,” terang Bupati Sumenep Dr KH A Busyro Karim.
Bupati Sumenep menyampaikan terima kasih kepada seluruh masyarakat yang telah menyukseskan pembangunan Kabupaten Sumenep di segala sektor. Sesuai dengan tema hari jadi tahun 2016 yaitu Membangun Desa Menata Kota.
Sementara, salah seorang warga yang menyaksikan kegiatan ini, Nurhasanah, mengaku senang dan terhibur dengan kegiatan tersebut. Sebab, kegiatan itu bisa memberikan inspirasi pengetahuan bagaimana Kabupaten Sumenep lahir dan tumbuh sejak kerajaan tempo dulu. (*)
Pewarta : Ahmadi
Editor : Ibnu Toha
Berdasarkan pantauan BeritaFajar, pelaksanaan Semalam di Sumenep, Senin (31/10/2016) malam, mendapatkan sambutan luar dari masyarakat. Ribuan penonton menyaksikan secara langsung acara yang cukup meriah tersebut.
Dalam acara tersebut, sejumlah penampilan tari-tari tradisional Sumenep yang diperankan oleh siswa semakin meriah dengan tabuhan gendang dan alunan musik dari gamelan. Penampilan Tari Ocung, Tari Cuwek dan lain-lain mendapatkan apresiasi luar biasa dari pengunjung.
[caption id="attachment_2041" align="alignnone" width="263"]
Bahkan, tiga tarian khas Sumenep, yakni tari tombak, pangesto, dan tari muang sangkal, sebagai tarian menyambut tamu penting agar terhindar dari marabahaya dan sial, menambah suasana seakan diajak kepada zaman Arya Wiraraja 700 tahun silam.
Informasinya, tari tombak dan pangesto merupakan simbolisasi rasa hormat masyarakat Sumenep kepada Arya Wijaya yang akan dilantik. Sedangkan tari Muang Sangkal merupakan prosesi membuang petaka agar Arya Wiraraja terhindar dari bencana.
Bupati Sumenep Dr KH A Busyro Karim mengatakan, akan bertekad menjaga mimpi Arya Wiraraja dengan menjadikan Sumenep lebih maju lagi, dan masyaraka kesejahteraan terhadap masyarakat di Sumnepe.
”Pemkab Sumenep tidak bisa bekerja sendirian untuk bisa mewujudkan impian tersebut, untuk itu perlu dukungan semua pihak termasuk pemerintah pusat,” terang Bupati Sumenep Dr KH A Busyro Karim.
Bupati Sumenep menyampaikan terima kasih kepada seluruh masyarakat yang telah menyukseskan pembangunan Kabupaten Sumenep di segala sektor. Sesuai dengan tema hari jadi tahun 2016 yaitu Membangun Desa Menata Kota.
Sementara, salah seorang warga yang menyaksikan kegiatan ini, Nurhasanah, mengaku senang dan terhibur dengan kegiatan tersebut. Sebab, kegiatan itu bisa memberikan inspirasi pengetahuan bagaimana Kabupaten Sumenep lahir dan tumbuh sejak kerajaan tempo dulu. (*)
Pewarta : Ahmadi
Editor : Ibnu Toha
KOMENTAR