BERITAFAJAR.co - Polemik soal dikeluarkannya Surat Keputusan (SK) Dewan Pengurus Cabang Partai Persatuan Pembangunan (DPC PPP) Kabupaten Su...
BERITAFAJAR.co - Polemik soal dikeluarkannya Surat Keputusan (SK) Dewan Pengurus Cabang Partai Persatuan Pembangunan (DPC PPP) Kabupaten Sumenep oleh DPW PPP Jawa Timur, dinilai mengancam terhadap eksistensi partai PPP. Pasalnya, perlawanan kuat dari kiai-kiai kampung yang aktif di PPP, hingga kini terus menguat dan menjadi bola salju.
Pengamat politik Sumenep, Ajimuddin menilai, PPP tanpa kiai sama seperti macan ompong. “Dalam sejarah PPP, kiai itu mesin utama mereka eksis dari zaman orba hingga masa kini,” paparnya.
Lebih lanjut mantan Aktivis PMII Yogyakarta ini mengungkapkan, tanpa simbol kiai bisa jadi PPP tidak lolos Parlementari Resort (PT) dalam pemilu yang akan datang. Ditinggalkannya PPP oleh para kiai merupakan “kiamat politik” bagi partai PPP.
“Sebaiknya PPP Sumenep ini Islah dan patuh pada mikanisem partai dalam arti, ‘jangan memainkan kepintaran lain’ dalam suksesi kepartaian, agar siapa pun yang mendapat mandat, memiliki legitimasi publik yang kokoh. Agar tidak disebut terjadi ‘sabotase politik’ dalam partai bernafaskan islam. Sehingga dengan begitu para kiai tidak lagi gerah (muak) dan keluar dari partai, ” tandasnya. (*)
Pewarta : Qusyairi
Editor : Ibnu Toha
Pengamat politik Sumenep, Ajimuddin menilai, PPP tanpa kiai sama seperti macan ompong. “Dalam sejarah PPP, kiai itu mesin utama mereka eksis dari zaman orba hingga masa kini,” paparnya.
Lebih lanjut mantan Aktivis PMII Yogyakarta ini mengungkapkan, tanpa simbol kiai bisa jadi PPP tidak lolos Parlementari Resort (PT) dalam pemilu yang akan datang. Ditinggalkannya PPP oleh para kiai merupakan “kiamat politik” bagi partai PPP.
“Sebaiknya PPP Sumenep ini Islah dan patuh pada mikanisem partai dalam arti, ‘jangan memainkan kepintaran lain’ dalam suksesi kepartaian, agar siapa pun yang mendapat mandat, memiliki legitimasi publik yang kokoh. Agar tidak disebut terjadi ‘sabotase politik’ dalam partai bernafaskan islam. Sehingga dengan begitu para kiai tidak lagi gerah (muak) dan keluar dari partai, ” tandasnya. (*)
Pewarta : Qusyairi
Editor : Ibnu Toha
KOMENTAR