BERITAFAJAR.co - Pantai Lombang, salah satu tempat wisata yang berada di Kecamatan Batang-batang, Sumenep, Madura, Jawa Timur. Pantai ...
BERITAFAJAR.co - Pantai Lombang, salah satu tempat wisata yang berada di Kecamatan
Batang-batang, Sumenep, Madura, Jawa Timur. Pantai ini, memiliki panorama alam indah dengan
dihiasi
pohon-pohon Cemara undang.
Keindahan pantai yang
terlupakan Pemkab ini, sempat diabadikan
dalam lirik lagu dangdut nasional yang dilantunkan oleh penyanyi Gondang, Yusyunus. Namun sayang, di balik hamparan pasir putih di Pantai Lombang, hanya tinggal kenangan saja.
Salah
satu bukti, saat ini kondisi pantai yang berada di Kecamatan Batang-Batang itu
sudah tidak terawatt lagi. Pantai yang dikelilingi pohon cemara udang itu
dipenuhi kotoran dan sampah di semua sisi. Kondisi
tersebut sangat menganggu eksotis keindahan pantai yang sempat diagungkan seperti
pantai Kute meskipun tidak seramai di Bali.
Pemerintah
Daerah dalam Visit 2018 mengusung dua destinasi wisata yang diunggulkan, yakni
Gili Labak di Kecamatan Talango, dan Giliyang di Kecamatan Dungkek, meskipun hingga saat ini belum memiliki Tanda Daftar Usaha
Pariwisata (TDUP). Sementatara pantai Lombang, tidak lagi diunggulkan.
”Sungguh
disayangkan, Pemerintah Daerah terkesan melupakan sejarah. Padahal, pantai
Lombang yang telah dikenal sejak puluhan tahun silam bahkan bisa mengharumkan
nama Sumenep kepada wisatawan,” kata H Masdawi, tokoh
masyarakat Kecamatan Batang-batang. (13/5/2017).
Padahal, kata Masdawi, Pantai Lombang merupakan destinasi telah
menyumbangkan pendapatan asli daerah (PAD) setiap tahun. Sementara Gili Labak
dan Giliyang belum bisa memberikan kontribusi kepada daerah. Mestinya, kata Masdawi, pemerintah daerah mengutamakan Pantai Lombang,
baik dari pengelolaan dan pembenahan fasilitas.
Sebab,
saat ini fasilitas seperti tempat penginapan, WC dan penyediaan air bersih
belum maksimal. Dengan begitu pengunjung merasa enggan untuk berkunjung di
Pantai yang diselimuti hamparan pasir putih itu.
”Coba
lihat saat ini, Pantai Lombang kotor, baik kotoran kuda maupun sampah siswa
makanan. Lalu kemana PAD yang didapat setiap tahun kok pengelolaannya tetap
seperti itu (tidak ada perubahan dari tahun ke tahun),” jelasnya.
Tidak
hanya itu, kualitas infrastruktu juga belum memadai dan perlu penataan ulang.
Selain itu juga perlu adanya scuriti pantai sehingga wisatawan saat berkunjung
keamanannya terjamin.
”Kalau
memang serius, pemerintah daerah membangun pantai lombang, gampang. Wong tanahnya sudah jelas milik pemkab. Kalau dibiarkan
seperti ini, mana mungkin ada wisatawan yang akan berkunjung,” ungkap pria yang
saat ini menjabat sebagai Anggota DPRD Sumenep itu.
Mantan
ketua Pokdarwis itu mengatakan, ketidakseriusan pemerintah daerah itu sangat
mencolok, buktinya saat momen hari besar seperti tahun baru, hari raya dan juga
hari besar lain tidak dipihak ketigakan.
Padahal, saat momen hari besar bisa meraup keuntungan yang cukup besar.
”Kalau
memang pemerintah daerah tidak sanggup mengelola wisata kenapa kok tidak
dipihak ketigakan semua. Kami yakin jika PAD yang ditarget pemerintah setiap
tahun hanya puluhan juta, kalau dipihakketigakan bisa ratusan juta lebih. Banyak
kok di daerah lain pengelolaan destinasi wisata dipihak ketigakan. Malah lebih
sukes dari pada Sumenep,” tandasnya.
Terpisah
Bupati Sumenep, A Busyro Karim mengatakan visit 2018 bukan akhir dari
pengelolaan wisata di Sumenep, melainkan awal dari keseriusan pemerintah daerah
untuk mengelola destinasi wisata.
”Kita harus sepakati bersama jika visit 2018
merupakan awal bukan akhir pengelolaan wisata,” katanya.
Oleh
sebab itu, semua masukan akan terus ditampung dan segala kekurangan akan terus
dibenahi termasuk sejumlah destinasi wisata yang belum mengantongi TDUP.
Apalgai gagasan pariwisata di Sumenep baru tumbuh sejak tiga tahun silam.
”NTB
sudah 30 tahun silam digagas baru bisa sukses seperti saat ini. Masukan semua
kami akan tampung,” tandasnya. (*)
Pewarta : Ahmadi
Editor : Ibnu Toha

KOMENTAR