BERITAFAJAR.CO – Menjelang HUT Ke 71 RI, Badan Otonom Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, aka...
BERITAFAJAR.CO – Menjelang HUT Ke 71 RI, Badan Otonom Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, akan menggelar pengecatan terhadap tugu pahlawan nasional KH Abdullah Sajjad, yang gugur sebagai syahid dalam agresi II Belanda, 03 Desember 1947 di Guluk-Guluk.
Inisiator kegiatan itu, Badrul Alrozi mengatakan, pengecatan akan dilaksanakan besok, Kamis (11/8/2016) di tugu pahlawan KH Abdullah Sajjad yang terletak di lapangan Kecamatan Guluk-Guluk. Bahkan, bukan hanya kegiatan tersebut.
”Ketika malam harinya, akan digeler dengan tahlil bersama 1000 sentri dari Pondok Pesantren Annuqayah dan menyalakan 1000 lilin,” tegas Badrul Alrozi, ketika berbincang-bincang dengan wartawan TIMESIndonesia, Rabu (10/8/2016).
Menurutnya, kegiatan tersebut sangat penting dilaksanakan. Sebab, untuk mengingat dan mengenang perjuangan pahlawan nasional dari kalangan Pesantren. Diakuinya, KH Abdullah Sajjad merupakan pejuangan kemerdekaan dari pesantren, yakni dari Pondok Pesantren Annuqayah yang patut dijadikan teladan.
”Sekilas sejarah Kiai Sajjad yang saya tahu, bahwa pada bulan November 1947, datang seorang santri utusan dari Belanda ke tempat persembuyian beliau. Santri itu, membawa kabar bahwa Guluk-Guluk sudah aman. Kiyai Sajjad tanpa berprasangka buruk akhirnya kembali ke Guluk-guluk,” ujar Badrul Alrozi.
Diakuinya, ketika tiba di Guluk-Guluk, Kiai Abdullah Sajjad melaksanakan shalat ashar dan maghrib dengan berjamaah warga sekitar. Namun setelah shalat maghrib, beberapa tentara Belanda tiba-tiba datang dan memaksa kiyai Sajjad agar menyerahkan diri.
”Memang, hampir saja terjadi kontak fisik antara warga dan tentara Belanda. Namun, demi tidak terjadi korban di fihak warga, kiyai Sajjad rela menyerahkan diri. Lalu, beliau dibawa ke lapangan Guluk-Guluk dan dieksekusi. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’un,” terangnya. (*)
Sumber : timesindonesia.co.id
Inisiator kegiatan itu, Badrul Alrozi mengatakan, pengecatan akan dilaksanakan besok, Kamis (11/8/2016) di tugu pahlawan KH Abdullah Sajjad yang terletak di lapangan Kecamatan Guluk-Guluk. Bahkan, bukan hanya kegiatan tersebut.
”Ketika malam harinya, akan digeler dengan tahlil bersama 1000 sentri dari Pondok Pesantren Annuqayah dan menyalakan 1000 lilin,” tegas Badrul Alrozi, ketika berbincang-bincang dengan wartawan TIMESIndonesia, Rabu (10/8/2016).
Menurutnya, kegiatan tersebut sangat penting dilaksanakan. Sebab, untuk mengingat dan mengenang perjuangan pahlawan nasional dari kalangan Pesantren. Diakuinya, KH Abdullah Sajjad merupakan pejuangan kemerdekaan dari pesantren, yakni dari Pondok Pesantren Annuqayah yang patut dijadikan teladan.
”Sekilas sejarah Kiai Sajjad yang saya tahu, bahwa pada bulan November 1947, datang seorang santri utusan dari Belanda ke tempat persembuyian beliau. Santri itu, membawa kabar bahwa Guluk-Guluk sudah aman. Kiyai Sajjad tanpa berprasangka buruk akhirnya kembali ke Guluk-guluk,” ujar Badrul Alrozi.
Diakuinya, ketika tiba di Guluk-Guluk, Kiai Abdullah Sajjad melaksanakan shalat ashar dan maghrib dengan berjamaah warga sekitar. Namun setelah shalat maghrib, beberapa tentara Belanda tiba-tiba datang dan memaksa kiyai Sajjad agar menyerahkan diri.
”Memang, hampir saja terjadi kontak fisik antara warga dan tentara Belanda. Namun, demi tidak terjadi korban di fihak warga, kiyai Sajjad rela menyerahkan diri. Lalu, beliau dibawa ke lapangan Guluk-Guluk dan dieksekusi. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’un,” terangnya. (*)
Sumber : timesindonesia.co.id
KOMENTAR