Oleh M Rikza Chamami BERITAFAJAR.co - Penundaan kerjasama antara Tentara Nasional Republik Indonesia (TNI) dengan Australian Defence Forc...
Oleh M Rikza Chamami
BERITAFAJAR.co - Penundaan kerjasama antara Tentara Nasional Republik Indonesia (TNI) dengan Australian Defence Force (ADF) menjadi topik hangat yang sedang diperbincangkan. Bangsa Indonesia tidak rela jika ada oknum militer Australia yang menghina marwah Pancasila dan TNI.
Ini menandakan konsistensi yang luar biasa dari TNI dan Pemerintah Republik Indonesia dalam menjaga ideologi bangsa. Australia pun akhirnya meminta maaf dengan berkirim surat lewat Marsekal AJ Mark Binskin. Janji melakukan investigasi kurikulum pendidikan militer Australia yang menghina TNI dan Pancasila juga telah disampaikan.
Yang menjadi catatan lain, kenapa dengan Australia bisa tegas, namun dengan WNI kurang tegas. Maksudnya? WNI yang berKTP sah juga masih banyak yang menghina dan melecehkan Pancasila. Ini juga harus segera ditindak.
Meneguhkan Pancasila harus lahir batin. Pancasila diperjuangkan mulai dalam negeri. Sehingga TNI perlu juga melakukan evaluasi dalam negeri terhadap penista Pancasila. Sakit memang Pancasila disebut Pancagila. Sama sakitnya Pancasila disebut taghut dan kafir.
Pancasila akan lebih bermakna dan bertuah jika bangsa ini meyakini dan mengamalkan. Nasionalisme bisa kuat itu karena Pancasila. Konflik bisa redam itu karena kesadaran berpancasila. Dan bangsa ini bisa hancur pasti karena pelemahan nilai Pancasila.
Ketegasan Pemerintah terhadap Australia menjadi pelajaran baru di awal tahun 2017. Yang patut dicatat adalah, butuh ketegasan dalam negeri untuk menyadarkan WNI yang anti Pancasila. Jika masih mengakui Pancasila, NKRI tempatnya. Jika tidak yakin dan menghina Pancasila, maka perlu dicarikan tempat lain. (*)
BERITAFAJAR.co - Penundaan kerjasama antara Tentara Nasional Republik Indonesia (TNI) dengan Australian Defence Force (ADF) menjadi topik hangat yang sedang diperbincangkan. Bangsa Indonesia tidak rela jika ada oknum militer Australia yang menghina marwah Pancasila dan TNI.
Ini menandakan konsistensi yang luar biasa dari TNI dan Pemerintah Republik Indonesia dalam menjaga ideologi bangsa. Australia pun akhirnya meminta maaf dengan berkirim surat lewat Marsekal AJ Mark Binskin. Janji melakukan investigasi kurikulum pendidikan militer Australia yang menghina TNI dan Pancasila juga telah disampaikan.
Yang menjadi catatan lain, kenapa dengan Australia bisa tegas, namun dengan WNI kurang tegas. Maksudnya? WNI yang berKTP sah juga masih banyak yang menghina dan melecehkan Pancasila. Ini juga harus segera ditindak.
Meneguhkan Pancasila harus lahir batin. Pancasila diperjuangkan mulai dalam negeri. Sehingga TNI perlu juga melakukan evaluasi dalam negeri terhadap penista Pancasila. Sakit memang Pancasila disebut Pancagila. Sama sakitnya Pancasila disebut taghut dan kafir.
Pancasila akan lebih bermakna dan bertuah jika bangsa ini meyakini dan mengamalkan. Nasionalisme bisa kuat itu karena Pancasila. Konflik bisa redam itu karena kesadaran berpancasila. Dan bangsa ini bisa hancur pasti karena pelemahan nilai Pancasila.
Ketegasan Pemerintah terhadap Australia menjadi pelajaran baru di awal tahun 2017. Yang patut dicatat adalah, butuh ketegasan dalam negeri untuk menyadarkan WNI yang anti Pancasila. Jika masih mengakui Pancasila, NKRI tempatnya. Jika tidak yakin dan menghina Pancasila, maka perlu dicarikan tempat lain. (*)
KOMENTAR