BERITAFAJAR - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep, Madura, Jawa Timur gagal untuk menjadikan bandar udara (bandara) Trunojoyo sebagai ban...
BERITAFAJAR - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep, Madura, Jawa Timur gagal untuk menjadikan bandar udara (bandara) Trunojoyo sebagai bandara komersil tahun ini. Karena, Hingga akhir Maret 2017 banyak hambatan yang harus diselesaikan dan membutuhkan waktu lama.
Sebelumnya, Pemerintah Daerah menargetkan awal 2017 bandara satu-satunya di Pulau Madura ini menjadi bandara komersil yang bisa disinggahi pesawat dengan kapasitas diatas 50 penumpang.
Mengingat selesainya pekerjaan perpanjangam landasan pacu pesawat yang sebelumnya 1.130 meter x 23 meter ditambah menjadi 1.600 meter x 30 meter
Salah satu hambatan yang memerlukan penyelesaian dalam waktu dekat adalah pemangkasan gedung lantai dua SMA PGRI yang menjadi obstacle penerbangan pesawat di Bandara Trunojoyo.
"Tahun lalu memang pernah dianggarkan namun tidak terpakai, nah tahun ini tidak ada anggaran untuk pemangkasan," kata, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Sumenep, Sustono, (1/4/2017).
Objek penghambat itu berupa bangunan SMA PGRI Sumenep yang jaraknya tinggal sekitar 230 meter dari ujung landasan pacu pesawat. Sehingga keberadaan gedung sekolah tersebut merupakan kewajiban untuk dipindah lokasinya.
Sesuai estimasi kebutuhan untuk pemangkasan lantai dua gedung SMA PGRI itu sekitar Rp 150-200 juta. Besaran kebutuhan nanti akan diusulkan pada pembahasan perubahan APBD tahun 2017.
Sementara untuk pemindahan gedung sekolah ditaksir membutuhkan anggaran maksimal hingga Rp4,9 miliar. Anggaran itu dipergunakan untuk pengadaan lahan, pembangunan gedung dan pengadaan tumbuh-tumbuhan.
Selain itu, hingga saat ini belum satupun maskapai yang siap beroperasi meskipum pemerintah pusat telah melakukan lobi-lobi dengan maskapai. Saat ini terdapat tiga maskapai yang saat ini sedang digodok untuk bisa melayani rute Sumenep, yakni Wings Air, Garuda dan Castar.
"Dirjen Perhubungan Udara masih melakukan pendekatan," jelasnya.
Diketahui, Sejak tahun 2010 Bandara Trunojoyo menjadi lokasi latih terbang pesawat oleh siswa sejumlah sekolah penerbang, kemudian pada 2015 hingga sekarang, Bandara Trunojoyo juga menjadi bagian dari jalur penerbangan perintis. (*)
Pewarta : Ahmadi
Editor : Ibnu Toha
Sebelumnya, Pemerintah Daerah menargetkan awal 2017 bandara satu-satunya di Pulau Madura ini menjadi bandara komersil yang bisa disinggahi pesawat dengan kapasitas diatas 50 penumpang.
Mengingat selesainya pekerjaan perpanjangam landasan pacu pesawat yang sebelumnya 1.130 meter x 23 meter ditambah menjadi 1.600 meter x 30 meter
Salah satu hambatan yang memerlukan penyelesaian dalam waktu dekat adalah pemangkasan gedung lantai dua SMA PGRI yang menjadi obstacle penerbangan pesawat di Bandara Trunojoyo.
"Tahun lalu memang pernah dianggarkan namun tidak terpakai, nah tahun ini tidak ada anggaran untuk pemangkasan," kata, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Sumenep, Sustono, (1/4/2017).
Objek penghambat itu berupa bangunan SMA PGRI Sumenep yang jaraknya tinggal sekitar 230 meter dari ujung landasan pacu pesawat. Sehingga keberadaan gedung sekolah tersebut merupakan kewajiban untuk dipindah lokasinya.
Sesuai estimasi kebutuhan untuk pemangkasan lantai dua gedung SMA PGRI itu sekitar Rp 150-200 juta. Besaran kebutuhan nanti akan diusulkan pada pembahasan perubahan APBD tahun 2017.
Sementara untuk pemindahan gedung sekolah ditaksir membutuhkan anggaran maksimal hingga Rp4,9 miliar. Anggaran itu dipergunakan untuk pengadaan lahan, pembangunan gedung dan pengadaan tumbuh-tumbuhan.
Selain itu, hingga saat ini belum satupun maskapai yang siap beroperasi meskipum pemerintah pusat telah melakukan lobi-lobi dengan maskapai. Saat ini terdapat tiga maskapai yang saat ini sedang digodok untuk bisa melayani rute Sumenep, yakni Wings Air, Garuda dan Castar.
"Dirjen Perhubungan Udara masih melakukan pendekatan," jelasnya.
Diketahui, Sejak tahun 2010 Bandara Trunojoyo menjadi lokasi latih terbang pesawat oleh siswa sejumlah sekolah penerbang, kemudian pada 2015 hingga sekarang, Bandara Trunojoyo juga menjadi bagian dari jalur penerbangan perintis. (*)
Pewarta : Ahmadi
Editor : Ibnu Toha
KOMENTAR