BERITAFAJAR.CO - Kiai dan budayawan pengasuh Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin Leteh Rembang KH Musthofa Bisri berpendapat pendiri madras...
BERITAFAJAR.CO - Kiai dan budayawan pengasuh Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin Leteh Rembang KH Musthofa Bisri berpendapat pendiri madrasah Qudsiyyah KHR Asnawi layak mendapat penghargaan sebagai pahlawan nasional.
Sosok kiai kelahiran Kudus tahun 1861 itu, dinilai memiliki semangat berdakwah yang kuat untuk bangsa Indonesia. Bahkan ketika menimba ilmu di Arab Saudi dalam waktu lama, Mbah Asnawi selalu memikirkan kemerdekaan bangsanya.
”Meski sudah lama di Saudi, berguru pada dua syeh di sana, Mbah Asnawi tetap jadi orang Indonesia ketika pulang kampung. Tidak kearab-araban,” kata Gus Mus saat mengisi pengajian meneladani kearifan KHR Asnawi di lapangan Qudsiyyah Kudus, Sabtu (6/8) malam.
Di hadapan ribuan santri dan sejumlah kiai, serta pejabat seperti Kepala Badan Litbang dan Diklat Kemenag Abdurrahman Masud, Gus Mus mengenang Mbah Asnawi sebagai sosok kiai yang tegas dan antipenjajahan.
Saking tidak sukanya kepada Belanda, lanjut Gus Mus, Mbah Asnawi bahkan sampai mengharamkan memakai dasi. ”Memakai dasi dianggap mirip Belanda,”. Kiai yang wafat tahun 1959 itu juga menjadi salah satu tokoh yang membidani berdirinya organisasi keagamaan Nahdlatul Ulama (NU).
Selain berdakwah dari satu tempat ke tempat lain, semangat antipenjajahan Mbah Asnawi diwujudkan dengan mendirikan madrasah Qudsiyyah yang kini tengah berusia seabad.
”Mbah Asnawi mendirikan madrasah untuk memberitahu kepada masyarakat agama yang benar itu seperti apa dan mendidik masyarakat agar berilmu,” katanya.
Gus Mus tak sepakat Mbah Asnawi diklaim sebagai sosok kiai nasionalis. Menurut dia, nasionalisme merupakan paham Barat yang kurang pas disematkan kepada sosok ulama seperti KHR Asnawi.
”Menurut saya, Mbah Asnawi bukan penganut nasionalisme. Mbah Asnawi cinta Indonesia karena berangkat dari pemikiran sederhana. Saya dilahirkan di Indonesia, sujud di Indonesia, jika ada yang menginjak-injak kehormatan Indonesia, akan saya lawan dan bela mati-matian,” katanay.
Mencerdaskan Bangsa
Selain memiliki semangat berdakwah yang kuat, kecintaan Mbah Asnawi terhadap ilmu pengetahuan agama juga cukup tinggi. Hanya, kiprah Mbah Asnawi, termasuk ulama dan santri, dalam melawan ideologi penjajah dan mencerdaskan bangsa, jarang terekam dalam sejarah bangsa Indonesia.
”Sebab yang menulis sejarah Indonesia tidak paham santri. Orang dulu berjuang tidak untuk ditunjuk-tunjukkan. Terlebih kaum santri dan kiai juga cenderung menutup- nutupi amal ibadahnya karena khawatir akan mengurangi pahala,” kata Gus Mus.
Jika ada usulan pahlawan nasional, ia berpendapat Mbah Asnawi sangat pantas untuk menyandang gelar terhormat itu. ”Keteladanan Mbah Asnawi masih relevan untuk saat ini. Bagaimana keindonesiaannya, bagaimana keberagamaannya, termasuk semangat berdakwah dan cintanya terhadap ilmu pengetahuan agama,” katanya.
Sumber : http://berita.suaramerdeka.com
Sosok kiai kelahiran Kudus tahun 1861 itu, dinilai memiliki semangat berdakwah yang kuat untuk bangsa Indonesia. Bahkan ketika menimba ilmu di Arab Saudi dalam waktu lama, Mbah Asnawi selalu memikirkan kemerdekaan bangsanya.
”Meski sudah lama di Saudi, berguru pada dua syeh di sana, Mbah Asnawi tetap jadi orang Indonesia ketika pulang kampung. Tidak kearab-araban,” kata Gus Mus saat mengisi pengajian meneladani kearifan KHR Asnawi di lapangan Qudsiyyah Kudus, Sabtu (6/8) malam.
Di hadapan ribuan santri dan sejumlah kiai, serta pejabat seperti Kepala Badan Litbang dan Diklat Kemenag Abdurrahman Masud, Gus Mus mengenang Mbah Asnawi sebagai sosok kiai yang tegas dan antipenjajahan.
Saking tidak sukanya kepada Belanda, lanjut Gus Mus, Mbah Asnawi bahkan sampai mengharamkan memakai dasi. ”Memakai dasi dianggap mirip Belanda,”. Kiai yang wafat tahun 1959 itu juga menjadi salah satu tokoh yang membidani berdirinya organisasi keagamaan Nahdlatul Ulama (NU).
Selain berdakwah dari satu tempat ke tempat lain, semangat antipenjajahan Mbah Asnawi diwujudkan dengan mendirikan madrasah Qudsiyyah yang kini tengah berusia seabad.
”Mbah Asnawi mendirikan madrasah untuk memberitahu kepada masyarakat agama yang benar itu seperti apa dan mendidik masyarakat agar berilmu,” katanya.
Gus Mus tak sepakat Mbah Asnawi diklaim sebagai sosok kiai nasionalis. Menurut dia, nasionalisme merupakan paham Barat yang kurang pas disematkan kepada sosok ulama seperti KHR Asnawi.
”Menurut saya, Mbah Asnawi bukan penganut nasionalisme. Mbah Asnawi cinta Indonesia karena berangkat dari pemikiran sederhana. Saya dilahirkan di Indonesia, sujud di Indonesia, jika ada yang menginjak-injak kehormatan Indonesia, akan saya lawan dan bela mati-matian,” katanay.
Mencerdaskan Bangsa
Selain memiliki semangat berdakwah yang kuat, kecintaan Mbah Asnawi terhadap ilmu pengetahuan agama juga cukup tinggi. Hanya, kiprah Mbah Asnawi, termasuk ulama dan santri, dalam melawan ideologi penjajah dan mencerdaskan bangsa, jarang terekam dalam sejarah bangsa Indonesia.
”Sebab yang menulis sejarah Indonesia tidak paham santri. Orang dulu berjuang tidak untuk ditunjuk-tunjukkan. Terlebih kaum santri dan kiai juga cenderung menutup- nutupi amal ibadahnya karena khawatir akan mengurangi pahala,” kata Gus Mus.
Jika ada usulan pahlawan nasional, ia berpendapat Mbah Asnawi sangat pantas untuk menyandang gelar terhormat itu. ”Keteladanan Mbah Asnawi masih relevan untuk saat ini. Bagaimana keindonesiaannya, bagaimana keberagamaannya, termasuk semangat berdakwah dan cintanya terhadap ilmu pengetahuan agama,” katanya.
Sumber : http://berita.suaramerdeka.com
KOMENTAR