BERITAFAJAR.CO - Puluhan nelayan di pesisir Masalembu, Kecamatan Masalembu, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, tetap berkomitmen da...
BERITAFAJAR.CO - Puluhan nelayan
di pesisir Masalembu, Kecamatan Masalembu, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, tetap
berkomitmen dan bersepakat dengan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi
Pudjiastuti tentang penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan.
Salah satu nelayan di pulau
Masalembu, Masyanto mengatakan, belakangan memang dengan semakin majunya
teknologi, banyak alat tangkap ikan yang tidak ramah lingkungan. Bahkan, alat
tangkap ikan yang dapat merusak biota laut.
”Ketika menangkap ikan menggunakan
cantrang, bukan hanya ikan-ikan besar yang terjaring oleh alat tangkap itu,
namun jenis yang kecil pun ikut terbawa. Bahkan, ikan kecil yang mestinya
berproduksi, tetapi malah di rusak,” ujar Masyanto, warga Dusun Baru, Desa Masalima, Kecamatan
Masalembu, Sabtu (22/7/2017).
Dikatakan, cantrang merupakan
alat tangkap yang tidak ramah lingkungan, selain merusak biota laut, juga
merusak populasi ikan-ikan kecil yang seharusnya berproduksi secara baik.
”Bagi kami, terbiasa
menggunakan payan dan jaring. Jika menggunakan cantrang atau granit, tentu akan
merusak membunuh masa depan kami di Masalembu,” terangnya.
Sementara itu, anggota DPRD
Sumenep asal pulau Masalembu, Darul Hasyim Fath, membenarkan pernyataan
tersebut. Bahkan, menurut politisi PDI Perjuangan ini, nelayan Masalembu tidak
pernah menggunakan cantrang untuk menangkap ikan.
Dijelaskan, alat tangkap ikan
yang dapat merusak masa depan nelayan, tidak digunakan oleh warga Masalembu. Nelayan
Masalembu, lanjutnya, terbiasa menggunakan pancingan dan payang dengan lebar 1
inci dan panjang 15-35 meter.
”Meskipun demikian, nelayan
dapat menangkap ikan dalam jumlah besar. Bahkan dengan kapal kecil mereka
berhasil menangkap 2-3 ton ikan. Bila dikalkulasikan, masyarakat setempat bisa
memperoleh Rp20 juta – Rp 25 juta per kapalnya,” pungkasnya. (di/ibn/)

KOMENTAR