BERITAFAJAR.CO – Puluhan aktivis dari Badan Otonom Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur melaku...
BERITAFAJAR.CO – Puluhan aktivis dari Badan Otonom Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur melakukan pengecatan terhadap tugu pahlawan nasional KH Abdullah Sajjad.
KH Abdullah Sajjad merupakan salah satu pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk. Kiai Sajjad, sebagai ketua Sabilillah wafat sebagai syahid setelah di eksekusi Belanda di lapangan Guluk-Guluk pada masa Agresi II Belanda, 03 Desember 1947.
Inisiator pengecatan tugu Pahlawan itu, Badrul Alrozi mengatakan, pelaksanaan pengecatan yang dilakukan oleh kader-kader NU adalah sebagai bentuk penghormatan atas perjuangan dan pengorbanan KH. Abdullah Sajjad.
”Kegiatan ini juga untuk mengingatkan kepada generasi muda bahwa kewajiban menghormati jasa-jasa pahlawan. Perjuangan beliau sangat luar biasa. Makanya, kita lanjutkan dengan peniupan 1000 lilin dan doa bersama dengan 1000 santri,” tandasnya.
Selain itu, lanjutnya, memberikan kritik membangun kepada pemerintah di kecamatan, yang kurang perhatian terhadap monomen dan tugu yang dalam perawatan.
”Belajar dan menimba sejarah perjuangan kelompok pesantren dalam mempertahankan kemerdekaan RI,” tandasnya. (*)
Pewarta : Ahmadi
Editor : Ibnu Toha
KH Abdullah Sajjad merupakan salah satu pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk. Kiai Sajjad, sebagai ketua Sabilillah wafat sebagai syahid setelah di eksekusi Belanda di lapangan Guluk-Guluk pada masa Agresi II Belanda, 03 Desember 1947.
Inisiator pengecatan tugu Pahlawan itu, Badrul Alrozi mengatakan, pelaksanaan pengecatan yang dilakukan oleh kader-kader NU adalah sebagai bentuk penghormatan atas perjuangan dan pengorbanan KH. Abdullah Sajjad.
”Kegiatan ini juga untuk mengingatkan kepada generasi muda bahwa kewajiban menghormati jasa-jasa pahlawan. Perjuangan beliau sangat luar biasa. Makanya, kita lanjutkan dengan peniupan 1000 lilin dan doa bersama dengan 1000 santri,” tandasnya.
Selain itu, lanjutnya, memberikan kritik membangun kepada pemerintah di kecamatan, yang kurang perhatian terhadap monomen dan tugu yang dalam perawatan.
”Belajar dan menimba sejarah perjuangan kelompok pesantren dalam mempertahankan kemerdekaan RI,” tandasnya. (*)
Pewarta : Ahmadi
Editor : Ibnu Toha
KOMENTAR