BERITAFAJAR.co - Salah satu tradisi di Dusun Batoguluk, Desa Basoka, Kecamatan Rubaru, Sumenep, Madura, Jawa Timur, adalah nyekar atau meng...
BERITAFAJAR.co - Salah satu tradisi di Dusun Batoguluk, Desa Basoka, Kecamatan Rubaru, Sumenep, Madura, Jawa Timur, adalah nyekar atau mengunjungi makam leluhur, seusai shalat Idul Adha. Namun, tradisi tersebut mulai pudar seiring dengan perkembangan zaman.
Sesuai dengan pantauan wartawan, sangat sedikit jumlah warga yang melakukan nyekar ke Asta Agung Kramat di wilayah setempat. Padahal, tahun-tahun sebelumnya, selalu berjubel warga Nyekar seusai shalat Idul adha.
Menurut salah satu tokoh masyarakat setempat, H Syamsul mengatakan, memudarnya tradisi nyekar terhadap makam leluhur terjadi sejak beberapa tahun kemarin, sejak kendaraan roda dua dan HP mulai masuk desa.
"Sekarang kondisinya sangat berbeda dengan dulu. Kalau dulu, sekitar tahun 1990-an, masih lumrah dan menjadi keharusan setelah shalat Id nyekar ke makam leluhur, mungkin mereka sudah mulai lupa dengan para leluhurnya," ujar Syamsul.
Sebagaimana dilansir dari TIMESIndonesia, memudarnya tradisi tersebut, lanjut Syamsul, harus menjadi perhatian dari semua kalangan, terutama bagi kalangan muda sehingga, mendoakan leluhur tidak runtuh hanya perkembangan zaman.
"Kalau dulu, setelah shalat id, semua warga ngumpul dulu di masjid. Setelah itu, mereka nyekar dan mengaji di Asta pada nenek moyang mereka. Sekarang, sudah tidak ada lagi. Setelah shalat, mereka terburu-buru menghidupkan sepeda masing-masing," imbuhnya.
Dia menduga, semua ini akibat perkembangan teknologi yang cukup pesat, sehingga kalangan muda lupa dengan tradisi lama yang sebenarnya harus dipertahankan. Bahkan, kaum perempuan semestinya datang pula ke Masjid, kini sudah tidak ada lagi.
"Pemuda sekarang lebih suka main HP, mereka rela berlama-lama dan berjam-jam duduk dan senyum sendiri dengan HP-nya. Bahkan, jangankan Nyekar, shalat saja kadang ditinggalkan karena keasyikan bermain HP," pungkasnya.
Dia berharap, kalangan muda terutama yang berada di Pesantren, bisa menghidupkan kembali tradisi lama yang baik, dan menghilangkan tradisi baru yang merusak terhadap tradisi lama yang bagus. (*)
Sesuai dengan pantauan wartawan, sangat sedikit jumlah warga yang melakukan nyekar ke Asta Agung Kramat di wilayah setempat. Padahal, tahun-tahun sebelumnya, selalu berjubel warga Nyekar seusai shalat Idul adha.
Menurut salah satu tokoh masyarakat setempat, H Syamsul mengatakan, memudarnya tradisi nyekar terhadap makam leluhur terjadi sejak beberapa tahun kemarin, sejak kendaraan roda dua dan HP mulai masuk desa.
"Sekarang kondisinya sangat berbeda dengan dulu. Kalau dulu, sekitar tahun 1990-an, masih lumrah dan menjadi keharusan setelah shalat Id nyekar ke makam leluhur, mungkin mereka sudah mulai lupa dengan para leluhurnya," ujar Syamsul.
Sebagaimana dilansir dari TIMESIndonesia, memudarnya tradisi tersebut, lanjut Syamsul, harus menjadi perhatian dari semua kalangan, terutama bagi kalangan muda sehingga, mendoakan leluhur tidak runtuh hanya perkembangan zaman.
"Kalau dulu, setelah shalat id, semua warga ngumpul dulu di masjid. Setelah itu, mereka nyekar dan mengaji di Asta pada nenek moyang mereka. Sekarang, sudah tidak ada lagi. Setelah shalat, mereka terburu-buru menghidupkan sepeda masing-masing," imbuhnya.
Dia menduga, semua ini akibat perkembangan teknologi yang cukup pesat, sehingga kalangan muda lupa dengan tradisi lama yang sebenarnya harus dipertahankan. Bahkan, kaum perempuan semestinya datang pula ke Masjid, kini sudah tidak ada lagi.
"Pemuda sekarang lebih suka main HP, mereka rela berlama-lama dan berjam-jam duduk dan senyum sendiri dengan HP-nya. Bahkan, jangankan Nyekar, shalat saja kadang ditinggalkan karena keasyikan bermain HP," pungkasnya.
Dia berharap, kalangan muda terutama yang berada di Pesantren, bisa menghidupkan kembali tradisi lama yang baik, dan menghilangkan tradisi baru yang merusak terhadap tradisi lama yang bagus. (*)
KOMENTAR