BERITAFAJAR.CO - Setiap umat muslim pasti mendambakan mampu melaksanakan ibadah haji ke tanah suci Mekah. Haji, merupakan rukun Islam ...
BERITAFAJAR.CO - Setiap umat muslim pasti mendambakan mampu melaksanakan ibadah haji ke tanah suci Mekah. Haji, merupakan rukun Islam nomor lima. Mempu
melaksanakan ibadah haji, bermakna pula bisa berziarah ke makam nabi akhir zaman, Nabi
Muhammad SAW.
Ibadah haji sangat istimewa dari
sekian ibadah lainnya, sehingga membuat orang muslim di seluruh dunia
berbondong-bondong pergi naik haji setiap
tahunnya.
Hanya saja tidak semua umat muslim bisa kebagian
melaksanakan rukun Islam tersebut. Kendalanya, biaya transportasi, kebijakan kuota haji dan persoalan
lain sehingga pelaksanaan ibadah haji sulit bisa dilakukan
banyak orang. Hanya orang yang beruntung dan ditakdirkan saja yang bisa
melaksanakan ibadah suci ini.
Terbukti, banyak orang yang mampu secara ekonomi tetapi tidak ditakdirkan bisa naik haji,
bahkan hingga meninggal dunia tidak dapat menikmati yang namanya ibadah haji
tersebut. Sebaliknya banyak orang yang ekonominya rendah, tetapi ditakdirkan
bisa naik haji dan beribadah di tanah suci. Jadi status kaya dan miskin tidak
menjamin seseorang bisa dapat melaksanakan ibadah rukun haji, melainkan hanya
takdir tuhan-lah yang mampu mengantarkan seseorang itu bisa naik haji. Fenomena
misteri itulah yang hingga saat ini belum bisa terjawab.
Ketika
ditelaah lebih dalam memaknai ritual haji dari berbagai aspek banyak memberikan
inspirasi dan motivasi. Khususnya dalam perbaikan ekonomi. Sebab dengan
semangat haji, orang bisa semakin giat bekerja untuk memiliki bekal banyak agar
bisa melaksanakan ibadah haji. Dengan kata lain, bekerja yang rajin dan
memperoleh uang banyak merupakan syarat utama untuk bisa melakukan rukun islam
yang nomer lima seperti yang di perintahkan oleh Allah, yang tertuang dalam
kitab suci Al-Quran maupun Sunnah nabi.
Di
samping itu, hikmah melaksanakan ibadah haji dapat membangun hubungan sosial
yang lebih baik. Sebab Bisa bersilaturrahim dengan sesama ummat muslim lain
yang berasal dari berbagai belahan dunia di alam jagad ini. Karena ritual ini
tempat berkumpulnya ummat muslim, tanpa membedakan dari semua statusnya, baik
yang miskin, kaya, penguasa, pengusaha maupun konglomerat, semuanya sama.
Sama-sama melaksanakan ibadah rukun islam yang nomor lima tanpa
membeda-bedakannya.
Selain
itu, motivasi haji, bisa melakukan evaluasi diri dengan sepirit memperbaiki
diri dengan jalan hidup yang lebih baik sesuai dengan tuntunan Agama Allah.
Dengan ibadah haji mampu Menjauhi segala perbuatan dosa dan perbuatan maksiat
Berikut
sejumlah dalil yang menjabarkan keutamaan ibadah haji, yang jaminannya langsung
di surga. Yang tentunya jaminan ini akan di dapat bagi orang muslim yang
bersungguh-sungguh melakukan ibadah haji. Tidak hanya sekedar rekreasi maupun
niatan untuk menaikkan status sosialnya di tengah-tengah masyarakat.
الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا
رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ
“(Musim)
haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya
dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik
dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji…” (QS al-Baqarah: 197).
Dari
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
سُئِلَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – أَىُّ الأَعْمَالِ أَفْضَلُ قَالَ
« إِيمَانٌ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ » . قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ « جِهَادٌ فِى
سَبِيلِ اللَّهِ » . قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ « حَجٌّ مَبْرُورٌ »
“Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Amalan apa yang paling afdhol?” Beliau
shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.”
Ada yang bertanya lagi, “Kemudian apa lagi?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa
sallam menjawab, “Jihad di jalan Allah.” Ada yang bertanya kembali, “Kemudian
apa lagi?” “Haji mabrur”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR.
Bukhari no. 1519)
Dari
Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ
“Dan
haji mabrur tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga.” (HR. Bukhari
no. 1773 dan Muslim no. 1349). An Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Yang
dimaksud, ‘tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga’, bahwasanya haji
mabrur tidak cukup jika pelakunya dihapuskan sebagian kesalahannya. Bahkan ia
memang pantas untuk masuk surga.” (Syarh Shahih Muslim, 9/119)
Dari
‘Aisyah—ummul Mukminin—radhiyallahu ‘anha, ia berkata,
يَا رَسُولَ اللَّهِ ، نَرَى الْجِهَادَ أَفْضَلَ الْعَمَلِ ، أَفَلاَ
نُجَاهِدُ قَالَ « لاَ ، لَكِنَّ أَفْضَلَ الْجِهَادِ حَجٌّ مَبْرُورٌ »
“Wahai
Rasulullah, kami memandang bahwa jihad adalah amalan yang paling afdhol. Apakah
berarti kami harus berjihad?” “Tidak. Jihad yang paling utama adalah haji
mabrur”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari no. 1520)
Dari
Abu Hurairah, ia berkata bahwa ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ
وَلَدَتْهُ أُمُّهُ
“Siapa
yang berhaji ke Ka’bah lalu tidak berkata-kata seronok dan tidak berbuat
kefasikan maka dia pulang ke negerinya sebagaimana ketika dilahirkan oleh
ibunya.” (HR. Bukhari no. 1521).
Dari
Abdullah bin Mas’ud, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ
وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِى الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ
وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُورَةِ ثَوَابٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ
“Ikutkanlah
umrah kepada haji, karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa
sebagaimana pembakaran menghilangkan karat pada besi, emas, dan perak.
Sementara tidak ada pahala bagi haji yang mabrur kecuali surga.” (HR. An Nasai
no. 2631, Tirmidzi no. 810, Ahmad 1/387. Kata Syaikh Al Albani hadits ini hasan
shahih)
Dari
Ibnu ‘Umar, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
الْغَازِى فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَالْحَاجُّ وَالْمُعْتَمِرُ وَفْدُ اللَّهِ
دَعَاهُمْ فَأَجَابُوهُ وَسَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ
“Orang
yang berperang di jalan Allah, orang yang berhaji serta berumroh adalah
tamu-tamu Allah. Allah memanggil mereka, mereka pun memenuhi panggilan. Oleh
karena itu, jika mereka meminta kepada Allah pasti akan Allah beri” (HR. Ibnu
Majah no 2893.
Dari
sekian dalil tersebut, semakin memompa semangat ummat muslim untuk bisa
melaksanakan ibadah rukun islam yang nomer lima. Yang awalnya tidak semangat
bekerja, semakin dipompa bekerja keras tanpa mengenal lelah, dibarengi niat
tulus dan ikhlas serta disertai doa
dengan mengharap ridho sang
ilahi.
Penulis adalah Ahmad Sa’ie, Mahasiswa
Pascasarja STAIN Pamekasan

KOMENTAR