BERITAFAJAR.co - Dalam rangka memperingati Hari lahir (Harlah) Nahdlatul Ulama (NU) Ke-94, puluhan ribu Nahdliyin Kabupaten Sumenep, Madura...
BERITAFAJAR.co - Dalam rangka memperingati Hari lahir (Harlah) Nahdlatul Ulama (NU) Ke-94, puluhan ribu Nahdliyin Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, menggelar Istighosah di halaman SMAN Batuan Sumenep (22/4/2017).
Dalam Istighosah itu dihadiri oleh para tokoh Nahdatul Ulama' (NU) dan para kiai sepuh tampak hadir di panggung utama acara. antara lain KH. Muqsith Idris (Mustasyar PCNU), KH. Hafidzi Syarbini (Wakil Rais PCNU), KH. Safraji (Ketua MUI Sumenep), KH. Panji Taufiq (Ketua Tanfidz PCNU), KH. Imam Hendriadi, KH. (Katib Syuriah PCNU), dan KH. Taufiqurrahman FM (Wakil Rais PCNU) mereka mendoakan Bangsa Negara Indonesia agar selamat dari ancaman pemahaman-pemahaman ideogis dari paham wahabi, yang ingin mengubah ideologi negara ke dalam pemerintahan khilafah.
Ketua Panitia Pelaksana Kegiatan M. Muhri, mengungkapkan NKRI akhir-akhir ini mendapat ancaman serius, karenanya tema yang diangkat dalam istighosah ini adalah 'memohon pertolongan Allah, untuk Keselamatan Bangsa dan Negara.
"Kita sengaja mengangkat tema itu agar Bangsa Indonesia tetap berada dalam wadah bernama Negara Kesatuan Ripublik Indonesia (NKRI)," kata Muhri.
Muhri menjelaskan istighosah ini di hadiri oleh 30 ribu lebih warga nahdliyin dan nahdliyat se-Kabupaten Sumenep. Rangkaian kegiatan Istighosah nantinya juga akan dilanjutkan dengan pembacaan 9 Maklumat NU untuk warga Nahdliyin, yang akan di bacakan oleh Ketua PC. NU Sumenep Bapak Pandji Taufik.
"Salah satu poin dalam maklumat itu adalah agar warga Nahdliyin tetap menjaga ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah islamiyah. Cinta tanah air dan memperkuat keberagamaan," jelas M. Muhri.
Sementara Ketua PC. NU Sumenep Bapak Pandji Taufik, mengungkapkan, acara Selain untuk mendoakan bangsa Indonesia, Peringatan Hari Lahir Nahdlatul Ulama yang ke-94 dan Istighotsah yang digelar PCNU Sumenep juga dimaksudkan untuk meneguhkan komitmen warga NU terhadap NKRI.
“Inilah wujud kepedulian NU terhadap NKRI. Kita akan mendoakan bangsa yang kita cintai ini agar tetap baik dan menjadi lebih baik,” terang KH. Panji Taufiq dalam sambutannya. (*)
Pewarta : Ahmadi
Dalam Istighosah itu dihadiri oleh para tokoh Nahdatul Ulama' (NU) dan para kiai sepuh tampak hadir di panggung utama acara. antara lain KH. Muqsith Idris (Mustasyar PCNU), KH. Hafidzi Syarbini (Wakil Rais PCNU), KH. Safraji (Ketua MUI Sumenep), KH. Panji Taufiq (Ketua Tanfidz PCNU), KH. Imam Hendriadi, KH. (Katib Syuriah PCNU), dan KH. Taufiqurrahman FM (Wakil Rais PCNU) mereka mendoakan Bangsa Negara Indonesia agar selamat dari ancaman pemahaman-pemahaman ideogis dari paham wahabi, yang ingin mengubah ideologi negara ke dalam pemerintahan khilafah.
Ketua Panitia Pelaksana Kegiatan M. Muhri, mengungkapkan NKRI akhir-akhir ini mendapat ancaman serius, karenanya tema yang diangkat dalam istighosah ini adalah 'memohon pertolongan Allah, untuk Keselamatan Bangsa dan Negara.
"Kita sengaja mengangkat tema itu agar Bangsa Indonesia tetap berada dalam wadah bernama Negara Kesatuan Ripublik Indonesia (NKRI)," kata Muhri.
Muhri menjelaskan istighosah ini di hadiri oleh 30 ribu lebih warga nahdliyin dan nahdliyat se-Kabupaten Sumenep. Rangkaian kegiatan Istighosah nantinya juga akan dilanjutkan dengan pembacaan 9 Maklumat NU untuk warga Nahdliyin, yang akan di bacakan oleh Ketua PC. NU Sumenep Bapak Pandji Taufik.
"Salah satu poin dalam maklumat itu adalah agar warga Nahdliyin tetap menjaga ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah islamiyah. Cinta tanah air dan memperkuat keberagamaan," jelas M. Muhri.
Sementara Ketua PC. NU Sumenep Bapak Pandji Taufik, mengungkapkan, acara Selain untuk mendoakan bangsa Indonesia, Peringatan Hari Lahir Nahdlatul Ulama yang ke-94 dan Istighotsah yang digelar PCNU Sumenep juga dimaksudkan untuk meneguhkan komitmen warga NU terhadap NKRI.
“Inilah wujud kepedulian NU terhadap NKRI. Kita akan mendoakan bangsa yang kita cintai ini agar tetap baik dan menjadi lebih baik,” terang KH. Panji Taufiq dalam sambutannya. (*)
Pewarta : Ahmadi
KOMENTAR