BERITAFAJAR.co – Terik panas matahari dan bisingnya knalpot kendaraan yang melintas, tidak menyurutkan semangat Asni, Warga Desa Kacongan, ...
BERITAFAJAR.co – Terik panas matahari dan bisingnya knalpot kendaraan yang melintas, tidak menyurutkan semangat Asni, Warga Desa Kacongan, Kecamatan Kota, Sumenep, Jawa Timur, menelusuri bak-bak sampah untuk mengais rejeki.
Siang itu, bocah berumur sembilan tahun berkeliling di seputaran halaman Mapolres Sumenep. Ia terlihat dengan penuh telaten, memungut barang-barang bekas seperti botol air meneral dan barang-barang bekas lain dari bak sampah. Barang-barang itu, lalu ia diletakkan di kantong plastik besar yang dibawanya.
Setelah memungut barang bekas, ia sesekali mengusap derai keringat yang membahasihi pipinya. Rambutnya yang sebahu, sesekali ia singkap dengan tangan mungilnya agar tidak menutupi mata. Meski panas mentari begitu menyengat, ia tidak letih menyusuri tiap bak sampah.
Asni, merupakan putra dari Slamet. Sejak duduk di bangku kelas I, ia terpaksa menjadi pemulung karena keterbatasan ekonomi keluarga. Meski begitu, ia tetap aktif bersekolah dan aktivitas memulung dilakukan sepulang sekolah.
Sungguh mengharukan. Siswi yang masih duduk di bangku sekolah kelas III SD terpaksa harus mengais rejeki dari satu bak sampah ke bak sampah lain demi bisa bertahan hidup dan meraih cita-citanya sebagai dokter.
Kondisi keterbatasan ekonomi, yang membuat Anis harus ikut menjadi pemulung untuk membantu orang tuanya demi memenuhi kebutuhan makan setiap hari. Semestinya, ia bermain dengan teman sebayanya, namun demi mengais rejeki, ia pergunakan untuk mencari rejeki di bak sampah.
Dari hasil usahanya dengan mencari barang-barang bekas untuk dijual itu, ia belikan sejumlah kebutuhan hidup di rumah dan biaya sekolah setiap hari.
”Ikut mencari barang bekas setiap pulang sekolah. Cita-cita ingin menjadi dokter. Kalau hasilnya, sekitar Rp 20 ribu,” ujarnya saat ditanya wartawan di Sumenep.
Kini, Asni duduk di bangku sekolah kelas III SD. Uang yang didapatkan dari mengumpulkan barang-barang bekas tersebut, hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup bersama keluarga setiap harinya. Bahkan, jika ada uang sisa, ia sisihkan untuk disimpan agar bisa melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi demi mewujudkan cita-citanya sebagai dokter.
Demi membantu meringankan beban yang dialami Asni, sejumlah wartawan di Sumenep ikut patungan memberikan sumbangan kepada Asni. Harapannya, warga Sumenep maupun lainnya ikut tersentuh membantu siswi yang masih duduk kelas III SD tersebut. (*)
Siang itu, bocah berumur sembilan tahun berkeliling di seputaran halaman Mapolres Sumenep. Ia terlihat dengan penuh telaten, memungut barang-barang bekas seperti botol air meneral dan barang-barang bekas lain dari bak sampah. Barang-barang itu, lalu ia diletakkan di kantong plastik besar yang dibawanya.
Setelah memungut barang bekas, ia sesekali mengusap derai keringat yang membahasihi pipinya. Rambutnya yang sebahu, sesekali ia singkap dengan tangan mungilnya agar tidak menutupi mata. Meski panas mentari begitu menyengat, ia tidak letih menyusuri tiap bak sampah.
Asni, merupakan putra dari Slamet. Sejak duduk di bangku kelas I, ia terpaksa menjadi pemulung karena keterbatasan ekonomi keluarga. Meski begitu, ia tetap aktif bersekolah dan aktivitas memulung dilakukan sepulang sekolah.
Sungguh mengharukan. Siswi yang masih duduk di bangku sekolah kelas III SD terpaksa harus mengais rejeki dari satu bak sampah ke bak sampah lain demi bisa bertahan hidup dan meraih cita-citanya sebagai dokter.
Kondisi keterbatasan ekonomi, yang membuat Anis harus ikut menjadi pemulung untuk membantu orang tuanya demi memenuhi kebutuhan makan setiap hari. Semestinya, ia bermain dengan teman sebayanya, namun demi mengais rejeki, ia pergunakan untuk mencari rejeki di bak sampah.
Dari hasil usahanya dengan mencari barang-barang bekas untuk dijual itu, ia belikan sejumlah kebutuhan hidup di rumah dan biaya sekolah setiap hari.
”Ikut mencari barang bekas setiap pulang sekolah. Cita-cita ingin menjadi dokter. Kalau hasilnya, sekitar Rp 20 ribu,” ujarnya saat ditanya wartawan di Sumenep.
Kini, Asni duduk di bangku sekolah kelas III SD. Uang yang didapatkan dari mengumpulkan barang-barang bekas tersebut, hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup bersama keluarga setiap harinya. Bahkan, jika ada uang sisa, ia sisihkan untuk disimpan agar bisa melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi demi mewujudkan cita-citanya sebagai dokter.
Demi membantu meringankan beban yang dialami Asni, sejumlah wartawan di Sumenep ikut patungan memberikan sumbangan kepada Asni. Harapannya, warga Sumenep maupun lainnya ikut tersentuh membantu siswi yang masih duduk kelas III SD tersebut. (*)
KOMENTAR