BERITAFAJAR.CO - Prancis dan Portugal akan berhadapan di laga final Piala Eropa 2016, Senin dinihari, 11 Juli 2016, WIB. Reuters menganali...
BERITAFAJAR.CO - Prancis dan Portugal akan berhadapan di laga final Piala Eropa 2016, Senin dinihari, 11 Juli 2016, WIB. Reuters menganalisis strategi Portugal yang akan berhadapan dengan tim tuan rumah.
Menurut Reuters, Portugal punya semangat tim yang mengagumkan, dengan mantra bahwa mereka tidak perlu bermain cantik. Mereka menang dengan mengesampingkan keindahan.
Juru taktik Portugal, Fernando Santos, mengandalkan formasi 4-4-2 dan mempertahankannya meski terjadi beberapa cedera pemain. Kehilangan Pepe di lini belakang tidak terlalu terlihat berdampak saat mereka melawan Wales di semifinal. Bruno Alves mampu tampil gemilang untuk menggantikannya.
Dari pertandingan Prancis melawan Jerman, Santos akan mencermati bahwa kelemahan pasukan Didier Deschamps adalah pada sektor sayap, khususnya di sisi kiri yang dihuni Patrice Evra.
Kubu Jerman menekan Prancis sangat dalam dengan menggunakan dua full back mereka yang nyaris berfungsi sebagai pemain sayap. Untuk sebagian besar jalannya pertandingan, dua gelandang Prancis, Paul Pogba dan Blaise Matuidi, seperti mengejar bayang-bayang, di mana Joshua Kimmich dan Jonas Hector memiliki banyak ruang gerak.
Dua full back Portugal, Raphael Guerreiro dan Cedric Soares, cukup bagus untuk menduplikasi hal itu. Ini dapat mendorong Deschamps untuk mengubah formasi yang menyerang 4-2-3-1 menjadi 4-3-3. Ini sekaligus merestorasi gelandang bertahan, N’Golo Kante.
Namun apakah lini tengah Portugal memiliki kapasitas layaknya Bastian Schweinsteiger atau Toni Kroos untuk merepotkan Prancis masih dapat dipertanyakan.
Sumeber : Tempo.co
Menurut Reuters, Portugal punya semangat tim yang mengagumkan, dengan mantra bahwa mereka tidak perlu bermain cantik. Mereka menang dengan mengesampingkan keindahan.
Juru taktik Portugal, Fernando Santos, mengandalkan formasi 4-4-2 dan mempertahankannya meski terjadi beberapa cedera pemain. Kehilangan Pepe di lini belakang tidak terlalu terlihat berdampak saat mereka melawan Wales di semifinal. Bruno Alves mampu tampil gemilang untuk menggantikannya.
Dari pertandingan Prancis melawan Jerman, Santos akan mencermati bahwa kelemahan pasukan Didier Deschamps adalah pada sektor sayap, khususnya di sisi kiri yang dihuni Patrice Evra.
Kubu Jerman menekan Prancis sangat dalam dengan menggunakan dua full back mereka yang nyaris berfungsi sebagai pemain sayap. Untuk sebagian besar jalannya pertandingan, dua gelandang Prancis, Paul Pogba dan Blaise Matuidi, seperti mengejar bayang-bayang, di mana Joshua Kimmich dan Jonas Hector memiliki banyak ruang gerak.
Dua full back Portugal, Raphael Guerreiro dan Cedric Soares, cukup bagus untuk menduplikasi hal itu. Ini dapat mendorong Deschamps untuk mengubah formasi yang menyerang 4-2-3-1 menjadi 4-3-3. Ini sekaligus merestorasi gelandang bertahan, N’Golo Kante.
Namun apakah lini tengah Portugal memiliki kapasitas layaknya Bastian Schweinsteiger atau Toni Kroos untuk merepotkan Prancis masih dapat dipertanyakan.
Sumeber : Tempo.co
KOMENTAR